
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga berganti tahun. Rumah tangga Rani dan Daniel tampak bahagia. Wajar jika ada konflik kecil itu adalah bumbu dalam rumah tangga. Namun mereka cepat bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Kini usia Ainas sudah berumur 3 tahun, tubuh montok dan menggemaskan. Sementara Icha sudah kelas dua SMP.
"Kak Icha...huaa...mana mainan aku... Umiii... kak Icha jahaaatt..." huaaa. Ainas meraung-raung karena sedang asik bermain di kamarnya. Icha datang usil mengganggunya. Pemandangan itu hampir setiap hari terjadi. Icha sebenarnya sangat menyayangi adiknya. Namun jika berhasil menggoda adiknya rasanya gemas sendiri.
"Ini punya kakak tau! wle!" tukas Icha yang masih mengenakan seragam SMP tampak melet-melet menggoda adiknya, menyembunyikan mainan adiknya kebelakang badanya.
"Umiii... huaaa..." Ainas kembali berteriak.
"Astagfirlullah...ada apa kakak..." Daniel berlari menghampiri kedua anaknya.
"Papa... kakak jahat!" adu Ainas kepada Papanya.
"Kakak, kembalikan mainan adiknya!" tukas Daniel. Daniel tampak kebingungan di berikan amanah Rani untuk menjaga Ainas. Baby sitter nya sedang pulang kampung. Sedangkan Rani belanja bersama Simbok kepasar. Sebab nanti malam akan ada pertemuan keluarga di rumah Mama Nadyn.
"Icha, kamu kan sudah besar. Kenapa sih nggak usah mengganggu adiknya?! Daniel menasehati Icha serius.
"Iya, iya. Pa" sahut Icha menunduk takut melihat tatapan tajam Papanya.
"Ya sudah... ganti baju sana, terus istirahat. Nanti malam kan mau kerumah Uti" tutur Daniel.
"Iya Pa" sahut Icha kemudian masuk kedalam kamarnya. Daniel geleng-geleng kepala menatap Icha yang sedang masuk kedalam kamar hingga menghilang di balik pintu.
Daniel kemudian mendekati Ainas. "Papa... kakak kenapa sih? suka jahat" adu Ainas dengan bahasa cadelnya.
"Kakak tuh bukanya jahat, sayang... makanya lain kali kalau main kakaknya di ajak ya" Daniel menenangkan.
"Iya Pa" sahut Ainas.
Daniel menatap Ainas yang masih asyik menyusun (APE) Alat Permainan Edukatif.
"Ya Allah... berarti kamu setiap hari begini istriku... aku salut kepadamu. Kamu pasti setiap hari menghadapi kedua anak kita begini. Tetapi, kamu tidak pernah mengeluh sedikit pun." monolog Daniel dalam hati. Padahal Daniel baru momong belum ada satu jam sudah di buat pusing.
*******
__ADS_1
Sore harinya selepas sholat ashar semua sudah berkumpul di rumah Mama Nadyn.
Daniel bersama Deni, dan Papa Nano sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Sedangkan Rani, Siska, Mama Nadyn sedang menemani anak-anak bermain setelah selesai menyiapkan makan malam tadi tadi.
"Jangan... ini mainan aku!" Farhan merebut mainannya yang di pegang Einas. Farhan adalah anak Deni yang umurnya hanya beda dua bulan dengan Einas.
"Ini punya aku!" seru Ainas.
"Jangan.... ini punyaku!" Farhan merebut mainannya. Namun pegangan Einas cukup kuat. Sehingga terjadilah tarik menarik.
"Mama...huaaa... mainan Farhan di Ambil Einas" huaaa..." Farhan menangis histeris.
"Umiii..." Farhan nakal!" huaaa...Einas tak kalah histeris.
Kedua anak itupun tidak ada yang mau mengalah.
"Eeee...mainya sama-sama sayang... nggak boleh berebut" ucap Rani kemudian menggendong Ainas.
"Farhan nggak boleh pelit, mainya sama-sama, nanti kalau main di rumah kak Einas nggak di pinjemin mainan bagaimana coba?" terang Siska.
Kedua bocah itupun bermain kembali. Sedangkan Icha setelah masuk kerumah tadi langsung ke kamarnya yang sudah lama tidak ia tiduri.
Malam harinya setelah makan malam Ainas dan Farhan sudah tidur.
Papa Nano segera mengumpulkan anak dan ART nya.
"Anak-anakku sekalian, saat ini Papa dan Mama sudah tua, dan sudah saatnya Papa menghibahkan harta Papa dan Mama kepada kalian"
"Tidak ada yang boleh memotong pembicaraan sebelum Papa selesai berbicara"
"Setelah Papa sudah selesai berbicara kalian baru boleh usul, setuju..." Papa Nano bertutur.
"Setujuu." jawab semuanya.
__ADS_1
"Papa tidak akan membedakan kepada kamu Daniel sebagai anak kandungku"
"Dan kamu Deni sebagai anak angkatku. Kalaupun ada perbedaan ini karena Papa punya pertimbangan lain."
"Dan juga para menantuku Rani dan Siska jangan ada iri dengki di antara kalian di kemudian hari jika Papa memberikan harta ini mungkin tidak sama karena Papa dan Mama sudah memikirkan sejak dulu."
"Geheem" Papa berdehem sebelum mulai berbicara.
"Induk gudang yang berada di Tangerang Papa berikan kepada Daniel, agar dekat dengan gudang milik Daniel sendiri."
"Induk gudang yang berada di Jakarta selatan Papa serahkan kepada Deni, dalam waktu dekat Daniel harus merekrut karyawan baru untuk menggantikan Deni bekerja di kantor mu. Agar Deni fokus memulai meneruskan dan mengembangkan usaha Papa."
"Induk gudang yang berada di Jakarta Timur Papa serahkan kepada Farhan. Sebelum usia 18 tahun Deni yang mengelola."
"Cabang gudang yang berada di Jawa timur Papa serahkan kepada Einas, sebelum usia 18 tahun Daniel yang mengelola agar dekat dengan gudang Daniel sendiri yang berada di sana"
"Cabang gudang yang berada di Bandung Papa serahkan kepada cucu pertama yaitu Icha seperti yang Papa utarakan di atas sebelum 18 tahun Daniel yang mengelola.
"Gudang yang berada di Yogyakarta Papa berikan kepada Rani"
"Dan Papa juga sudah membebaskan tanah sekitar restoran DUKRENGTENG untuk memperluas usahanya."
"Dan untuk Siska, Papa menghibahkan tanah beserta rumah ini, nilanya sama dengan harga tanah yang di sekitar restoran Rani"
"Untuk Siska, jangan merasa iri kepada Rani karena mendapat gudang yang berada di Yogyakarta"
"Sebab, Papa dan Mama sudah ingin memberikan gudang itu ketika masih menjadi pengasuh Icha."
"Dan pesan Papa, Deni dan Siska tidak boleh pindah dari rumah ini selagi Papa dan Mama Masih hidup."
"Untuk Pak Toto beserta Istri Bi Inah, karena kalian sudah setia mengabdikan diri kepada kami sejak remaja dulu tanah yang di simpruk seluas 500 meter untuk kalian."
"Dan Bi Sari saya memberikan deposito 100 juta untuk kamu membuka usaha ketika kamu sudah menikah nanti."
__ADS_1
"Papa kira cukup sekian tidak ada yang boleh membantah maupun merubah aturan yang sudah Papa dan Mama buat."
"Cukup sekian dan terimakasih."