
Bambang menyalakan mobilnya dan meninggalkan restoran DUKRENGTENG. 15 menit kemudian sampai di rumah.
Eneng turun dari mobil lebih dulu, berniat ingin membuka pagar. Namun, belum sempat mendorong, tangan kekar mendahului nya.
"Sudah berapa kali, aku bilang! jangan buka pintu gerbang. "Tangan lembutmu nanti lecet" ucap Bambang sambil mendorong pintu gerbang sedangkan Ibu sudah masuk kedalam.
"Sudah berapa kali saya bilang! jangan berlebihan, Tuan!" sahut Eneng menirukan kata-kata Bambang. Kemudian memasukkan setengah badanya kedalam mobil ambil pakaian entah berapa kantong.
"Sini, aku yang bawa, berat soalnya" titah Bambang hendak mengambil tengtengan dari tangan Eneng.
"Saya bisa sendiri!" ujarnya ketus.
"Jangan keras kepala, aku bilang" Bambang menoel hidung eneng dengan telunjuk. Mengulas senyum.
"Jangan lancang! saya bilang!" sahut Eneng menepis tangan Bambang sambil berlalu meninggalkan Bambang dengan susah payah mengangkat kantong plastik.
Bambang hanya menggeleng, membiarkan Eneng masuk kedalam. Bambang segera memasukkan mobilnya kedalam garasi.
Eneng masuk kedalam kamar merapikan pakaiannya sambil mencoba satu persatu.
Ia berdiri di depan cermin berputar-putar. "Wow luar biasa, baju pilihan Ibu nyaman semua di pakai" gumamnya lirih.
Ia pun mencuci gaun satu persatu dengan menguceknya khawatir dress nya rusak. Selesai mencuci. Ia naik ke loteng dan menjemurnya.
Ia memandangi lima dress berwarna warni yang digantung di jemuran tanpa memeras. Dan beberapa potong baju muslim.
"Mimpikah aku? bisa masuk kedalam keluarga yang hangat semua menyayangi aku."
"Tetapi...mengapa? aku belum bisa melupakan rasa sakit di hatiku? bantulah ya Allah...hilangkan dendam di hatiku" ia terus menerus merancau.
*********
Di balik terali besi. Seorang gadis duduk bersandar di tembok. Wajah klimisnya kini menjadi kusam. Karena tidak di rawat lagi. Saat ini tepat satu tahun ia mendekam di dalam penjara.
Ia telungkup di kedua lututnya meratapi nasibnya kini. Ia di jerat dalam Undang-Undang no 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Yang saat ini di kenal (UU ITE ).
Ia di jatuhi hukuman 4 tahun penjara. Ia tidak dapat menyewa pengacara. Sebab, keadaan Papa Gunawan dan Mama Laura saat itu sedang kesulitan ekonomi. Mungkin, ini hukuman bagi keluarganya atas sifat buruknya ketika masih jaya dulu.
Kelenteng-Kelenteng. Penjaga penjara membuka gembok.
"Anda di bebaskan Nona" kata penjaga penjara sambil berjalan mendekat.
"Sa- saya di bebaskan pak" sahutnya tidak percaya. Ia mencubit lengannya sendiri. "Mimpikah? tanyanya dalam hati.
Ia terbukti dengan sengaja mendistribusikan foto-foto tanpa hak. Mencemarkan nama baik. Di Facebook, Twitter, Youtube dan Instagram. Melakukan penghinaan, fitnah yang kejam, setahun yang lalu.
Rani dan Bambang yang paling dirugikan.
__ADS_1
"Tapi... siapa yang membebaskan saya Pak?" tanyanya kemudian. Pandangannya tertuju kepada pria bule.
Pria bule tersebut, berasal dari Belanda yang tak lain sahabat yang sangat mencintainya berdiri tegap di luar terali besi.
(Hay, how are you?" ) tanya pria tersebut.
"Ronald?" Sherly melebarkan matanya. Kemudian lari keluar dan menghambur ke pelukanya. (I' m great, thanks" ) sahut Sherly masih betah dalam pelukan Ronald.
("Are you weell? ") tanya Ronal mengurai pelukanya dan menatap wanita di depanya.
("I feel a little bit sick today) sahut Sherly sambil memegangi kepalanya.
Ronald berjalan bersama Sherly meninggalkan penjara. Tanganya memeluk pundak wanita yang sangat di cintai. Walaupun cintanya tidak di sambut.
Sampai parkiran. Mama dan Papa Sherly sudah menunggu.
"Papa...Mama.." pekik Sherly dari kejauhan.
"Kamu harus termakasih sayang...Ronald yang sudah membebaskan kamu" titah Mama Laura.
"Oh, jadi Ronald yang sudah membebaskan aku Pa?"
"Iya, kalau bukan dia darimana Papa bisa mendapatkan uang?" jawab Papa.
"Thanks Ronald" Sherly mencium bibir Ronal.
Mereka pun masuk kedalam mobil Ronald, dan meluncur menuju kontrakan Mama Laura.
******
"Iya, Bu..." sahut Eneng berjalan cepat dari dapur menemui Ibu Widi di meja makan.
"Kamu nanti pulang, antar kebaya ini buat Ibumu ya..." Ibu menyerahkan kebaya yang akan di gunakan hari minggu besok.
"Ya Allah... Ibu... saya jadi nggak enak, merepotkan terus" ujar Eneng.
"Nggak ada yang repot Neng" sahut Ibu. "Nanti kamu berangkat bareng Wibi, sekalian ke Showroom ya"
"Baik Bu"
"Sekarang kamu siap-siap gih" titah Ibu.
"Iya, Bu"
Eneng segera ambil handuk kemudian mandi di kamar mandi dekat dapur. Saat ini, Ibu Widi tidak mengizinkan Eneng untuk beberes rumah. Karena, sudah ada gantinya. Bi Encum yang di bawa dari kampung Bi Ipah.
Eneng mengenakan baju muslim setelan yang di bawa dari butik kemarin. Mengenakan bedak tipis dan perona bibir yang natural.
__ADS_1
Setelah melihat pantulan dari kaca terlihat rapi. Ia keluar dari kamar dan menemui Bambang yang sudah menunggu di ruang keluarga. Sedangkan Dira, sudah di jemput Topan mengendari sepeda motor miliknya.
"Sudah siap?" tanya Bambang pandangannya fokus ke wajah wanita yang di cintainya kini.
"Sudah. Ayok" ucap Eneng melewati Bambang. Kemudian menuju mobil yang sudah di parkir di halaman.
Bambang menyusul kemudian menyalakan mobilnya.
"Nanti mampir kepasar tradisional ya" titah Bambang.
Eneng melirik pria di sampingnya bingung. "Mau ngapain kepasar tradisional?"
"Ya, kalau kepasar tuh belanja Lid" sahut Bambang enteng. "Nanti beli jengkol, terong, ikan asin sama sayur asam, terus.. entar kamu masak" "Nanti malam, aku makan di rumahmu sekalian jemput ya." tutur Bambang.
"Memeng Tuan nggak jijik gitu? kepasar?"
"Ya enggak lah, Lid"
"Biasanya kalau orang kaya kan, jijik, kepasar"
"Ya, kalau orang kaya Lid. Tetapi aku bukan orang kaya" Bambang merendah.
"Siapa sih, yang nggak tahu, Bambang Wibisono, pengusaha showroom yang sukses" jawab Eneng tidak mau kalah.
"Terserah kamu Lid" Bambang mengalah.
"Sejak kapan? Tuan suka jengkol?" tanya Eneng biasanya orang kaya tidak suka jengkol.
"Sejak makan di rumah kamu. Jujur, dari kecil aku belum pernah tahu rasanya jengkol. Eh, setelah mencoba ternyata enak" tutur Bambang. Memang. Bambang orang yang paling gampang masalah makanan apa yang di masak asalkan tidak beracun pasti di makan.
"Sudah sampai pasar, Tuan tunggu di sini saja" kata Eneng.
"Aku ikut saja Lid" Bambang ingin turun tetapi, Eneng menahan tangan Bambang memegangnya erat.
"Nanti pakaian Tuan bau, kan mau kerja" ujar Eneng.
"Iya calon istriku..." Bambang tersenyum senang. Tanganya masih dipegang Eneng. Eneng seketika melepaskan peganganya baru sadar kalau dia memegangi tangan Bambang. Sebab, Bambang tersenyum memperhatikan tanganya.
"Saya kedalam dulu" Eneng hendak melangkah. "Eh tunggu Lid"
"Apa lagi Tuan... nanti Tuan kesiangan loh"
"Ini uangnya" Bambang menyodorkan uang cash.
"Nggak usah, saya punya sendiri kok" Eneng maju dua langkah.
"Ya sudah. Kalau nggak mau ambil uangnya aku ikut turun" acam Bambang. Mau tidak mau Eneng pun mengambil uangnya. Dan melangkah masuk kedalam pasar.
__ADS_1
"Eh Bang? kok Abang ada di sini?" tanya seorang gadis tiba-tiba berdiri di samping mobil.
..."Siapa hayo??...