ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 43


__ADS_3

Hari sudah sore Topan beranjak pulang kerumah Rani. Jalanan sangat padat hingga jam tujuh malam Topan baru sampai.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumusallam..."


"Bagaimana, kamu di terima kerja Pan?" Tanya Rani. Yang sedang ngobrol dengan karyawannya.


Ke enam karyawan Rani saat ini sudah pulang bersama. Tentu bergantian dengan shift malam.


"Alhamdulillah Ran, aku di terima, malah hari ini di minta langsung kerja"


"Waah pastinya bos kamu baik ya Pan, aku jadi ingin kenal sama beliau, boss mu laki-laki atau perempuan pan?" tanya Rani.


"Boss aku laki-laki Ran" Jawab Topan Singkat khawatir keceplosan.


"Kalau sama Ibunya aku sudah sangat akrab, karena kami menjalin hubungan kerjasama." Tutur Rani.


"Oh gitu ya Ran?" Tanya Topan.


Rani lalu mengaguk.


"Alhamdulillah Pan, aku ikut senang" Rani menyalami Topan. Weny, Nena dan ke empat karyawan Rani ikut memberikan selamat.


"Syukurlah Pan aku ikut senang" ucap Weny.


"Selamat Pan, ditunggu traktir bulan depan" Sloroh Nena.


"Seharusnya kamu yang traktir Nen kamu kan sudah naik jabatan" sahut Topan. "Dan kamu Wen, begitu masuk kerja, sudah dapat posisi, seharusnya traktir kita dong!"


"Ya nanti lah! kalau sudah gajian, kita kan sama-sama baru datang dari kampung, pasti bokek" Pungkas Weny.


"Memang kalian pada mau di traktir apa, kalau hanya makanan, tidak usah bingung, nanti aku pesan karyawan yang lain, supaya di antar" Tutur Rani.


"Oh nggak! kita hanya guyon Ran" Sahut mereka cepat, mereka merasa tidak enak, sudah di kasih kerjaan, tempat tinggal gratis, makan gratis. Candaan mereka di tanggapi serius oleh Rani.


Tidak lama kemudian jasa pengiriman makanan yang di pesan dari restoran milik Rani sudah sampai.


"Ya Allah Ran, kita jadi nggak enak nih" Tutur Topan.


"Iya, Rani ih! kita kan sebelum pulang sudah makan" Sahut Weny dan Nena.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan kita sebaiknya makan dulu" ujar Rani.


Mereka makan di selingi obrolan kecil.


"Nen kamu kan di sini sudah lama, barang kali tahu dimana ada konstan kosong?" Tanya Topan sekarang sudah dapat kerja tidak mungkin Topan terlalu lama tinggal di rumah Rani.


"Oh ada! nanti aku kasih alamat datengin aja kesana, kost Bu Zubaidah" Nena membuka handphone dan mengirimkan alamat kots ke nomor telepon Topan.


Rani bersama temanya ngobrol hingga larut malam kemudiam tidur.


*******


Seminggu berlalu, dan tibalah saatnya malam sabtu ini acara ulang tahun PT Daftex akan di laksanakan.


Daniel PoV.


Malam ini aku di undang secara pribadi oleh Tuan Richard acara ultah perusahaan miliknya. Seharusnya undangan ini di hadiri bersama istriku. Sudah sejak lama Istri Tuan Richard ingin berkenalan dengan Rani.


Entah alasan apa yang akan aku berikan kepadanya. Karena aku tidak bisa menghadirkan Rani yang sudah sekian kali Istri Richard ingin bertemu.


"Puk"

__ADS_1


"Aduh, Papa kaget sayang" Icha menepuk pundakku.


"Katanya mau pergi, kok Papa belum siap, jam berapa memang?" Tanya anakku.


"Loh Papa sudah ganteng begini kok di bilang belum siap?" Jawabku tersenyum seraya memamerkan tubuhku.


"Biasanya kan Papa pakai jas semakin ganteng" Katanya sambil bergelayut manja di pundak.


"Hehehe...kamu lucu dech! ini kan acara santai sayang...bukan acara rapat"


"Yah Papa..." "Mana Icha tahu, kalau hanya acara santai" Sahutnya.


"Kalau bukan acara santai, mana mungkin Papa ngajak kamu ikut sayangku" aku pencet hidungnya pelan.


"Ihh, Papa jahil tangannya" katanya cemberut.


"Udah ah, kita berangkat yuk, keburu malam nanti" kataku Lalu aku tarik pelan lengannya.


"Tunggu Pah, Icha pamit Uti dulu ya" Icha berlari kecil menuju kamar Mama. Aku bergegas menuju garasi dan memanaskan Mobil.


Sebenarnya Pak Toto bisa mengantar aku. Tetapi aku hanya ingin berdua saja dengan anakku.


"Papa, Icha sudah siap" katanya seraya membuka pintu mobil.


"Okay...Pak sopir sudah siap..." Kataku.


Setelah Icha naik, aku menjalankan mobilku. Tidak lama kemudian sampai di depan hotel dimana tahun yang lalu acara seperti ini diselenggarakan.


"Kita sudah sampai tujuan sayang" aku membukakan pintu mobil untuk anakku.


Aku menatap air mancur di taman ini, memoriku kembali mengingat. Setahun yang lalu ketika aku ribut besar dengan istriku. Hingga aku mengeluarkan kata-kata yang melukai hatinya.


Jika sudah seperti ini hanyalah penyesalan yang aku rasakan.


"Iya ayo sayang" aku masuk ke lobby hotel di sana aku bertemu Reno asisten pribadi Tuan Richard. Yang tak lain mantan pacar istriku.


"Bang Daniel apa kabar" Reno tersenyum lebar dan menjabat tanganku.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?" Tanyaku. Setelah kejadian aku menghajar pria di depanku ini, aku merasa bersalah. Ternya Reno anak yang baik. Setelah kejadian itu kami berhubungan selayaknya teman.


"Saya baik kok Bang!" Jawabnya singkat.


"Hai, cantik, kamu sudah besar sekarang ya" Ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Icha.


"Iya Om" Om kesini sama Tante Nena enggak?"


"Hehehe kamu kangen sama Tante Nena ya, Tantenya kerja cantik."


"Iya Om, dulu kalau main ke kost Tante Nena, suka lihat burung di rumah Bu Zubaidah."


"Masa sih Om, malam-malam gini kok Tante Nena masih kerja?"


"Kalau kerjanya di rumah makan atau di pusat pembelanjaan, kerjanya nggak tentu cantik, kadang siang, kadang sore, bahkan malam seperti sekarang ini."


"Oh gitu ya Om"


Aku perhatikan Reno sedang asyik berbincang-bincang dengan Icha.


"Kamu sendiri belum mau menikah sama Nena?"Tanyaku


"Sebenarnya sudah berapa kali saya ajak menikah bang, tetapi dia belum mau, masih alasan terus" Tuturnya.


"Yah, kalau belum mau jangan di paksa, segala sesuatu yang di paksakan, kadang hasilnya negatif." Kataku.

__ADS_1


"Iya bang, sekarang ke depan panggung yuk, acaranya akan segera di mulai"


Menasehati seseorang memang paling mudah. Tetapi justeru kehidupan aku sendiri bagai telur di ujung tanduk.


"Silahkan duduk bang, saya bekerja lagi ya" katanya sambil berlalu. Aku berputar menyapa kolega-kolega, sambil memperkenalkan anakku. Lagi-lagi mereka bertanya.


"Istrinya kok tidak di ajak?" Aku tersenyum memaksakan.


Aku menatap keatas panggung melihat penyanyi, dan para sahabat turut memeriahkan acara Tuan Richard. Aku ingat kembali masalalu ketika aku turut bernyanyi dan larut dalam suasana menggembirakan. Hingga aku melupakan istriku merasa di abaikan. Aku hanya bisa menyesali.


"Pak Daniel, ayo dicicipi hidanganya" Tuan Richard tiba-tiba berdiri di sampingku.


"Oh Terimakasih Tuan, kenalkan ini anak saya." Aku perkenalan Icha kepada sang pemilik acara.


"Oh cantiknya...siapa namanya?" Icha Om" Jawab anakku. Aku segera menarik Icha pelan menjauh dari Tuan Richard dari pada menanyakan panjang lebar tentang Rani.


Aku duduk di kursi paling belakang sambil membawa kotak makan malam.


Aku menatap kotak makan malam. Entah mengapa aku membaca nama pemilik catering yang tidak biasa aku lakukan.


Warung makan LARASATI DUKRENGTENG


Mataku terbelalak, oh benarkah dia? Akankah rembulan itu bisa aku raih?


Flashbach on


Ketika itu Rani datang kekantor membawakan makan siang untuk Daniel.


"Mas makan siang belum?" Tanya Rani sambil membuka rantang.


"Belum! kamu membawa apa yank?" Tanya Daniel


"Ini aku membawa makan siang untuk Mas, makan yuk."


Daniel kemudian menghentikan pekerjaannya dan duduk disamping Istrinya seraya mengelus ujung kepala Rani.


"Ini buat kita, terus yang ini buat Mbak Siska sama Mas Deni" Tutur Rani sambil memilah-milah rantang.


"Kamu tuh, yank! manggil Deni kok pakai Mas-Mas!" Protes Daniel posesif.


"Ya kan dia lebih tua dari aku Mas, masa nggak boleh panggil Mas sih."


"Ya sudah, mulai sekarang panggilan buat aku harus di ganti, biar beda dengan yang lain." Usul Daniel menggoda Istrinya.


"Ya sudah! mulai sekarang aku panggil Mas, DUKRENGTENG.


Daniel menatap Rani dengan dahi berkerut. "Apa tuh DUKRENGTENG?"


DUDA KEREN GANTENG." Hehehe Rani terkekeh.


Daniel tersenyum lebar, rasanya senang di puji oleh Istrinya.


Flashbach off.


"Icha Ikut Papa yuk"


"Mau kemana Pa, acaranya kan belum selesai?"


"Sudah ayo, Nasi boxnya di bawa saja di makan di mobil ya"


"Okay Papa."


******

__ADS_1


"Hallo! reader yang baik hati dan tidak sombong. Siapa kemarin yang penasaran dengan DUKRENGTENG nggak penasaran kan? Ayo dong Comment biar budhe semangat. Yang bisa menilai DUKRENGTENG layak masuk KBBI hanya author Aninda Peto. 🤣🤣🤣.


__ADS_2