ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 121


__ADS_3

Memiliki hubungan harmonis pasti menjadi idaman para remaja. "Eh tidak hanya remaja deng, buktinya yang tua pun nggak mau kalah."


Apalagi sampai bisa langgeng sampai kakek nenek "semoga reader pun demikian."


Sebelum menikah, sepasang kekasih akan melalui proses lamaran. Momen yang selalu di tunggu-tunggu. Bambang berdiri di atas panggung dengan hiasan bunga-bunga dan balon di sekeling pangung. Membuat acara lamaran pun semakin romastis.


MC pun sudah siap dengan mikrofon di tangan.


Bambang menggunakan kemeja biru muda. Dengan jas berwarna hitam semakin tampan dan berwibawa.


Kemudian Lidia, menggunakan gaun hijaber panjang menjuntai hingga menutup seluruh kaki, terlilit tali di pinggang semakin menyempurnakan penampilanya. Warnanya senada dengan kemeja calon suaminya.


Melangkah dengan anggun di dampingin Rani menuju panggung.


Tepuk tangan meriah di bawah pangung menyambut kedatangan calon mempelai wanita.


Bambang pun tidak melepas pandangannya. Pasalnya calon istrinya menjadi semakin cantik.


"Hais! dijaga pandangannya! belum halal tau! baru tunangan!" kelakar Daniel sambil berbisik.


Bambang segera mengalihkan pandangannya.


Mungkin ini tergolong acara lamaran yang aneh menurut reader sebab, bukan di lakukan di rumah calon mempelai wanita. "Budhe ngawur tapi anggap saja supaya berbeda."


MC membuka acara lamaran. Mengucapkan selamat datang kepada rombongan dan mempersilah keluarga calon mempelai laki-laki untuk mengutarakan maksud dan tujuan.


Daniel mewakili adik yang baru jadian tadi malam. Memberi sambutan pengantar dari calon pengantin pria. Menyampaikan maksud kepada pihak calon mempelai wanita. Bisa di katakan inti acara lamaran.


Encang Rohim yang mewaki calon mempelai wanita menerima lamaran tersebut.


Setelah lamaran di terima calon mempelai pria memberikan serahan kepada mempelai wanita.


Kemudian dilakukan secara simbolis. Ibu Widi menyelipkan cincin di jari manis Lidia. Begitu juga sebaliknya Enyak Fatimah menyelipkan cincin di jari Bambang.


Serangkaian acara demi acara inti telah selesai. Tinggal di lakukan sesi santai ramah tamah kedua belah pihak.


Kemudian dilakukan sesi foto foto. Foto grafer memberi pengarahan kepada sepasang calon mempelai.


Bambang tersenyum menoleh memperlihatkan cincinya kepada Lidia. Lidia pun sebaliknya.


Yang kedua, Bambang berdiri membelakangi foto grafer tersenyum manis melirik Lidia. Sementara Lidia memegangi lengan Bambang dan menghadap sang foto grafer.


Acara foto pun selesai tamu undangan menikmati hidangan makan siang.


Bu Widi dan Pak Siswo menyapa tamu undangan sekaligus memperkenalkan Pak Siswo sebagai suaminya.


"Jeung Laura, apa kabar?" tanya Ibu Widi kemudian saling berpelukan. "Kabar baik" sahut Mama Laura.


"Kenalkan ini suamiku" ucap Ibu Widi tersipu.


"Syukurlah jeung Widi, semoga samawa, kenapa tidak mengundang kami?" tanya Mama Laura menatap Pak Sis dari atas sampai bawah.


"Hihihi... sudah tua jeung, cukup panggil KUA saja" jawabnya cekikikan sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Ibu Widi pun clingak clinguk mencari seseorang. "kemana nak Sherly?" tanyanya, karena dari tadi tidak melihat Sherly.


"Kurang tahu jeung, mungkin di luar" jawabnya. "Oh, silahkan dicicipi hidanganya jeung" ucap Ibu Widi kemudian minta Izin menemui tamu yang lain.


Pak Siswo menjabat tangan Papa Gunawan. "Perkenalan saya Siswoyo "ucapnya.


"Senang berkenalan dengan Pak Siswo, nama saya Gunaman." ucap Gunawan. Kedua pria yang seusia itupun akhirnya berbincang akrab.


Papa Gunawan yang terkenal arogan itupun bisa bersikap santun. Entah memang sudah berubah atau karena mengimbangi Pak Siswo yang kharismatik? hanya Gunawan yang tahu.


Sementara kedua pasangan yang sudah resmi bertunangan masih berada di panggung.


"Lid" panggil Bambang kepada Lidia dari pagi diantara keduanya belum saling sapa.


"Apa?" sahut Lidia tampak sedang memutar-mutar cincin di jarinya.


"Sebulan lagi kita akan menikah, apakah masih ada keraguan di hati kamu?" tanya Bambang skeptis.


Eneng menggeleng cepat.


"Benarkah?" Bambang menatap Lidia berbinar bergeser lebih dekat. Kemudian berjongkok. Meraih tangan Lidia yang terselip cicin kemudian mengecupnya.


"Terimakasih, itu artinya kamu sudah memaafkan aku?" tanya Bambang kemudian.


"Aku sudah memaafkan Mas" sahut Lidia kemudian membalas senyuman Bambang. Yang biasa Lidia sembunyikan senyum itu. Namun, kini merekah di bibirnya.


Bambang tersenyum lega sudah lama Bambang ingin mendengar kata maaf dari Lidia dan di hari bahagia ini pun ia mendengarnya.


"Bagaimana mau jalan? lihat saja ini?" Lidia mempelihatkan gaun panjangnya tidak bisa melangkah dengan bebas.


"Aku Ambilkan ya, mau makan apa?"


"Apa saja dech, samain sama Mas" sahutnya. Bambang ingin beranjak tetapi mengurungkan niatnya sebab wanita se xi tiba tiba mendekat.


"Hai" sapa Sherly menyungginggan bibir mendekati Lidia.


Lidia membalas senyum ramah belum tahu siapa itu sherly.


Tanpa menjawab Bambang mundur dua langkah ke posisi semula. Bersiap jika wanita binal ini akan berbuat jahat.


"Selamat ya, sayang... pria ini akan menjadi suami kamu"


"Tetapi... apakah kamu tahu? jika calon suami kamu ini mencintai wanita lain?" ucap Sherly mengangkat dagu Lidia menatapnya horor.


Plak! Bambang menepis tangan Sherly. Dari dagu Lidia.


Lidia tercengang masih menyelami apa yang terjadi.


"Dan yang harus kamu tahu! wanita itu sudah menjadi saudaramu."


"Selama ini, kamu hanya menjadi pelarian, karena cintanya di tolak!" ahahaha..." sambung Sherly menatap Bambang meremehkan.


"Keluar lo! atau gua panggil orang-orang supaya menyeret loe!!" Tukas Bambang.

__ADS_1


Eneng beringsut mundur, baru pertama kali melihat Bambang semarah itu.


"Lidie..." selamat ye..." akhirnye lo akan kawin juga" hehehe. kedatangannya Zubaidah keatas panggung membuat perhatian mereka teralihkan.


"Muach...muach...loe makin cantik ye" ucap Zubaidah.


Sherly akhirnya ngeloyor pergi meninggalkan panggung.


"Selamat ya Tuan, jage sahabat aye, die orangnye baek. Tapi kalau nakal,


jewer aje" kelakar Zubaidah.


Bambang dan Lidia pun akhirnya tertawa. "Terimakasih Mbak" sahut Bambang.


"Terimakasih ya Dah" sambung Eneng.


"Iya ante, unda talau malah, Muhamad di jewel" adu Muhamad anak kedua Zubaidah kepada Lidia dengan bahasa cadelnya, sambil memeggang telinganya.


"Hehehe masa sih? sini sama tante" Lidia berjongkok menjajari ketingian Muhamad.


"Muhamad sudah maman belum?" tanya Lidia menoel hidung Muhamad.


"Belum" ucapnya menatap Zubaidah.


"Dah, ajak makan dulu anak lo, pasti lapar, sudah dari pagi loh" kata Lidia.


"Iya Ante, Muhamad lapal" ucapnya sambil memegang perut gayanya seperti orang dewasa. Membuat Lidia gemas pengen mencium.


"Ya udeh ayo" Zubaidah mengajak anaknya turun.


"Jangan dengarkan perempuan tadi ya" ucap Bambang khawatir Lidia akan menelan mentah-mentah kata-kata Sherly.


"Memang apa sih! maksudnya? aku nggak ngerti?" tanya Eneng. menatap Bambang minta penjelasan.


"Nantin aku jelaskan." sahut Bambang.


"Mau makan malah nggak jadi, aku ambil makan dulu ya... " kata Bambang.


"Mendingan aku ganti baju dulu ya, tamunya tinggal sedikit kok, nanti kita makan di prasmanan saja" usul Lidia.


"Oh, ya sudah, perlu bantuan nggak?" tanya Bambang sebab Eneng berjalan sambil mengangkat gaunnya.


"Ngga, kalau kekamar aku kan nggak jauh dari sini" pungkas Lidia kemudian meninggalkan Bambang.


Sepuluh menitit kemudian.


"Toloong... tolooong..."


**


Nah, lho! teriakan siapa tuh?"


.

__ADS_1


__ADS_2