
Waktu sudah sore, matahari pun akhirnya bersembunyi, menyibak tirai malam. Pasangan yang sudah seminggu tidak bertemu itupun saling bertukar cerita.
"Oh, jadi di sana nggak ada signal Mas?" tanya Rani. Tangannya tidak mau diam, melukis dengan jari di dada suaminya.
"Betul. "Tetapi tanganya di kondisikan dong, kalau sudah merinding begini, adik aku bangun dech" Daniel terkekeh.
Rani cepat menarik tangannya.
"Aahhh...Mas...aku kan kangen..." rengek Rani. Kemudian mengeratkan pelukanya. Membuat adik Daniel bernar-benar bangun setelah seminggu tertidur.
Rani menyenderkan kepalanya di dada Daniel.
Waduh...bisa bahaya ini, aku nggak mungkin tega lah, melakukan saat istriku sedang sakit, apa lagi ini di rumah sakit. Daniel benar-benar tidak tahan. Akhir untuk menidurkan adik kecilnya Daniel pun beralasan.
"Yank aku lapar, Mas cari makan dulu ya"
"Mas cuma sarapan di hotel tadi pagi saja"
Rani seketika mendongak dan mengangkat kepalanya.
"Ya Allah...aku lupa ingetin Mas, tadi." sahut Rani merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, kamu mau di beliin cemilan apa?" tanya Daniel. Sambil menarik retsleting jaketnya.
"Kalau pingin kripik Pisang, nggak mungkin ada kan di sini?"
"Mas carikan" sahut Daniel. Seraya berlalu keluar meninggalkan istrinya. Tidak sepenuhnya berbohong. Daniel memang lapar.
Rani merebahkan tubuhnya seperti posisi semula.
Dia tersenyum senang, biarkan saja. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Yang terpenting saat ini keluarganya percaya kepadanya dan tetap menyayangi. Adalah anugerah yang terindah.
Tok tok tok
Mendengar ketukan pintu. "Kok Mas Daniel kembali lagi? apa ada yang ketinggalan ya?" Rani bergumam.
Rani memandangi pintu. Tidak mungkin membuka pintu dalam keadaan begini. "Biar sajalah...nanti juga masuk sendiri" Gumamnya.
Tink..handphone Rani ada notifikasi masuk. Rani ambil handphone dan membukanya.
"Bu Rani...Mira diluar" chat dari Mira.
"Masuk" Balas Rani.
Mira masuk ternyata tidak datang sendirian. Ia datang bersama Topan dan Bambang.
"Kok nggak langsung masuk saja sih Mir?" tanya Rani pada Mira.
"Hehehe...kirain ada Pak Daniel Bu"
"Ran...bagaimana keadaan mu?" Tanya Bambang di ikuti Topan sambil membawa buah tangan. Yakni buah-buahan berbentuk parsel.
"Alhamdulillah..sudah mendingan Bang" sahut Rani.
"Ran, ini dimakan ya...dari boss" ucap Topan yang di maksud boss adalah Bambang. Topan menyimpan buah di meja samping Rani.
"Terimakasih Bang, kok repot-repot sih?"
"Nggak repot Ran, Bang Daniel kemana?" Tanya Bambang.
"Lagi cari makan keluar Bang"
"Oh" Bambang mengangguk.
__ADS_1
"Bu, ini baju ganti punya Pak Daniel" Mira menyimpan tas pakaian.
"Ya, terimakasih Mir"
Bambang dan Topan berdiri di samping Rani. Sementara Mira duduk di ranjang pasien sambil memijit kaki boss nya.
"Kenapa Ran? kamu kok sampai sakit sih, tidak usah di pikirkan aku bilang" ucap Bambang.
"Dengerin tuh Ran, sampai badanmu kurus kering begitu" "Nanti kalau pulang kampung, di ledekin loh sama Mas Dino" "Di katain manusia pethek lagi" tutur Topan terkekeh.
"Apa tuh manusia pethek?" tanya Bambang dengan dahi berkerut.
"Ikan asin petek boss...warnanya putih, gepeng nggak ada dagingnya" terang Topan. Semua pun tergelak tawa.
"Ran suami kamu marah nggak?" bisik Topan.
"Ya nggak lah, gitu-gitu suamiku kan baik" sahut Rani. Namun masih terdengar oleh Bambang.
"Sukur lah Ran, kalau Bang Daniel nggak marah sama kamu, aku sempat khawatir kemarin-kemarin tuh."
"Sudah Bang, nggak usah di pikirkan, semua akan baik-baik saja"
"Sekarang tinggal Abang, harus mencari cara, untuk memperbaiki hubungan Abang dengan Weny."
"Iya Ran, meskipun aku sakit hati kepadanya, dan sama sekali belum ada getaran, lusa aku akan menemui dia"
"Assalamualaikum..."
Ditengah-tengah obrolan, Daniel masuk membawa teng tengan cemilan makanan ringan.
"Waalaikumsalam..." jawabnya serentak.
"Oh ada tamu?" Tanya Daniel seraya menyimpan cemilan.
"Saya kekamar mandi dulu" ucap Daniel hendak melangkah tetapi Rani menahan.
"Mas bawa ganti baju sekalian, itu Mira sudah bawa salin"
"Iya" Daniel ambil piama kemudian kembali kekamar mandi.
Bang Bambang, Topan, duduk di sofa saja" titah Rani.
Bambang dan Topan duduk di sofa.
Tak lama kemudian Daniel keluar dari kamar mandi. Sudah ganti baju piama. Kemudian Daniel menyimpan baju kotor ke dalam plastik.
"Cup. Daniel mengecup bibir Rani sebelum menemui Bambang.
"Iihh...malu... ada Mira juga" ucap Rani cemberut. Pasalnya dicium di depan Mira, tentu malu.
Daniel nggak menjawab istrinya. Kemudian duduk di sofa bergabung dengan Bambang.
Bambang dan Daniel tampak kaku sesaat saling diam.
"Kamu ternyata anaknya Om Wibisono ya?" tanya Daniel basa basi.
Betul Bang, maaf, saya akan jelaskan mengapa saya sudah berbohong dengan Abang.
"Tidak perlu" ucap Daniel serasa mengangkat telapak tangannya. Namun, tanpa menatap Bambang.
"Ada yang lebih penting" sambungnya. "Kapan kamu ada waktu? kita harus mengadakan konferensi pers"
"Siap Bang, kapanpun saya bisa," tetapi setelah saya menyelesaikan masalah saya dengan Weny."
__ADS_1
"Lusa, saya akan ke kampung Weny dulu"
"Iya, saya juga menunggu istriku sehat" ucap Daniel.
Di tengah obrolan Mira menyuguhkan cemilan dan air mineral. Atas perintah Rani.
"Silakan di Minum Pak, Mas" "terimakasih"
Obrolanmu pun berlanjut. "Setelah mengadakan konferensi pers kita harus ambil tindakan, bagaimana caranya agar bisa menyeret Sherly ke penjara."
"Iya Bang, saya setuju" sahut Bambang. Obrolan mereka sudah mencair malah kadang di selingi canda dan tawa.
"Saya rasa sudah malam, saya pamit dulu Bang, supaya Rani bisa segera beristirahat."
"Ya." jawab Daniel singkat.
"Ran aku pulang dulu ya...cepat sembuh, makan yang banyak, biar hilang lah....sebutan ikan pethek" seloroh Topan yang sudah berdiri di samping Rani.
"Aahh...Topan...kamu, nyebelin" sahut Rani mlengos kesal.
"Ran aku juga pamit" ucap Bambang. "Bener yang di katakan Topan, makan yang banyak, supaya segera pulih" sambungnya.
"Terimakasih Bang"
"Bu, saya juga pulang dulu ya..." Mira menyudahi mengurut Rani.
"Iya, terimakasih Mir, kamu pinter
ngurut ternyata."
"Ibu, bisa saja" Mira tersenyum.
"Besok saya kesini nggak Pak?" tanya Mira kepada Daniel.
"Tidak usah"
"Oh kalau begitu, kami mau ke restoran saja"
Topan menyalami Rani, setelah giliran Bambang ingin berjabat tangan. "Hait! tidak usah modus" ucap Daniel konyol.
Bambang menarik tangannya tidak bersuara.
"Pan, kalau Bapak tanya kabar aku, jangan bilang kalau aku lagi sakit ya..."
"Ya jelas enggak, dong Ran" pungkas Topan.
Bambang keluar, di ikuti Topan dan Mira. Daniel mengantar sampai pintu. Kemudian kembali lagi.
"Sudah yank bobok" ucap Daniel seraya duduk di sofa. Membuka handphone kemudian mengecek email yang masuk.
"Mas...bobok disini saja" Rani menepuk Ranjang dibelahnya.
"Iya, sebentar" sahut Daniel masih fokus menatap handphone. Sampai satu jam Daniel masih berkutat.
Rani menatap Daniel kesal. Pasalnya bukan memperhatikan dirinya, malah asyik sendiri.
Naah aku punya ide. Rani tersenyum licik. "Mas..."
"Heemm..."sahut Daniel tanpa menoleh.
"Aku kebelet pipis..."
Daniel segera bangkit.
__ADS_1