ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 45


__ADS_3

Maharani PoV


Malam ini badanku terasa lemas dan lelah. Wajar saja, karena hari ini jadwalku cukup padat. Yang ingin cepat aku lakukan saat ini, sampai di rumah hanya tidur dan mengembalikan energi yang seharian ini terkuras.


Tetapi tidak pernah terbayangkan olehku, bahwa aku akan bertemu suami hari ini. Ia duduk sendirian tanpa hidangan di depannya.


Aku menatap wajahnya netranya terlihat cekung, badannya agak kurus, yah, mungkin tidak terurus.


Aku berbalik badan, tiba-tiba air mataku menetes. Bohong jika aku tidak merindukan dirinya. Tetapi rasa sakit hati ini masih belum bisa terobati. Setelah berpisah rumah hampir satu tahun. Berat sekali beban yang aku tanggung. Berpisah dengan suami ternyata tidak mudah bagi aku, dan terasa berat mengambil keputusan untuk bercerai. Walaupun hal ini sudah sejak lama ingin aku lakukan.


Tetapi nyatanya, jika aku teruskan, berat oleh tekanan suamiku. Permasalahan dalam rumah tanggaku masihkah bisa di bicarakan dan di selesaikan? pertanyaan ini yang bersarang di dalam benakku. Nyatanya sudah berkali-kali mencoba untuk memperbaiki, justeru berujung kusut dan menumpuk permasalahan baru.


Aku melangkah keluar, cepat ingin masuk kedalam mobil. Rasanya aku belum sanggup untuk bertemu dengannya. Tetapi dia memanggilku.


"Raa...tunggu! Aku menoleh menatapnya kesal. Wajahnya kusut memelas, tetapi aku tidak akan terlena. Aku akan masuk kedalam mobil dan pergi menjauh mungkin lebih baik.


"Umiiii...hu..huuu...


Tidak aku sangka, ternyata suamiku datang tidak sendiri. Aku menatap anak sambungku dengan rasa sesak. Anak inilah kekuatan ku. Aku terpaku di tempat, antara ingin memeluk anakku dan menghindari suamiku.


"Umiii...hu huuu...jangan pergi Umii.." Icha menangis tersedu-sedu. Aku tidak tega lalu memeluknya.


"Sudah, sayang...jangan menangis lagi ya." Aku hapus air matanya dan mengelus rambut panjangnya.


"Umi kemana saja, kenapa Umi tinggalin Icha, Umi tega sama Icha"


"Icha kangen banget sama Umi" hu...huuu..."


"Maafkan Umi sayang... saat ini Icha belum mengerti, suatu saat nanti Icha pasti tahu, kenapa Umi tinggalin Icha" Aku mencium pipinya agak kurus tidak Cuby lagi seperti dulu.


"Umi pergi sayang! Icha pulang ya, sudah malam, salam buat uti di rumah." Aku berdiri dan membuka pintu mobil. Aku melirik suamiku sekilas ia menatapku sendu, lalu aku membuang muka.


Aku hendak masuk kedalam mobil. Tetapi Icha histeris, sontak seisi Cafe keluar semua.


"Umiii...Please...jangan pergi!" hu huuu..."


Icha memeluk kakiku dari belakang.


"Umiii...hu huuu..."


"Umi..biar Papa tidak menganggap Umi bidodari"


"Tetapi, Umi bidodari Icha! bawa Icha pergi, please..."


"Icha akan ikut Umi, kemanapun, Umi pergi!" hu huuu..."


Aku berbalik badan menarik tangannya pelan, agar bangun. Kami sama-sama larut dalam tangis, melepas rindu yang hampir satu tahun tidak bertemu.


"Please..Umi..Icha ikut ya"


Icha memeluk perutku dan mendongak menatap wajahku. Aku mengangguk tersenyum.


Aku tuntun Icha masuk ke dalam mobil duduk disamping kemudi. Aku menjalankan mobil, tidak kepikiran lagi bahwa Nena, Weny, dan kedua karyawan yang lain belum pulang. Biar saja mereka nanti naik taksi online pikirku.

__ADS_1


Aku perhatikan suamiku mengikuti dari belakang masa bodoh dengan dirinya.


"Kita mau kemana Umi?" Icha menatapku was-was entah apa yang anak itu pikirkan.


"Icha maunya kemana?" Aku balik bertanya.


"Kemana aja, asal sama Umi" Sahutnya dengan rasa khawatir mungkin takut aku tinggal. Aku tersenyum dan mengelus ujung kepalanya.


"Umi"


"Iya, sayang...kenapa?"


"Umi jangan kecewa sama Icha ya." Aku perhatikan wajahnya, menatapku sedih. Aku mengerutkan kening.


"Memangnya Icha buat salah apa?" Tanyaku dengan Rasa khawatir.


"Nilai rapor Icha jelek semua Mi, paling hanya enam, tujuh, kalau dulu waktu masih ada Umi kan paling sedikit tujuh" Tuturnya menyesal.


"Hehehe..." Aku tepuk pundaknya pelan. "Kok Umi ketawa, seneng ya kalau nilai Icha jelek" Katanya manyun.


"Ya nggak lah! masa seneng, kenapa memang kok nilainya bisa anjlok begitu, perasaan Umi dulu nggak selalu mengajari Icha"


"Icha tuh sedih, mikirin Umi setiap hari, kadang Icha berpikir, jangan-jangan Umi di luar kehujanan, kepanasan, kelaparan, seperti sinetron tuh"


"Ibu-ibu kabur dari rumah terus ngorek-ngorek tempat sampah buat cari makan"


"Yah, itu masalahnya Umi, Icha belajar jadi nggak konsen, kalau malam ingin ngobrol sama Papa"


Aku mendesah kasar menatap jalanan. Ternyata perpisahan orang tua dampaknya sangat negatif bagi anak. Aku berpikir keras, masalah sudah terlalu ruwet. Yang ada dalam pikiranku perceraianlah solusinya. Rasanya buntu tidak ada alternatif lain walau hidup selalu memberi banyak pilihan. Terjadi perang batin, jika aku teruskan niat untuk bercerai ada banyak hati yang tersakiti. Anak sambungku, keluargaku, keluarga mertuaku. Aaahh...entahlah aku pusing.


Kalau sudah begini mungkin aku harus mengalah, mempertaruhkan kebahagiaanku sendiri. Aku hanya bisa berharap. Semoga masih ada cinta dan kasih sayang diantara aku dan suamiku. Semoga masih ada setitik kebaikan dari suamiku.


Aku perhatikan dari kaca spion Mas Daniel masih membuntuti aku.


"Hoam..."


Aku menoleh cepat. "Ngantuk sayang, bobok saja nanti kalau sudah sampai Umi bangunin"


"Nggak mau, nanti takut di tinggal Umi." Ucapnya.


"Hehehe...kamu lucu, masa iya sih, Umi setega itu! mau tinggalin Icha di pinggir jalan."


Aku ngobrol sepanjang jalan, tidak terasa sampai di depan rumah.


"Sudah sampai sayang, turun yuk"


"Oh Umi tinggal di sini ya, sama siapa Umi?"


"Rame-Rame sayang, sama Tante Nena, Tante Weny, Rini, Mira"


"Yah! Umi curang" Ucapnya cemberut.


"Kok, Umi dibilang curang, kenapa memang?"

__ADS_1


"Habisnya! Umi disini tinggal rame-rame, sedangkan Icha di sana kesepian." Ujarnya tanganya terus bergelayut di lenganku.


"Sudah, jangan cemberut Masuk yuk"


Budhe PoV.


Rani sampai di rumah sudah hampir jam sembilan. Rani bergegas masuk ke kamar mandi, setelah selesai Lalu memanggil Icha.


"Sayang...kekamar mandi dulu ya" Katanya seraya menarik tangan Icha pelan yang sedang duduk di kursi sofa.


"Iya, tapi Icha nggak mau pulang, Icha mau bobok disini." Jawabnya menatap Rani memohon.


"Iya" sambung Rani seraya mengacak rambutnya. Icha berjingkrak-jingkrak kekamar mandi, rambut panjangnya berkibar-kibar ke kanan dan ke kiri.


"Assalamualaikum" Setelah parkir Daniel masuk kedalam.


"Waalaikumsalam..."


Jawab Rani tanpa menoleh memencet-mencet remote televisi isinya hanya sinetron.


Daniel duduk di sofa panjang satu kursi dengan Rani tapi berjauhan.


"Bagaimana kabar mu Ra?" Tanya Daniel hampir tidak terdengar.


"Baik!" Sahut Rani judes.


"Untuk apa anda mengikuti kami, lebih baik anda pulang?! Tukas Rani membelakangi Daniel.


"Maaf"


Satu kata yang meluncur dari mulut Daniel.


Rani tidak menjawab fokus menonton sinetron, walau tidak suka hanya untuk menenangkan diri.


"Kamu di sini tinggal sama siap Ra?" Tanya Daniel menggeser duduknya sedikit. Mungkin Daniel melihat banyak sandal jepit di depan garasi.


"Buat apa anda tanya saya tinggal dengan siapa! mau tinggal dengan siapapun bukan urusan anda!!" Tukas Rani tanpa menoleh.


"Kok galak banget?" Tanya Daniel bergeser sedikit lagi.


"Anda jangan sekali-kali mengatakan saya galak, kata-kata saya belum sebanding dengan setiap kata kasar anda, yang seperti pisau menusuk-musuk hati saya!!" Sambung Rani dengan tubuh bergetar menahan tangis. Rani masih posisi membelakangi Daniel.


Daniel merasa bersalah rasanya ingin memeluk tubuh Istrinya. Tetapi tidak ada keberanian.


"Maafkan aku, yang selalu menyakiti hatimu, beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan memperbaiki semuanya". Daniel menggeser duduknya sedikit lagi.


"Ahahaha...Rani tertawa di buat-buat seperti bersaing dengan suara sinetron di televisi.


"Dari dulu anda berbuat salah! lalu berbicara"


"Maafkan aku, aku akan memperbaiki sekali lagi". Kata Rani menirukan ucapan Daniel dulu.


"Tetapi anda mengulangi, dan terus mengulangi, jika di tulis di buku notes, tidak akan muat dengan kata maaf anda!"

__ADS_1


__ADS_2