ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 93


__ADS_3

Bambang meluncur pulang. Setelah dzuhur sudah sampai di rumah Dino. Setelah parkir, ia duduk di gazebo. Bambang membuka kancing kaosnya paling atas untuk mengurangi rasa panas di tubuhnya. Padahal kalau dipikir, saat ini sedang musim dingin. Setelah terasa dingin terkena semilir angin, ia shalat dzuhur.


Robbanaa Afrigh' Alainaa Shobron


wa Tsabbit Aqdaamanaa wanshurnaa' Alal Qoumil Kaafiriin.


"Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir."


Setelah berdo'a Bambang merebahkan tubuhnya di atas sajadah. Ia pun terlelap.


"Putraku, jadilah anak laki-laki yang sabar, dan pantang menyerah"


"Jangan pernah kecewa, jangan pernah merasa gagal, karena Allah maha baik."


"Di dunia ini masalah akan selalu ada, pandailah untuk menyikapi dan menyelesaikan secara baik."


"Berdoalah untuk hari esok tenangkan pikiranmu, semoga semua urusan mu lancar."


"Menikahlah dengan tepat, bukan dengan cepat."


Nasehat seorang Bapak berpaian baju koko lengkap dengan peci. Duduk di depan Bambang dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Ayaaaaah...." Bambang pun berteriak ngos ngosan terbangun, badanya basah dengan keringan. Nafasnya tersengal-sengal.


"Bambang...hee.. kamu mimpi ya?" Dino menepuk bahu Bambang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan membawa segelas air.


"Ini di minum" Dino menyodorkan air.


"Terimakasih Mas" ucap Bambang setelah meneguk air.


" Kamu kenapa barusan, teriak-teriak?" tanya Dino. Biasanya Bambang selalu ikut Dino shalat di masjid. Tetapi kali ini memilih shalat di mushola kecil di rumah Rani.


"Saya mimpi Ayah datang kesini Mas, sudah gitu, seperti nyata" tutur Bambang.


"Itu karena kamu banyak pikiran Bang, makanya saya kan sudah bilang, tidak usah di pikirkan lagi masalah Weny."


"Hidup, mati, jodoh, rizki itu sudah Allah atur, yang penting kita selalu berdoa dan bekerja." Nasehat Dino.


"Iya, Mas."


"Sudah, kamu makan dulu, terus siap-siap" titah Dino.


"Baik Mas."


Bambang kemudian makan. Setelah makan siap-siap, sebab sudah jam dua. Tidak lama Topan pun datang di antar teh Entin.


"Saya titip anak saya nak Bambang, kalau nakal, jewer saja" seloroh teh Entin.


"Baik Bu" sahut Bambang seraya membetulkan koper.


"Pak Siswo kemana Mas Dino? kok nggak kelihatan?" tanya Teh Entin.


"Ada Teh, lagi istirahat"

__ADS_1


"Sudah mau berangkat?" tanya Pak Siswo tiba-tiba berdiri di belakang Bambang.


"Sampun Pak..saya minta pamit" Bambang mencium punggung tangan Pak Siswo di ikuti Topan.


"Ya, hati-hati le...salam buat Rani dan suaminya"


"Njeh Pak, nanti saya sampaikan." ucap Bambang.


"Mas Dino, Mbak Syntia, saya pamit, hai...adik kecil Om pulang dulu ya..." Bambang menoel pipi Wahyu gemas.


"Oao..oaoo..."Ocehan Wahyu sambil tertawa menggemaskan.


Bambang berangkat di antar Dino ke Bandara.


SedangkanTopan di antar Teh Entin. Ayah Topan bekerja di kota seminggu sekali baru pulang, makanya tidak bertemu.


Satu Jam perjalan sampai Bandara. Bambang melambaikan tangan kepada Dino.


*****


"Yank, kata dokter, hari ini kamu sudah boleh pulang" ucap Daniel seraya memijit tangani istrinya.


"Benar Mas" Rani tersenyum senang.


"Benar lah, masa aku bohong"


"Yeee..." Tangan kanan Rani melingkar di pundak Daniel. Daniel pun senang sekali. Inilah yang ia tunggu, istrinya merangkul terlebih dahulu.


"Mas beres-beras dulu ya"


"Iya Mas."


Daniel mengemasi barang-barang di masukan ke dalam tas. Kemudian telepon Pak Toto agar menjemputnya.


"Mbak Rani...sudah sehat?" tanya suster yang hendak mencopot infus.


"Alhamdulilah...sudah sus" sahut Rani. Suster melepas infus. Setelah infus lepas dari tanganya. Rani merenggangkan ototnya, "Alhamdulilah...lega... rasanya sus".


Suster tersenyum, menanggapi Rani, hanya di lepas infus saja seperti terlepas dari sandra.


"Sudah selesai...saya permisi Mbak Rani" ucap sunter.


"Sudah selesai yank? kekamar mandi dulu nggak?" tanya Daniel hendak memapah istrinya.


"Mau, tapi aku bisa sendiri kok Mas, kan sudah nggak di pasang infus."


"Yakin bisa? hati-hati ya..." ucap Daniel." "Iya Mas." Rani kemudian ke kamar mandi.


Daniel melanjutkan berkemas.


"Oh ada yang lupa, buah belum di bereskan." Gumam Daniel.


Daniel memasukkan buah kedalam tas jinjing. Membuka lemari kecil siapa tau ada yang ketinggalan. Pikirnya.

__ADS_1


Ternyata benar, kantong plastik hitam masih tertinggal. Daniel pun membukanya dan merentangkan kedua benda tersebut. Ia tersenyum, 3 pasang bra dan cd yang ia pisahkan kedalam kantong.


Daniel menjadi ingat, setiap Rani selesai mandi kemudian mencucinya dan menjemurnya di kamar mandi.


Untungnya kamar mandi hanya di pakai sendiri jadi tidak merasa malu.


Seumur hidup Daniel baru kali ini mencuci cd. Bahkan punya sendiri saja belum pernah ia lakukan. Biasa hanya terima beres, Bibi maupun simbok yang mengerjakan.


( Suami siapa yang pernah melakukan hal ini ??) 🤣🤣🤣


Selama menunggu istrinya di rumah sakit. Daniel baru merasakan benar-benar menjadi seorang suami. Ternyata menjadi seorang suami tidak hanya memberikan nafkah. Namun, melalukan hal yang sepele seperti ini membuatnya menjadi lebih sempurna di hadapan istrinya.


Dibalik kejadian yang menimpa istrinya, ternyata ada hikmah baginya. Bisa memberikan perhatian yang lebih. Memandikan, menyisir rambutnya, mengganti pakaiannya dan memijit kakinya. "Subhanallah...ternyata menyenangkan." Gumam Daniel.


"Sudah selesai Mas?" tanya Rani. Membuyarkan lamunan Daniel. Daniel terkesiap, segera menyimpan bra dan cd yang masih ia dekap.


"Su sudah yank" jawab Daniel kikuk.


"Apa yang barusan Mas pegang?" tanya Rani. Kemudian membuka lemari.


"Ih Mas...suka mencuci ini ya?" tanya Rani sebab baunya wangi.


"Iya, memang kenapa?"


"Iihh...ya nggak boleh lah...aku takut kwalat sama suami"


"Harusnya Mas kumpulin saja nanti aku cuci sendiri" sesal Rani merasa tidak enak milik pribadinya di cuci suaminya.


"Halah....kamu ini, nggak usah di pikirkan, ayo kita berangkat, Pak Toto sudah menunggu di bawah ." titah Daniel.


Daniel kemudian mengait kan kelima jemarinya dan bergandengan tangan. Meninggalkan tas pakaian. Tadi sudah menghubungi Pak Toto agar naik ke atas dulu ambil barang.


"Mas, kita mau pulang kemana?" tanya Rani setelah duduk di dalam mobil.


"Kamu maunya kemana?" Daniel balik bertanya.


"Terserah Mas saja, aku sih"


"Kerumah kamu aja lah, nanti kalau di rumah Mama kamu malah nggak mau diam"


"Padahal kamu harus cepet srmbuh" Protes Daniel.


Memang benar apa yang dikatakan Daniel. Kalau dirumah Mama Nadyn Rani pasti nggak mau diam.


"Iya dech" sahut Rani.


"Iya dech apa, maksudnya?"


"Iya, kerumah kita saja" Pungkas Rani.


Pak Toto pun menjalankan mobilnya. Tidak menuggu lama, Daniel tertidur.


Rani yang melihat itu, menatap wajah suaminya terharu. Pasalnya suaminya sangat kelelahan mengurus dirinya selama di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2