
Rani menawarkan pekerjaan kepada Weny yang sesuai dengan bidangnya. Yakni menjadi Chief, tetapi karena saat ini untuk membuat masakan luar baru wacana. Weny akan di tempatkan di koordinator bidang makanan.
"Bagaimana, kamu mau Wen?"
Tanya Rani.
"Mau-mau...mau!" Jawab Weny antusias.
Menurut pemikiran RANI. Untuk saat ini Weny akan di tempatkan sebagai koordinator makanan. Dan bertugas sebagai membuat dan menyetujui menu makanan dan minuman. Memesan dan mengambil investasi stok. Memelihara cacatan pembelian dan penjualan dan membantu dalam perencanaan acara.
"Memang kamu buka usaha restoran dek?" Tanya Dino.
"Iya Mas, sudah tujuh bulan malah" Sahut Rani.
"Memang suami kamu mendukung! setahu aku suamimu nggak ngebolehin kamu kerja." Tutur Dino sebab Daniel dulu pernah cerita sama Dino kalau Istrinya nggak boleh kerja.
"Nekad...ahahaha..." Jawab Rani sekenanya.
"Awas jangan suka membantah suami, nanti kamu di laknat loh." Nasehat Dino.
Rani hanya diam tidak menjawab kata-kata kakaknya.
Rani merenung entah benar atau salah yang di lakukan saat ini.
Tetapi saat ini Rani merasa puas dalam menjalani hidup.
Hidupnya lebih bermanfaat karena bisa membuka lapangan kerja, membantu bi Kokom dan Pak Edi untuk menyekolahkan anak anaknya.
"Semangat Ran, kalau nanti Wahyu sudah besar aku akan ikut bekerja sama kamu." Tutur Syntia.
Langsung mendapatkan plototan dari Dino.
Syintia menatap suaminya. Dan bertanya. "Apa? Dino tidak menjawab istrinya, malah mlengos ke samping.
"Mas Dino! yang di katakan Syntia itu bernar, kalau Wahyu sudah besar biarkan Syntia mengembangkan ilmunya, yang penting nggak pernah lupa dengan kodrat." Tutur Rani. Syntia dulu kuliah jurusan Guru seperti Rani.
"Kamu pikir Mas nggak bisa menghidupi keluarga Mas!" Ucap Dino sinis. Dino mendengus kesal.
"Masalahnya bukan karena mampu atau tidak mampu Mas Dino, tapi kadang kita sebagai wanita juga ingin berkembang, bagi sebagian wanita yang bekerja bukan hanya ingin mencari uang saja, tapi ini tentang karir, tentang impian, tentang kepercayaan diri, dan masih banyak lagi alasan lain."Tutur Rani.
"Mas Dino tau kan! suamiku orang kaya, segalanya di cukupi. Tetapi aku juga ingin ilmu aku bisa bermanfaat".
"Kecuali-- Rani menjeda ucapannya.
"Kecuali apa?" Tanya Dino menatap adiknya seperti ada raut kesedihan.
"Kecuali aku sudah memiliki anak, walaupun aku tidak bekerja ilmu yang aku dapat bisa aku berikan kepadanya"
Rani kembali murung mengingat anaknya tidak betah tinggal di rahimnya. Memori 7 bulan yang lalu kembali menari di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Kok malah sedih sih Ran" Ucap Syntia yang sedang menangkap kesedihan di wajah adiknya.
"Nggak kok Syn, ngomong-ngomong anak, aku menjadi ingat sama Icha." Kata Rani tidak sepenuhnya berbohong memang saat ini sedang ingat Icha.
"Suamimu kurang tokcer, kalah kan sama aku! mana katanya mau punya anak 11 satu saja belum." Sambung Dino ingin menghibur adiknya.
"Sudah aku pulang dulu ya Ran, pulang dari sini aku akan segera mencari orang buat kerja sama kamu." Pamit Topan. Topan tidak ingin terlalu ikut campur dalam intern keluarga Rani.
"Jadi sudah final nih Ran, kalau aku ikut kerja sama kamu?" Tanya Weny untuk memastikan.
"Yees! lusa kita berangkat bareng naik pesawat saja, terus aku juga mau cari karyawan sekitar lima orang"
"Anak lulusan SMK yang tidak melanjutkan kuliah, terserah dech! mau laki-laki ataupun perempuan" "Kalau bisa mencari yang bisa nyetir satu dan yang bisa mengantarkan pesanan." Tutur Rani.
"Siap! nanti aku bantuin cariin, banyak kok, anak yang baru lulus kemarin." Sambung Topan.
"Memang restoran kamu, sebesar apa, sampai mencari orang sebanyak itu?" Tanya Dino heran menyimak obrolan adiknya yang sudah seperti pengusaha sukses.
"Sebenarnya bukan sebesar apa restorannya Mas, tetapi seberapa banyak orang yang membeli makanan kita dan seberapa besar orang yang memberi kepercayaan kepada kita untuk menjalin kerjasama."
"Aku sudah punya 3 perusahaan yang mau bekerja sama dengan restoran aku" Tutur Rani.
"Wah hebat kamu Ran, aku bangga sama kamu! kamu sudah menjadi generasi kartini," Ucap Syntia.
"Aku lebih bangga sama kamu sayang, kamu sudah memberi aku dan anak kita kasih sayang, itu sudah lebih dari cukup" Kata Dino menyemangati Istrinya. Karena Istrinya di rumah pun sudah di suguhkan segudang perkerjaan.
Syintia lalu kedapur ingin menyiapkan makan malam, Dino mengikuti Istrinya.
"Okay Wen! lusa kita berangkat bareng saja, naik pesawat" sahut Rani.
Rani mengantar Topan dan Weny sampai halaman rumah.
"Oek oek oeeeek..." Terdengar wahyu sedang menangis. Rani bergegas masuk ke kamar Dino.
"Aii..sayaaang...lucu banget kamu, ulu uluuh..cup-cup cuuup...sini di gendong sama Tante" Rani menggendong Wahyu dan membawanya ke pendopo.
"Oek oek.." Rupanya walaupun sudah di gendong Wahyu tidak mau diam.
Rani meraba popok.
"Oh ngompol ternyata." Dengan lincah Rani mengganti popok. Sudah di ganti popok Wahyu menatap Rani tersenyum. Rani menjadi ingat kembali kalau anaknya dulu tidak keguguran mungkin sudah sebesar Wahyu. Tidak di undang air mata Rani menetes.
"Eh anak Ayah sudah bangun" Ucap Dino lalu mendekati Wahyu dalam pangkuan Rani. Rani melihat Dino, buru-buru menghapus air matanya.
"Dek kamu kenapa, Mas perhatian kamu tuh sering sedih, murung, nangis, cerita sama Mas." Dino mengelus punggung adiknya.
"Hu huuu..tujuh bulan yang lalu Rani mengalami keguguran Mas, seandainya anakku betah di rahim aku sampai waktunya tiba, mungkin sudah sebesar Wahyu Mas" hu huuu..Rani bersandar di di pundak kakaknya.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan semua sudah terjadi," "Allah mengambil lagi titipanya dari kamu, mungkin Allah mempunyai rencana yang lebih bagus lagi." Nasehat Dino.
__ADS_1
"Lihatlah Wahyu dari tadi mentertawakan kamu" "Tante jangan cengeng." Kata Dino menirukan suara anak kecil.
"Sini, Wahyu aku yang gendong kamu mandi dulu terus shalat ashar" Titah Dino. Rani bergegas shalat ashar kemudian membantu Syntia memasak.
"Masak apa Syn, baunya harum" Tanya Rani melongok panci di atas kompor.
"Masak sayur sop saja kok Ran, lalu aku taburi bawang goreng."
"Lagi menyusui mah, harus banyak makan sayur" Kata Syntia.
"Betul Syn, memang harus begitu." Sahut Rani.
"Usaha kuliner kamu menunya apa saja Ran?" Tanya Syntia sambil menaburi sop dengan Daun bawang.
"Aku membuat masakan sehari-hari saja Syn, yang untuk makan golongan menengah kebawah, di tambah baso, soto, dan mie ayam"
"Kemudian untuk pesanan, pelanggan tinggal pilih apa maunya"
"Ada Nasi gudeg komplit, masakan sunda, betawi dan lain-lain."
"Oh hebat kamu Ran, mudah-mudahan usahamu semakin sukses." Doa Syntia.
"Aamiin..Rani meraup kedua tangannya.
****
Malam pun tiba, keluarga Pak Siswo berkumpul makan malam bersama. Selesai makan Rani masuk kedalam kamarnya dan memainkan Ponselnya.
"Tok tok tok
"Ceklek.
"Belum tidur nduk." Bapak masuk kedalam kamar Rani. Kemudian duduk di sampingnya lalu mengelus rambut panjang Rani yang sedang tidak memakai jilbab.
"Belum Pak, Bapak mau di urut sama Rani, Bapak sih begitu! tadi aku cariin kemana-mana nggak ada." Gerutu Rani cemberut.
Bapak menatap anaknya terkekeh.
"Kok Bapak malah tertawa sih"
"Kamu sekarang semakin manja ya" Kata Bapak. Tetapi Bapak senang, walaupun sudah punya suami anaknya masih manja kepada dirinya.
"Ada apa kamu dengan Daniel?" Akhirnya bapak mengeluarkan unek-unek yang dari kemarin ia tahan.
Bapak menatap Rani lekat, seolah-olah ingin minta bagian dari kesedihan anaknya.
"Tidak ada apa-apa Pak, Rani baik-baik saja kok" Jawab Rani.
Sudah Bapak duga, anak perempuannya pasti tidak akan memberikan jawaban dan berbagi kesedihan kepadanya.
__ADS_1
"Nduk, Suami Istri itu seperti buku. Lembar demi lembar tidak akan habis kalian baca. Untuk itu tetaplah saling belajar dan mempelajari satu sama lain" "Dan tetaplah bertahan menjaga keutuhan rumah tangga kalian"
"Tetaplah bertanggung jawab dan saling menjaga. Pada saatnya nanti kalian akan menjadi orang tua seperti Bapak." Nasehat Bapak.