ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 50


__ADS_3

Setelah kepergian Daniel dan Icha Rani duduk di teras rumah sambil memainkan handphone membaca novel online. Hari ini Rani ingin memanjakan diri. Biasanya walau hari minggu Rani tetap ke Cafe, namun karena ada anak dan suaminya ia tidak kemana-mana.


"Plok plok plok."


Rani mendongak setelah mendengar tepuk tangan seseorang. Rani terperangah, melihat siapa yang datang.


"Mbak Sherly?"


"Kok tahu, saya tinggal di sini darimana?" Tanya Rani heran mengapa Sherly bisa mengetahui tempat tinggalnya.


"Nggak perlu loe tau, darimana gue tahu tempat tinggal loe"


"Yang harus loe tau! Daniel sudah menjadi milik gue! jadi cepat tinggalkan dia!" Tukas Sherly, berlaga seperti sang aktor di film sang pelakor.


"Mbak Sherly, sedang bermimpi ya" ucap Rani pelan, tetapi menghujam.


"Kenapa! loe nggak percaya kalau gue sudah menikah siri dengan Daniel, dan loe pikir gue bermimpi?" "Hahaha...tertipu kan loe dengan Daniel" Sherly tertawa horor.


"Sekarang nggak usah bertele-tele, Mbak Sherly, apa tujuan mbak Sherly datang ke rumah saya?"


"Baca ini!" Sherly melempar kertas ke wajah Rani.


Rani membuka surat nikah siri antara Sherly dan Daniel , yang sudah di tanda tangani Daniel.


"Hahaha..." Bukanya marah Rani justeru tertawa.


"Mbak Sherly, Mbak Sherly! anda pikir saya akan percaya begitu saja?"


"Saya percaya kok sama suami saya, karena perempuan macam Mbak Sherly tidak akan menggairahkan, Mas Daniel."


"Hahaha" Rani tertawa seraya memegangi perutnya.


"Jaman sekarang surat macam itu bisa di buat dengan mudah, Mbak Sherly! jadi, anda jangan menipu saya!" Sreek sreek sreek Rani merobek kertas dan di lempar balik ke wajah Sherly.


"Loe!" Sherly mengangkat tangannya ingin menampar Rani.


"Hup" Rani menangkap tangan Sherly sebelum mendarat ke pipi mulusnya.


"Jangan macam-macam, Mbak Sherly! anda tidak kapok, tangan anda saya plintir seperti dulu! tenaga saya sekarang lebih kuat loh, bisa- bisa anda pulang hanya dengan satu lengan.


Sherly segera menarik tanganya, ingat ketika di plintir Rani dulu nyalinya menciut.


"Mbak Sherly! anda itu sebenarnya cantik loh, tetapi cantik saja tidak cukup, jika tidak di imbangi dengan akhlak baik"


"Apa maksud loe?" Tanya Sherly berkacak pinggang.


"Nggak usah sok lugu loe!" "Loe pikir gue nggak tau kelakuan loe diluar, pura-pura alim tetapi hanya kedok!" Sarkas Sherly. Menatap Rani tajam.


"Sudah Mbak Sherly, lebih baik Mbak pulang, saya nggak pernah ribut dengan orang lain" "Tetapi jika di mula, mula, saya bisa berbuat kasar"


"Sekarang, Mak Sherly pergi dari rumah saya, atau saya pañggilkan satpam Komplek?" Sambung Rani memberi penawaran.


"Sombong sekali loe!" Seru Sherly dengan wajah merah padam karena kalah debat dengan Rani.


Rani segera menghubungi satpam Komplek. Tidak lama Satpam datang meringkus Sherly dan menariknya keluar.


"Tangkap wanita ini Pak, jika perlu lapor polisi karena sudah mengganggu ketenangan orang lain!"

__ADS_1


"Awas loe brengsek! gue akan balas perlakuan loe! lepaskan! gue bisa jalan sendiri." Seru Sherly seraya menjauh di kawal security.


Rani menjatuhkan bokongnya di kursi lemas, seraya memijit pelipisnya.


*****


Daniel di jalanan hatinya berbunga-bunga, seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Senyumnya terus menghias bibirnya. Daniel tidak menyadari bahwa Icha memperhatikan Papanya.


"Papa seneng banget, dari tadi senyum-senyum sendiri" Ucap Icha menggoda Papa. Icha senang selama ini Daniel seperti kehilangan semangat. Tetapi, senyum itu kini telah kembali.


"Masa sih sayang...biasa saja kali?" Sahut Daniel malu tertangkap basah oleh anaknya.


"Nggak usah malu Pa, Icha senang kok, Papa sudah bisa tersenyum kembali"


"Icha juga seneng banget Pa, Umi sudah kembali walaupun, tidak mau ikut serta dengan kita"


"Bukan tidak mau sayang...tetapi Umi masih perlu waktu, Icha tau kan, tadi malam kita bertemu mendadak"


"Nggak mungkin juga, Umi tiba-tiba langsung berkumpul dengan kita, yang penting saat ini Umi sudah memaafkan kita.


"Iya Pa, Icha mengerti."


Daniel meluncur membelah jalan tol, sore hari, waktunya para karyawan pulang kerja. Jika melalui jalan biasa, tentu akan terjebak macet. Daniel ingin cepat sampai tujuan dan memberikan surprise kepada Mama Nadyn.


Musik klasik mengalun merdu mengiringi Papa dan anak yang sedang suka cita. Ia bersenandung pelan jika ada orang selain mereka tentu akan terlelap.


Tidak terasa Daniel sampai di rumah. Pak Toto sudarto segera membuka pagar.


"Selamat sore Tuan" sapa Pak Toto.


Pak Toto segera membersihkan mobil dan memasukkan kedalam garasi.


"Assalamualaikum" Icha masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumusallam" Jawab Bi Inah yang sedang menata meja makan.


"Uti kemana Bi?


"Uti sedang mandi Non Icha, baru saja"


"Non Icha mandi saja dulu, bentar lagi maghrib"


"Icha sudah mandi kok Bi." Kata Icha lalu naik kelantai dua, di susul Daniel.


Tetapi, menuju kamar yang berbeda.


"Bi Inah" Mama Nadyn memanggilnya.


"Ya nyonya" Bi Inah baru saja selesai shalat, menghampiri Mama Nadyn.


"Tadi sepertinya mendengar suara Icha Bi?"


"Iya Nyonya, baru naik, setelah shalat maghrib"


"Panggil dulu ya Bi"


"Baik nyonya."

__ADS_1


"Dani baru pulang, Mam?" Tanya Papa Nano baru keluar dari kamar.


"Iya, terus kemarin tuh, ngirimi foto ke handphone Mama, bersama Rani dan Icha, pakai baju couple Pa, kira-kira foto kapan ya?"


Papa hanya menggeleng dan mengedikkan bahunya.


"Papa tuh kebiasaan! kalau di ajak ngobrol suka geleng-geleng! nyebelin!" Kata Mama kesal.


"Papa kalau lagi telat produksi, suka mogok bicara Ma" sahut Papa menahan senyum seraya nyomot krupuk di toples.


Mama menyipitkan mata. "Maksud Papa apa?"


"Ya kan, gara-gara Daniel sama Icha nggak pulang, Papa di punggungi, gagal dech produksi adiknya Dani" ahahaha.


"Papa...tua-tua keladi! ihh, gemes!" Mama Nadyn mencubit perut Papa Nano.


"Hehehe...kebawah dikit nyubitnya Mah" seloroh Papa.


Mama Nadyn, menatap suaminya gregetan.


Deni yang baru menuruni anak tangga, menatap Papa dan mama angkatnya tersenyum bahagia. Dari kecil Papa Nano humoris. Tanpa mengurangi wibawanya. Tetapi, keharmonisan Papa dan Mama mengapa tidak menurun kepada anak satu-satunya.


"Malam Pa, Ma" Deni menarik kursi di samping Papanya.


"Kemana kakak mu Den?"


"Nggak tau Ma, memang sudah pulang ya?" Deni beda kamar, jadi tidak mengetahui jika Daniel sudah pulang.


"Uti..." pekik Icha seraya menapaki anak tangga. Di ikuti Daniel dari belakang.


"Hai sayang...tadi malam kok nggak pulang, tidur dimama?" Tanya Uti menunduk mengelus rambut Icha yang memeluk perutnya.


Icha melepas pelukanya dan menceritakan pertemuanya dengan Uminya.


Mama Nadyn menatap Daniel minta penjelasan.


"Makan dulu Ma, baru cerita, lapar nih" Kata Papa. Keluarga Papa Nano makan malam bersama. Selesai makan, berkumpul duduk di bawah beralaskan karpet.


"Jadi bener kamu sudah menemukan Istrimu Dan?" Tanya Papa.


"Iya, Mama penasaran nih, pengen tahu, bagaimana ceritanya menantu kesayangan Mama."


"Rani sehat Ma, kelihatan segar, tambah cantik dan semakin dewasa" Tutur Daniel tersenyum.


"Alhamdulillah...kami senang mendengarnya Dan" Sahut papa. "Terus sudah icip-icip belum" Seloroh Papa bisik-bisik ke telinga Daniel. Daniel menggeleng.


"Kenapa Papa bisik-bisik, jangan bilang, otaknya lagi ngeres kan" Mama Nadyn sudah tahu watak suaminya.


"Sekarang tinggal dimana bang?" Tanya Deni mengalihkan candaan Papa.


"Di Tangerang kota Den, sekarang sudah sukses, punya Resto, punya rumah sendiri, kendaraan" Cerita Daniel detil.


"Terus kenapa nggak di ajak pulang Dan, nggak kangen apa, sama Mama tuh anak?" Tanya Mama posesif.


"Icha juga inginnya Umi ikut pulang Ti, tetapi Umi nggak mau" Tutur Icha cemberut.


"Bukan nggak mau pulang sayang..tadi kan Umi sudah bilang, mau pulang minggu depan" Daniel mengedipkan netra ke mana agar tidak melanjutkan pertanyaanya. Nanti malam Daniel akan menceritakan semuanya jika Icha sudah tidur.

__ADS_1


__ADS_2