
Dihutan yang begitu sepi Burung-Burung cucak rowo terdengar bernyanyi merdu. Matahari bergeser perlahan. Bambang, tidak henti-hentinya mengucap syukur karena masih di beri sinar matahari pagi dan di berikan istri sholehah.
Dalam Villa pasutri sedang melakukan shalat berjamaah dua rokaat, untuk melakakukan hubungan suami istri agar medapatkan keberkahan.
Selesai shalat, Bambang mengusap ubun-ubun Lidia yang kini menjadi pasangan halalnya. Seraya berdoa agar terhindar dari bisikan setan, dan agar kelak mendapatkan anak yang sholeh.
Kedua pasutri itupun saling memandu kasih "Aku mencintaimu istriku" bisik Bambang lembut.
"Aku juga sangat menciaimu Mas Wibi" sahut Lidia hampir tak terdengar. Keduanya larut dalam balutan asmara bertabur cinta.
Merasakan kebahagian nikmatnya surga dunia. Pancaran matahari pagi sebagai saksi untuk pancaran masa depan. Untuk menggapai impian, mengarungi masa depan yang masih panjang.
****
Jam berganti, Lidia menggeliat. "Duuh... badanku sakit semua" gumamnya.
Lidia kemudian bangun dari tidur membersihkan tubuhnya 15 menit kemudian keluar dari kamar mandi sudah rapi.
"Mas Wibi... bangun... shalat dzuhur yuk" ucap Lidia terdengar merdu di telinga Bambang.
"Ya sayang..." Bambang lagi-lagi berucap syukur, kini sudah ada yang membangunkan untuk shalat.
Bambang menelisik sepray di sebelahnya terdapat sebercak darah yang menempel di kasur. Kemudian menatap wajah Lidia semakin terkagum-kagum betapa tidak? wanita yang mencintai dirinya hampir delapan tahun bisa menjaga kesucianya dan di berikan kepadanya.
Inilah yang di impikan Bambang. Bambang berjalan kekamar mandi dengan senyum mengembang. Melewati Lidia yang sudah siap ingin melakukan shalat memakai mukena dan menunggunya duduk di sajadah. Bambang membersihkan badanya. 15 menit kemudian keluar dari kamar mandi lalu menjalankan shalat dzuhur berjamaah.
"Jam berapa kita pulang Mas?" tanya Lidia setelah melipat mukena.
"Sekarang saja, kita berkemas"
"Pekan depan saja kita lanjutkan honeymoon ke bali" ucap Bambang sambil membuka koper.
"Ke bali Mas?" tanya Lidia kegirangan.
Bambang mengangguk. "Maaf ya, aku hanya bisa mengajakmu ke Bali"
"Awalnya aku mau ajak kamu keluar negri, tetapi aku berubah pikiran"
"Alangkah baiknya uang yang akan kita anggarkan untuk honeymoon ke perancis"
"Lebih baik kita gunakan untuk membelikan rumah buat Enyak" tutur Bambang membuat Lidia tersentak.
"Ya Allah Mas...jika Mas membelikan rumah untuk Enyak Fatimah, bagaimana dengan Ibu?" tanya Lidia, tentu tidak enak dengan mertunya jika Bambang membelikan rumah untuk Enyak Fatimah.
"Sedangkan uang yang buat bayar hutang Enyak saja, kami tidak bisa mengembalikan" sambung Lidia.
"Kamu ini bicara apa? masalah uang itu sudah jangan di pikiran, aku sendiri sudah lupa" sahut Bambang. "Mengenai rumah untuk Enyak, justru usulan dari Ibu, Lid. Kamu tidak usah pikirkan apa-apa." pungkas Bambang.
Keduanya pun akhirnya keluar meninggalkan kamar. Namun, Lidia berhenti sejenak di tengah pintu mengamati kasur.
"Kenapa?" tanya Bambang melihat istrinya masih berdiri di pintu.
__ADS_1
"Kasur nya itu loh Mas, kotor, entar kalau di lihat yang tukang membersihkan malu"
"Ya biar saja, toh dia nggak melihat kita. Tapi aku bangga sama kamu"
"Terimakasih ya" ucap Bambang menarik tangan Lidia kemudian berjalan menuju mobil.
Lidia tersenyum sumringah tahu apa yang di maksud suaminya.
"Kita berhenti di depan ya" kata Bambang setelah mobil berjalan kira-kira 1kg.
"Mau ngapain Mas?"
"Di depan itu ada apa?" tanya Bambang.
"Ada restoran" sahut Lidia.
"Terus, kalau di restoran ngapain?" kelakar Bambang.
"Iih...bilang saja, mau makan gitu! ngape berbelit-belit sih?! gerutu Lidia.
"Iya lapar aku, kita kan tadi sampai melakukan tiga kali" ahahaha. Bambang tertawa bahagia.
"Maaasss...ihh!"
"Lidiaaaa...ihh"
Mereka mentertawakan kekonyolan mereka sendiri. Kemudian Bambang memarkirkan mobilnya lalu turun bergandengan tangan masuk kedalam restoran.
Setelah makan lalu melanjutkan perjalanan. Belum 10 menit di dalam mobil Lidia langsung pulas.
Bambang menoleh sekilas mengusap kepala istrinya kemudian fokus dengan setirnya.
Sampai di rumah Lidia masih tidur, ketika Bambang ingin menggendong Lidia pun bangun.
"Eh, sudah sampai Mas?" Lidia segera turun dari mobil.
"Sudah" Bambang dan Lidia masuk kedalam. "Kok sepi ya Mas?" Lidia mengedarkan pandangannya.
"Nggak tahu pada kemana?" sahut Bambang. "Biarin saja kita langsung kamar saja yuk" sambung Bambang.
"Iya" sahut Lidia ngeloyor ingin ke kamarnya sendiri.
"Eh, kamu mau kemana Lid? kamarmu tuh sekarang di atas" Bambang menarik tangan Lidia naik keatas.
"Tapi baju aku di bawah Mas"
"Biarin saja, nanti Bi Ipah yang membereskan" pungkas Bambang.
Sampai kamar, keduanya pun langung tidur.
.
__ADS_1
Malam harinya keluarga Ibu Widi berkumpul di meja makan. Menikmati makan malam.
"Selesai makan Ibu ingin bucara" titah Ibu Widi.
Pak Siswo dan Ibu Widi duduk di sofa ruang tamu, kemudian di susul Bambang Lidia dan Dira.
"Ibu ingin bicara apa, sepertinya serius?" tanya Bambang.
"Begini le, nduk. Bapak ingin Ibu tinggal di kampung"
Bambang langsung menatap Ibunya. "Maksudnya Ibu mau meninggalkan kami?" tanya Bambang seperti tidak rela.
Ibu mengangguk mantap. "Sekarang kalian sudah dewasa, sudah waktunya kalian mandiri"
"Nanti kalau Dira menikah Ibu ingin acaranya di adakan di sini"
Bambang menarik nafas panjang. Selama ini suka duka selalu ia lalui bersama ibunya ada rasanya tidak rela jika harus berpisah.
"Ibu itu pindah hanya ke Yogyakarta, bukan keluar negeri"
"Kalian bisa menengok kapanpun" tutur Ibu, seperti tahu kegelisahan anak-anaknya.
"Iya Bu, kalau ini sudah menjadi keputusan Ibu, kami bisa apa? yang penting Ibu bahagia" kata Dira.
"Terus, Bapak sama Ibu rencana berangkat kapan?" tanya Bambang, tidak ada pilihan lain memang sudah Bambang pikirkan sejak Ibunya memutuskan ingin menikah dengan Pak Siswo. Itu artinya harus merelakan Ibunya di bawa pergi oleh suaminya.
"Maafkan Bapak le, nduk. Bapak memisahkan kalian dengan Ibumu, tetapi tentu kalian tahu. Bapak sudah tua dan ingin hidup tenang bersama Ibumu" tutur Bapak.
"Saya mengerti Pak, yang penting Ibu bahagia dengan Bapak. Sudah menjadi kebahagian kami juga" pasrah Bambang.
"Terus kapan Ibu akan berangkat?" Bambang mengulangi pertanyaannya.
"Secepatnya le, kami akan berangkat" sahut Ibu.
"Besok ada notaris yang akan datang kemari dan Ibu ingin menghibahkan peninggalan ayahmu"
"Untuk butik, karena itu Ibu rintis sendiri, Ibu serahkan kepada menantu Ibu" tutur Ibu, mengusap kepala Lidia.
"Tapi Bu, saya tidak pantas menerima ini" tolak Lidia.
"Ini sudah Ibu pikirkan sejak dulu, jadi kamu harus terima"
"Syukur-Syukur, kamu bisa mengembangkan usaha itu nak" tutur Ibu.
Semua pun menyetujui keputusan Ibu. Toh Ibu, pergi tidak jauh jadi Bambang dan Dira bisa menengok kapanpun seperti yang di lakukan Rani dulu.
****
Terimakasih yang masih setia, tinggal beberapa bab lagi akan ending. Tentu kita akan tengok dulu kehidupan Rani.
yang belum mampir ke CERITA MAWAR, ayo, segera mampir.💕.
__ADS_1