ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 89


__ADS_3

"Mas di minum tehnya" Syntia menyuguhkan teh. Kali ini sudah tidak menggendong Wahyu. Sebab Wahyu sudah tidur.


"Terimakasih Mbak, jadi merepotkan, Mas Dino kemana? kalau hari sabtu bukanya libur ya?"


"Libur Mas. Tetapi, ada pelajaran tambahan"


"Oh begitu" Bambang mengangguk paham.


"Apa kabarmu le..." Pak Siswoyo tiba-tiba duduk didepanya, mengejutkan Bambang.


"Baik Pak, Bapak sendiri, sehat?" tanya Bambang. Bersikap seperti biasa, padahal jantungnya sudah Deg degan, khawatir Pak Siswo marah kepadanya.


"Alhamdulillah...sehat" sahut Pak Siswo.


"Pak...saya minta maaf, atas ketidak nyamanan, keluarga Bapak"


"Tetapi, sungguh Pak, berita yang beredar saat ini tidaklah benar" ucap Bambang tiba-tiba memeluk kaki Pak Siswo.


"Astagfirlullah...bangun le, kamu tidak boleh seperti ini"


"Bapak percaya sama kamu, maupun anak Bapak" Pak Siswo membangunkan Bambang agar berdiri.


"Jadi Bapak mempercayai saya?" tanya Bambang mendongak menatap Pak Sis, berbinar.


"Tentu, kamu anak baik, tidak mungkin berbuat hina seperti yang diberitakan saat ini"


"Jika ada yang membicarakan keburukan kamu, sudah biarkan saja, menjaga perasaanmu sendiri lebih penting, daripada membebani diri sendiri" Nasehat Pak Siswo.


"Terimakasih Pak..Bapak memang orang terbaik, yang pernah saya temui." Bambang pun berdiri dan kembali duduk di kursi.


"Saat ini, kita hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya"


"Bapak tahu, salah sedikit kita melangkah, akan tersandung masalah"


"Dan saat ini lah kita harus berlapang dada. Ketika mendapati kita menjadi objek gosip menyudutkan kita"


"Dalam situasi ini bersikap cuek akan lebih baik"


"Saat ini yang lebih penting kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak seperti itu dengan cara yang lebih bijak." Tutur Pak Siswo membuat Bambang menjadi lega.


"Sekali lagi terimakasih Pak"


"Sama-sama le...yang lebih penting saat ini, kamu coba menyelamatkan rencana pernikahan kamu, walaupun sangat sulit"


"Baik Pak, saya akan menjelaskan kepada keluarga Weny mudah-mudahan, keluarga Weny mengerti"


"Ya sudah..sekarang di minum dulu tehnya" titah Pak Sis.


"Lalu, bagaimana keadaan Rani saat ini le?" tanya Pak Siswo. Walaupun dalam hatinya sudah yakin, pasti anaknya sangat terguncang dengan adanya rumor ini. Kontak batin antara orang tua dan anak pasti akan terhubung.


"Alhamdulillah baik Pak" sahut Bambang menyembunyikan kebohongan. Sebab Rani sudah mewanti-wanti agar tidak memberi tahu keadaanya saat ini kepada Bapaknya.


"Lalu, bagaimana sikap suaminya le?" tanya Pak Siswo khawatir. Pasalnya Pak Siswo tahu, jika Rani sering bertengkar dengan suaminya. Walaupun Rani tidak cerita, sebagai orang tua Pak Siswo mengetahui hanya tidak ingin ikut campur.

__ADS_1


"Tidak ada masalah Pak, tadi malam kami ngobrol bersama, dalam waktu dekat kami akan klarifikasi"


"Syukurlah...Bapak lega, mendengarnya."


"Pak, terimakasih, atas kepercayaan Bapak, saya minta izin, menemui keluarga Weny, doakan lancar ya Pak."


"Aamiin..." pungkas Bapak.


Bambang kemudian mencium punggung tangan Bapak. Ia melangkah dengan rasa lega, dua masalah telah bisa ia lewati.


Yang pertama dengan Daniel, dan yang kedua dengan Pak Siswo.


Bambang berjalan dengan semangat menuju rumah Weny. Apapun keputusan keluarga Weny akan ia terima.


Pertemuannya dengan Pak Siswo, seperti memberi kekuatan. Ingat sosok Pak Siswo. Bambang ingat Ayahnya dulu. Selalu bijak dalam menyikapi suatu masalah.


*****


"Yah...biar bagaimana kita harus minta penjelasan Bambang dulu, tidak boleh hanya mendengarkan salah satu pihak saja" Kata Bu Sri kepada suaminya.


"Tidak sudi, Ayah mengemis kepadanya, laki-laki macam dia untuk apa di pertahankan!" sarkas Pak Cipto.


"Ayah...Ibu mohon, kita jangan menghadapi dengan emosi, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik"


"Baiklah, kalau Ayah memang tidak ingin melanjutkan pernikahan anak kita. Ibu mengalah, tetapi, Ayah jangan terbawa emosi."


"Sekarang kita serahkan semua kepada anak kita Yah, biar dia yang memutuskan. Tetapi, jika situasinya sudah lebih baik"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Eh nak Bambang, masuk" titah Bu Sri.


"Terimakasih Bu" ucap Bambang masuk bersama Topan.


Pak Cipto melihat siapa yang datang langsung naik pitam.


"Bangsat kamu! untuk apa kamu datang kerumah saya hah?!


"Laki-laki kurang ajar kamu! berani mempermainkan anak saya!!" sarkas Pak Cipto menunjuk-menunjuk Bambang.


"Ayah...sabar Yah..." Ibu Sri menahan Pak Cipto yang sedang berjalan kearah Bambang dengan amarah yang meledak-ledak.


"Pak, mohon tenang, saya akan menjelaskan semuanya"


"Ini hanya isu Pak, sumpah demi Allah...saya tidak pernah melakuan perbuatan seperti yang orang-orang tuduhkan"


"Buk. Buk. Buk." tiga tinju melayang ke wajah Bambang. Bambang jatuh terpelanting. Tidak puas dengan itu Pak Cipto melempar kursi.


Braakk!


Sepontan Topan menarik tubuh boss nya.

__ADS_1


Kursi membentur tiang rumah kayu jati hingga hancur berantakan. Apa yang akan terjadi jika mengenahi tubuh Bambang. Untungnya Topan bertindak dengan sigap.


"Ayaaahh...hentikan!" pekik Ibu Sri dengan isak tangis.


Bambang melongok tidak percaya dengan apa yang ia lihat baru saja.


"Brengsek kamu! setan belang! keluar dari rumah saya!"


Buk buk" Lagi-lagi dua pukulan mendarat di bibir Bambang, darah mengucur dari bibir.


Bersamaan dengan itu Pak Siswo dan Dino datang.


"Hentikan Cip! hentikan!" sentak Pak Siswo. "Topan, bawa Bambang pergi" titah Pak Siswo.


Topan pun akhirnya membawa Bambang pergi.


"Apa yang baru saja kamu lakukan Cip?!


"Lagakmu seperti preman! kamu pikir kamu ini siapa Cip? bercermin dulu sebelum berucap." Kata-kata Pak Siswo pelan tetapi menghujam.


Pak Cipto pun hanya menunduk tidak berani berkutik.


Tidak heran, satu-satunya orang di kampung ini yang di takuti Pak Cipto hanya Pak Siswo.


Ibu Sri menarik tangan suaminya dan mengajaknya duduk di kursi.


"Duduk Pak Siswo, maaf, atas kegaduhan ini." ucap Bu Sri.


Pak Cipto terduduk lesu tidak bersuara.


"Sekarang tidak usah memperpanjang masalah Sri, kumpulkan rt rw, kita selesaikan masalah ini sekarang juga"


"Kamu Dino, Panggil rt rw" titah Bapak kepada Dino.


"Njih Pak."


"Dan kamu Sri, panggil anak gadismu, kita tanya baik-baik, supaya dia yang ambil keputusan."


"Njeh Pak" Bu Sri pun berjalan lemas memanggil Weny.


Tinggalah, Pak Siswoyo dan Pak Cipto. Keduanya saling diam.


"Kamu ini sudah tua Cip, harusnya memberi contoh yang baik, untuk anak-anakmu, bukan malah menjadi preman abal-abal."


"Anakmu yang kedua itu laki-laki loh, mau anak kamu, menjadi brutal karena nurun dari sifat kamu? iya?!


"Cip...Cip! tidak habis pikir saya itu, sama kelakuan kamu"


"Orang yang sudah seusia kamu itu, harusnya sudah bertaubat, bukan (Tua-Tua keladi) semakin tua semakin jadi." Nasehat Pak Siswo.


*****


Malam minggu ini budhe kasih bonus up dua kali. Siapa tahu besok pagi reader ada yang kasih surprise buat budhe kasih hadiah VOTE ngarep com. hehehe.

__ADS_1


.


__ADS_2