ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
KEPERGIAN NINDY


__ADS_3

Saat ini Romi sedang berada di rumah sakit. Ia mendapatkan kabar jika Nindy dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh dikamar mandi. Nindy terpaksa harus diberi tindakan operasi karena mengalami pendarahan yang begitu hebat.


Romi menunggu dengan cemas di depan ruangan operasi seraya berdoa agar Nindy dan bayinya baik-baik saja. Dua jam berlalu lampu merah di depan ruang operasi padam, menandakan operasi sudah usai dilakukan.


Para Dokter beberapa orang perawat yang menangani operasi Nindy keluar dari ruangan operasi. Mereka menundukkan kepala dan memberikan kehormatan pada Romi sebagai pertanda sebuah duka.


"Apa apa ?" ucap Romi pelan.


"Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pasien tidak dapat kami selamatkan, kami hanya bisa menyelamatkan bayinya saja." ucap salah satu Dokter tersebut pada Romi kemudian mereka pergi meninggalkan Romi yang diam mematung.

__ADS_1


Romi terdiam tubuhnya mematung ditempatnya. Detak jantungnya menjadi tak beraturan mendengar wanita yang selama ini selalu mengisi hari-harinya pergi meninggalkan dirinya di dunia ini untuk selama-lamanya.


Tubuh Romi merosot di lantai, bulir bening itu tiba-tiba jatuh di pelupuk matanya. Ia menangis tergugu ternyata begitu sakit ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi.


Romi menuju bankar dimata tubuh Nindy sudah tertutup kain putih. Ia membuka penutup kain tersebut, Romi ingin melihat wajah Nindy untuk yang terakhir kalinya.


Tiba-tiba datanglah seorang perawat menghampiri Romi. Romi yang merasa sudah puas melihat wajah Nindy dan memeluknya, ia menutup kembali wajah Nindy dengan kain putih tersebut.


"Tuan, sebelum pasien di operasi ia menitipkan ini." ucap perawat tersebut pada Romi, kemudian ia berlalu dari hadapannya ketika Romi sudah menerima surat yang ia berikan.

__ADS_1


Romi menatap dua surat ditangannya satu yang bertulis untuknya dan satu lagi untuk Fabrizio. Romi membuka isi surat tersebut dan membacanya saat ia tengah duduk dikursi tunggu. Matanya membasah saat membaca satu persatu kata demi kata yang dituliskan Nindy untuknya.


Untukmu Romi. Terimakasih kau selalu ada untukku, mengisi hari-hariku yang ku tahu entah kapan nafas ini akan terus berhembus. Kau adalah satu-satunya lelaki yang sudah ku anggap seorang sahabat bagiku yang masih mau dekat denganku, wanita yang kotor dan hina ini bahkan berlumur dosa. Terimakasih untuk semua perhatian dan kasih sayangmu padaku dan calon anakku. Tidak ada kata-kata yang lebih pantas aku ucapkan padamu selain ucapan terimakasih. Dan tak ada hal yang dapat aku berikan padamu, karena aku tak memiliki apapun untuk ku berikan padamu. Apakah kau tahu aku tahu, saat aku menyatakan perasaanmu padaku. Aku sama sekali tak memiliki perasaan yang sama padamu, karena cintaku begitu besar untuk Zio. Ku harap kau mengerti itu. Lagipula aku tak ingin egois dengan mempertahankanmu di sisiku sedang hatiku telah terpaut dengannya, walaupun aku sadar jika aku dan dia tak akan bisa untuk bersama hingga hembus terakhir nafasku. Sekali lagi terimakasih Romi, semoga kau akan mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu meski dunia kita tidak lagi sama. Selamat tinggal Romi, aku menyanyangimu. Sahabatku.


Romi menangis tergugu setelah membaca surat dari Nindy. Begitu rapuh menggambarkan sosoknya saat ini ketika kehilangan orang yang ia sayangi.


.......


Dah ya gaes besok aku lanjut lagi, sumpah mau nangis aku nulisnya di bab ini 😢

__ADS_1


__ADS_2