
Beberapa hari kemudian Jihan dan Mayang mengikuti mata kuliah mereka. Mayang dipindahkan ke kelas yang sama dengan Jihan, tentu saja karena Rayyan yang mengurus perpindahan kelasnya. Karena ia tak mau jika Mayang jauh dari Jihan. Sebab jika terjadi sesuatu pada Mayang, Rayyan bisa langsung bertanya pada Jihan.
"Jadi gawangmu sudah jebol ?" ucap Jihan menggoda Mayang menanyakan prihal malam pertama sahabatnya itu, sambil menulis catatan di bukunya.
"Sudah jebol dan ambrol." jawab Mayang cepat ditanggapi sebuah terkekehan dari Jihan.
"Ternyata kita sudah tidak gadis lagi." ucap Mayang pelan.
"Iya, semua ini gara-gara suami mesum kita." jawab Jihan cepat
"Lebih mesum mana antara suamimu dan suamiku, Jihan. Dia bahkan meminta haknya dalam sehari bisa sampai lima kali." sunggut Mayang karena kesal saat mengingat suaminya yang selalu meminta haknya.
__ADS_1
"Sepertinya kita sama-sama senasib, May. Aku terkadang ingin menghilang sehari supaya tidak diterkam oleh suamiku satu malam saja." Jihan berkata sepelan mungkin karena takut jika Dosen yang sedang menerangkan mata kuliah mereka mendengar obrolan mereka berdua.
"Ide yang bagus, bagaimana jika kita menghilang saja besok. Supaya suami kita kalang kabut sehari karena ularnya tak masuk ke dalam sarang." Mayang menatap sahabatnya itu dengan senyuman.
"Kau benar, kali ini kita mengerjai mereka dalam sehari " Jihan menyeringai membayangkan bagaimana kalang kabutnya Zio saat dirinya menghilang darinya dalam waktu sehari saja.
"Baiklah, besok kita bolos saja kuliah. Okey. Kita pergi ke Bandung, kita menginap di Villa orang tuaku." Mayang memberikan usul.
"Oke !" Jihan dan Mayang saling melakukan tos lewat telapak tangan mereka. Tanpa mereka sadari gerak gerik mereka diperhatikan oleh Dosen mereka.
Jihan dan Mayang tersenyum kikuk kemudian mereka mencoba menjelaskan materi yang disampaikan oleh Dosen tersebut sepengetahuan mereka. Untungnya mereka berdua tidak dikeluarkan dari kelas, karena mereka dapat menjelaskan materi tersebut dengan baik.
__ADS_1
.......
"Apa kau butuh sesuatu ?" tanya Romi pada Nindy yang baru saja selesai melakukan kontrol kandungannya.
"Tidak ada, terimakasih Romi. Kau begitu banyak membantuku." ucap Nindy pelan ia merasa tak enak dengan Romi yang selalu membantunya, bahkan Romi membiayayai pengobatan kanker rahimnya dan kontrol kandungannya.
Ya, sewaktu Romi melihat Nindy pernah melakukan tindakan bunuh diri waktu itu dan dicampakkan oleh Zio. Romi begitu kasihan pada Nindy, apalagi saat Romi tahu Nindy sedang mengandung. Namun sayangnya ayah dari anak yang Nindy kandung tidak mau bertanggung jawab. Entah kenapa Romi begitu ingin membantu Nindy.
"Apa dia menyusahkanmu ?" Romi menatap perut Nindy yang mulai membuncit.
"Dia anak yang pintar, dia alasanku untuk hidup dan berjuang. Walau aku tak tahu bisa saja ajal menjemputku sebelum aku melihat dia." Nindy mengelus perutnya di hadapan Romi.
__ADS_1
"Kau harus kuat demi anak yang kau kandung." Romi memberikan semangat pada Nindy agar tegar menjalani roda kehidupan yang penuh banyak cobaan. Mereka saling melemparkan senyuman, entah kenapa senyuman Nindy dapat membuat jantung Romi berdebar.
Sedangkan Nindy menganggap biasa saja perlakuan yang diberikan oleh Romi padanya. Sebab di dalam hatinya masih tersimpan nama Zio disana, ia masih mencintai Zio dan berharap Zio bisa kembali padanya suatu saat nanti. Meski nanti ajal menjemputnya biarlah cinta itu ia bawa hingga akhir hayatnya.