ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
CEMBURU


__ADS_3

Cemburu tanda cinta


marah tandanya sayang


kalau curiga itu karena ku takut kehilangan...


Seperti dalam lagu siapa yang tak cemburu mendengar wanita yang ia cintai menyukai pria lain.


Dalam perjalanan pulang Zio hanya diam meredam amarahnya begitupun Jihan tak tahu harus mulai bicara seperti apa.


Begitu mereka sampai diapartemen Zio langsung menatap tajam Jihan hingga Jihan bergidik ngeri melihatnya.


"Katakan siapa Devan ?" Zio menekankan kata-katanya saat ini bagi dia dalam mode cemburu pada Jihan.


Jihan menelan kasar silvanya kemudian ia beralih ke dapur mengambil minum dan meneguknya.


"Aku bertanya Jihan" tanya Zio.


Jihan meletakkan gelasnya kemudian ia tersenyum manis pada suaminya itu. "Cemburu ?"

__ADS_1


"Tidak !" jawab Zio cepat


"Lalu kenapa mesti bertanya ?" Jihan memancing suaminya itu ternyata sifat arogannya tidak hilang dari dirinya.


"Jawab saja" lirih Zio


"Namanya Devan aku mengaguminya hanya mengaguminya tidak lebih" Jawab Jihan pelan kemudian ia memalingkan muka.


Jihan melangkah ke balkon meninggalkan Zio yang diam mematung setelah mendengar ucapan Jihan.


Jihan menikmati semilir angin malam yang menyibakkan rambutnya ia menatap pemandangan kota di malam hari begitu indah dan mengagumkan.


Jihan membalikkan tubuhnya dilihatnya suaminya itu entah sejak kapan sudah ada dibelakangnya. Jihan menatap lekat mata indah suaminya itu kemudian ia tersenyum manis.


Jihan kembali menatap suaminya yang hanya diam saja. "Kalau aku tahu seperti apa hubunganmu dengan Cindy, bukankah Mas harus tahu bagaimana aku dan lelaki yang ku kagumi itu ?"


"Duduklah disini" Jihan menepuk sisi tempat duduk disebelahnya. Dan Zio menurut ia mendudukkan diri disamping Jihan.


"Namanya Devan, aku dan dia satu sekolah saat SMA. Bukankah hal wajar ketika seorang gadis remaja menengah dewasa menyukai seorang laki-laki ?"

__ADS_1


"Apa Mas tahu, aku bisa masuk sekolah ditempat yang bergengsi itu karena Tuhan memberiku kecerdasan dan kesempatan karena aku mendapatkan beasiswa"


"Aku hanya mengagumi dia, rasa kagumku hanya sebatas angan-angan yang tidak pernah aku tunjukkan padanya. Sampai suatu hari kita bersama hingga saat ini, rasa itu hanya sebatas kagum tidak lebih dari apapun"


"Dan apakah Mas ingin tahu apa yang ku dapatkan hari ini ? Dia mengungkapkan jika dia menyukaiku, aku bisa apa ? sedangkan hati ini sudah dimiliki olehmu" Jihan menoleh ke arah suaminya itu.


Untaian kata-kata yang diucapkan oleh Jihan membuat amarah Zio mereda. Ia tak menyangka kalau Jihan lebih memilih dirinya ketimbang lelaki yang ia kagumi.


"Masih cemburu ?" tanya Jihan lagi


"Siapa juga yang cemburu" Zio terus mengelak kalau dirinya benar-benar cemburu.


"Baiklah setidaknya Mas tidak marah lagi padaku" Jihan terkekeh geli melihat sifat gengsi yang dimiliki suaminya itu. Ia berdiri dari duduknya namun Zio tiba-tiba menarik Jihan dan duduk dipangkuannya.


Zio memeluk Jihan erat seakan tak boleh jauh darinya. "Aku sangat mencintaimu, bisakah kau hanya mengagumiku saja jangan ada lelaki lain ?" lirih Zio memejamkan matanya.


Jihan menatap Zio mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu. "Baiklah akan ku coba" jawab Jihan pelan.


Zio tersenyum senang kemudian ia mencium bibir Jihan dan **********.

__ADS_1


Selanjutnya mereka tidur dengan saling berhadapan satu sama lain. Zio menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Jihan. Kemudian ia mengecup kening istrinya itu dengan penuh rasa cinta.


"Selamat tidur Jihanku"


__ADS_2