
Jihan pulang ke apartemen pada waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebelum pulang kerumah Jihan mengunjungi makam Ayahnya yang sangat ia rindukan.
Saat Jihan menutup pintu di lihatnya Zio yang sedang menatap tajam ke arahnya sambil melipat kedua tangannya.
"Dari mana saja ?"
"Kuliah Jihan menjawab dengan pelan.
"Aku tahu jadwal kuliahmu hingga pukul 2 siang, lalu kenapa pulang sampai malam ?"
"Aku ingin mandi" Jihan masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Zio.
"Jawab dulu pertanyaanku !" protes Zio tak terima saat dirinya diacuhkan.
Jihan lagi-lagi tak menanggapinya hari ini benar-benar terasa penat baginya.
"Jihan !" suara Zio menggema seisi kamar.
"Aku kuliah !" teriak Jihan kemudian ia meneteskan air matanya. Jihan merasa lelah dengan dirinya. Tak bisakah dia mendapatkan ketenangan sebentar saja.
__ADS_1
Zio menatap bulir air mata yang terjatuh itu, hatinya berdenyut sakit saat melihat wanita yang ia cintai menangis.
"Jangan menangis, aku mohon padamu" Zio menghapus air mata Jihan dengan lembut dengan matanya sendiri sudah berkaca-kaca. Ia membawa Jihan dalam pelukannya, dan mengelus punggung Jihan.
"Maafkan aku, aku salah semua adalah salahku. Jangan menangis jika perlu tampar aku hukum aku sesuka hatimu" Zio mengurai pelukannya ia menyalahkan dirinya sendiri merendah agar wanita yang dicintainya luluh padanya.
"Apa arti diriku bagimu ?" Jihan menatap Zio dengan air mata yang terus mengalir deras. Tidak salahkah baginya mempertanyakan dirinya dimata suaminya itu.
"Lebih dari apapun, aku mencintaimu" Zio menatap manik mata Jihan tak ada kebohongan dari ucapan Zio sedikitpun.
Jihan melangkah mundur Mencintai benarkah ? Tidakkah ia salah mendengar. Lalu bagaimana dengan Cindy ? apakah dia masih mencintainya wanita yang jelas-jelas sudah menyakiti perasaannya.
"Tatap mataku Jihan ! Apakah aku berbohong jika aku tidak lagi mencintai dia. Apakah aku membohongimu ?" Zio menatap Jihan tanpa berkedip ia memegang kedua bahu Jihan.
"Aku sudah jatuh cinta padamu Jihan, maafkan aku selama ini tak pernah berani mengutarakannya padamu. Karena aku harus meyakinkan diriku apakah pantas lelaki brengsek sepertiku mendapatkan cintamu ?"
"Aku sedari awal mungkin sudah menoreh luka dihatimu karena dengan mudahnya lebih memilih wanita lain ketimbang dirimu. Tapi semua itu lakukan karena mata hatiku sudah dibutakan oleh cintanya. Hingga aku mendapatkan luka yang begitu menganga karenanya"
"Namun percayalah kau adalah pengobat luka itu, tiada yang lain lagi selain dirimu, Jihana..aku sangat mencintaimu" Zio mengucapkan kata-kata itu dengan air mata.
__ADS_1
Jihan melihatnya manik mata Zio yang memancarkan kejujuran tidak ada kebohongan di dalamnya. Tangis Jihan pecah ia benar-benar bodoh tidak mempercayai ucapan suaminya.
"Maafkan aku" lirih Jihan
Zio kembali memeluk Jihan dengan erat begitu lega baginya Jihan sudah percaya padanya. "Aku janji kedepannya tidak akan mengecewakanmu" bisik Zio ditelinga Jihan.
"Dan aku berjanji akan selalu mempercayaimu" balas Jihan mengurai pelukan mereka.
"Apakah kau mencintaiku ?" tanya Zio
"Aku memang mencintaimu, namun aku sadar siapa diriku. Kau dan aku bagaikan langit dan bumi. Apakah aku berlebihan dan egois jika ingin memilikimu ?" Jihan mengucapkannya dengan suara yang bergetar.
"Tidak kau tidak berlebihan akan itu, aku bersyukur jika dicintai juga olehmu. Aku mencintaimu, sangat !" Zio kembali memeluk Jihan kemudian ia mendaratkan kecupan dikening Jihan lalu berpindah ke bibir.
cup
"Terimakasih" lirih Zio
Jihan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian dia dengan berani mencium bibir Zio. Ciuman itu berubah menjadi *******.
__ADS_1
Dan....