
Hari ini Zio sangat disibukkan dengan pekerjaan kantor. Saat Zio sedang mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba Romi masuk ke ruangannya.
"Tuan, tugas yang anda perintahkan sudah selesai." Jawab Romi yang baru saja selesai mengurus tugas yang diberikan oleh Zio padanya untuk menyuap para reporter agar tidak terus-menerus meliput dirinya.
"Bagus !" Zio menoleh ke arah Romi dan menyunggingkan senyumannya.
"Dana yang dihabiskan hampir lima belas milyar, Tuan" Romi menyerahkan laporan keluarnya uang yang ia gunakan untuk menyuap beberapa para reporter beserta pemilik stasiun televisi dan acara berita gosip.
Zio menghela nafasnya saat melihat laporan uang yang telah terpakai di tangannya. "Tidak apa-apa kita bisa mendapatkannya kembali dengan mudah."
Iya tentu saja Fabrizio bisa mengembalikan uang lima belas milyar dalam waktu singkat, karena ia adalah seorang pembisnis besar. Usahanya ada di mana-mana, baik di dalam maupun di luar negeri.
"Kalau begitu saya permisi, ingin melanjutkan kembali pekerjaan saya." Romi menunduk hormat dan kembali ke ruangannya.
Zio merasa puas karena satu permasalahannya telah selesai. Ia mengambil ponselnya diatas meja dan mencoba menghubungi istri cantiknya yang sedang kuliah. Ia melihat jam di tangannya sudah pukul setengah dua belas. Ia tahu jadwal kuliah Jihan, pasti istrinya itu sedang beristirahat.
"Sayang, apa kau sudah makan ?" tanya Zio ditengah panggilan telfonnya.
"Baru akan makan Mas, sedang memesan makanan bersama Mayang."
"Makan yang banyak ya, Sayangku."
__ADS_1
"Nanti aku menjadi gendut jika banyak makan, kau akan bosan padaku."
"Kata siapa ? aku mencintaimu apa adanya mau kurus, gendut, sekalipun aku tetap mencintaimu."
"Dasar gombal...Jangan lupa sholat jum'at Mas."
"Siap ibu negara, baiklah aku tutup dulu telfonnya. I love you, Eemmuuaah"
"Love you to"
Zio menyimpan ponselnya diatas meja, kemudian ia keluar dari ruangannya. Romi yang melihat Bosnya menutup pintu langsung berdiri dari duduknya.
"Tuan mau kemana ?" tanya Romi cepat menghentikan langkah kaki Zio.
Romi seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut bosnya. Sholat jum'at ? untuk pertama kalinya Bosnya itu mengajaknya ke masjid bersama.
"Kau kenapa masih berdiri disitu ?"
"Ah..tidak apa-apa Tuan, ayo kita ke masjid sekarang !" Romi berjalan mengikuti langkah kaki bosnya dan menuju masjid yang tak jauh dari kantor.
"Tuan banyak berubah semenjak menikah dengan Nyonya Jihan" ucap Romi pelan.
__ADS_1
Zio menyunggingkan senyuman dibibirnya saat ia dipuji oleh Romi. "Aku ingin menjadi pria yang lebih baik Rom, dan juga suami yang bertanggung jawab bagi istriku. Aku beruntung mendapat istri yang bisa merubahku ke jalan yang benar."
"Alhamdulillah...semoga Tuan selalu bahagia bersama Nyonya Jihan."
"Aamiin"
... ....
Jihan dan Mayang sedang menikmati makan siang mereka disebuah cafe depan kampus. Jihan dan Mayang bahkan melakukan selfi dikamera ponsel milik Jihan, karena Mayang yang memintanya.
Namun pemandangan itu ditangkap berbeda dengan Bianca saat baru saja masuk ke dalam cafe bersama kedua teman-temannya. Ia mengernyit heran saat melihat ponsel Jihan Bukankah itu ponsel mahal, dari mana Jihan mendapatkannya sedangkan Jihan adalah anak orang miskin dan bisa kuliah karena beasiswa.
Bianca dan kedua temannya menghampiri Jihan dan Mayang, ia menatap tajam Jihan. Jihan yang merasa ditatap oleh Bianca menjadi bingung sendiri.
"Hei, Jihan ! dari mana kau mendapatkan ponsel mahal itu ?" tanya Bianca cepat tanpa basa basi bahkan berkenalan terlebih dulu dengan Jihan, karena mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
"Kau mengenalku ?" tunjuk Jihan pada dirinya sendiri.
"Iya, tentu saja aku mengenalmu. Wanita yang sudah merebut Devan dariku ! Aku adalah Bianca, pacar Devano Putra" ucap Bianca dengan tegas.
"Aneh, orang miskin sepertimu bisa memiliki ponsel semahal itu. Dari mana kau mendapatkan uang ? jangan-jangan kau.." ucapan Bianca terhenti karena menelisik Jihan dari atas sampai ujung kaki ia tahu apa yang dikenakan oleh Jihan semua adalah barang bermerek.
__ADS_1
"Kau Open BO ya ?"