ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
SAH AGAMA DAN NEGARA


__ADS_3

Zio pulang kerumah pada waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia masuk ke dalam kamarnya dilihatnya istri tercintanya itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


Jihan menoleh ke arah suaminya saat ia melihat perubahan diwajah suaminya itu. Matanya begitu sembab dan memerah mungkinkah suaminya habis menangis ?


Zio langsung berhambur memeluk Jihan dengan erat, dan Jihan menjadi bingung karenanya. Ada apa dengan suaminya mungkinkah ia menghadapi sebuah masalah ?


"Ada apa ?" ucap Jihan pelan sembari mengelus punggung suaminya dengan lembut.


Jihan menuntun suaminya itu untuk duduk disofa dan berbicara padanya tentang apa yang dirasakan suaminya itu.


Zio sudah membulatkan tekatnya untuk tidak memberitahukan prihal masalah Cindy pada istrinya. Ia tak mau hubungannya bersama Jihan menjadi retak karena sebuah masa lalu. Biarlah itu menjadi rahasia antara dia dan Nindy yang terkunci rapat. Lagi pula Nindy sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya oleh Tuhan. Sebuah penyakit mematikan sudah cukup Nindy terima untuk sebuah dosa yang telah perbuat.


"Tidak apa-apa hanya banyak pekerjaan dikantor." Zio mencium kening istrinya dengan lembut.


"Mas tidak berbohong padaku, bukan ?" Jihan mencoba mencari kejujuran pada suaminya itu.


"Tidak !" Zio mengelus rambut Jihan dengan lembut.

__ADS_1


"Mandilah Mas, nanti kita makan malam bersama." jawab Jihan tersenyum manis.


"Siap Ibu negara." Zio mencium pipi Jihan sekilas dan berhambur menuju kamar mandi.


.......


Saat ini Jihan dan Zio sedang duduk diruang keluarga bersama Mama dan Papanya. Mereka menonton televisi bersama dan bercerita tentang apa saja yang membuat keluarga itu begitu hangat dan harmonis.


"Apakah kalian tidak mau mengadakan resepsi pernikahan, Zio ?" tanya Anggara pada putranya.


"Mungkin belum sekarang Pa, tunggulah sampai media tidak mengejarku terus. Mereka selalu mencari tahu siapa istriku saat ini." keluh Zio ia benar-benar pusing jika setiap saat dirinya selalu didatangi oleh reporter.


"Lagi pula aku harus mengurus pendaftaran pernikahan kami dulu di KUA sebab kami hanya menikah siri."


Sonia dan Anggara tersenyum mereka menyembunyikan sesuatu dari Zio selama ini prihal pernikahannya dengan Jihan.


"Kenapa Ma Pa, apa ada yang salah ?" Zio menangkup gelagat aneh dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Untuk apa di daftarkan, karena kalian sudah menikah secara sah agama dan negara." ucap Anggara tanpa beban.


Jihan dan Zio sama-sama terkejut bagaimana bisa kedua orang tuanya mengatakan hal seperti itu, karena mereka hanya tahu pernikahan mereka hanya sah dimata agama.


Sonia berdiri dari duduknya dan menuju kamarnya ia mengambil sesuatu disana. Dan betapa terkejutnya Zio dan Jihan saat Mamanya memberikan mereka buku nikah.


"Mama ini..." lirih Zio memegang buku nikah ditangannya.


"Kami sengaja menyembunyikan status pernikahan kalian. Terlebih lagi kau, Zio. Kau lebih memilih Cindy ketimbang istri sendiri." jawab Sonia


"Kalian sudah resmi menikah sah dimata negara dan hukum negara ini. Pilihan kami tidak pernah salah bukan, dalam memilihkanmu seorang istri ?. Berjanjilah Zio kau akan selalu membahagiakan istrimu." Anggara memberikan pengertian pada putra kesayangannya itu.


"Terimakasih Ma, Pa. Aku sangat menyayangi kalian." Zio berhambur memeluk Papa dan Mamanya secara bergantian.


"Persiapkanlah resepsi pernikahan kalian mulai besok, Zio." ucap Anggara


"Iya Pa, kami akan menyiapkannya." Zio memegang tangan Jihan dan tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Jihan merasa senang karena ia dan Zio menikah secara sah agama dan negara. Itu artinya Jihan bukanlah istri siri, dan ia adalah satu-satunya istri Zio. Tidak ada yang bisa mengusik posisinya, karena ia berhak penuh atas suaminya.


__ADS_2