
Zio melepaskan pakaiannya asal ke sembarang arah. Jihan menelan silvanya melihat tubuh suaminya yang kekar dengan otot-otot perut bagai roti sobek. Siapa yang tidak akan terpesona akan tubuh suaminya itu.
Zio kembali mencium bibir Jihan dengan cepat. Tiba-tiba ponsel Jihan berdering, Zio terus menjamah Jihan dengan memberikan sesapan dileher Jihan.
Jihan mencoba menghentikan aksi Zio, ia mendorong Zio hingga Zio mendudukan diri begitupun dirinya. Zio menggaruk kepalanya frustasi kenapa selalu saja ada pengganggu saat ia bersama dengan Jihan.
Zio mengambil ponsel Jihan diatas nakas dengan cepat tanpa melihat lagi siapa yang menelfon. Ia mengangkat panggilan itu memakinya.
"Berengsek ! siapa ini ?!" suara Zio agak meninggi.
'Dasar anak durhaka berani sekali kau mengatai Mama seperti itu !' suara Mama Sonia tak kalah tingginya dari Zio.
Kepala Zio mendadak menjadi pusing karena hasrat yang sudah berada dipuncak dan ingin segera dituntaskan harus gagal karena Mamanya menelfon.
"Ma..mama" Zio menjadi gugup ia mengusap kasar wajahnya saat melihat nama pemilik panggilan tersebut.
Zio mendengus kesal dan mengacak rambutnya ia kemudian merubah panggilannya menjadi Video Call. Betapa terkejutnya Sonia saat melihat Zio tidak mengenakan pakaian bagian atas.
'Zio..kau...kau sedang apa ? dimana Jihan ?' tanya Sonia penuh selidik.
"Dia ada disana" Zio merubah mode kamera belakang dan menampakkan Jihan sedang duduk dengan rambut yang sudah berantakan.
__ADS_1
'astaga...Jihan kenapa ? Zio kamu jangan macam-macam dengan menantu kesayangan Mama ?!' Sonia memarahi Zio karena khawatir dengan keadaan Jihan.
Zio membalikkan lagi mode kamara depan "Tidak ku apa-apakan Ma, hanya satu macam ingin membuatkan Mama cucu ! " ucap Zio ketus kemudian mematikan ponsel Jihan. Ia melemparkan ponsel itu diatas ranjang.
Sedangkan disisi lain Sonia mencoba mencerna kata-kata Zio barusan 'membuatkan cucu ? untukku ?' Sonia membulatkan matanya kemudian ia berteriak kencang memanggil suaminya.
"Papa...."
Anggara yang berada diruang kerjanya buru-buru keluar berlari menemui istrinya itu.
"Ada apa Ma ? ada maling ?" tanya anggara cepat.
"Tapi apa ? rampok ? begal ?"
"Zio Pa, Zio sedang membuat cucu untuk kita" jawab Sonia cepat.
"Cucu ?" Anggara melongo belum mengerti apa yang dibicarakan Sonia karena panik dengan teriakan Sonia barusan.
"Iya Jihan dan Zio sedang proses membuatkan cucu untuk kita, kita akan jadi nenek dan kakek" Sonia begitu gembira memberi kabar pada suaminya itu.
Anggara yang sudah mengerti pun ikut gembira mendengarnya. "Akhirnya anak nakal itu membuka diri juga pada Jihan".
__ADS_1
"Tungga Mama harus menelfon Jihan lagi, Mama harus beri Jihan rencana padanya"
Anggara mengernyit heran rencana apalagi yang sudah istrinya siapkan untuk Jihan.
Sonia menelfon Jihan kemudian diangkat oleh Jihan.
"Halo Jihan ? kau mendengar mama ?"
'iya Ma, ada apa ?'
"Jihan, coba kau pakai satu pakaian yang sudah mama berikan tempo hari padamu malam ini. Mama yakin nanti Zio semakin tergila-gila padamu !" jawab Sonia antusias.
"I..iya Ma'
"Bagus ! Sudah Mama tutup telfonnya, semangat ya sayang" Sonia menutup telfonnya dengan senyuman terus mengembang dibibirnya. Sedangkan Anggara menggelengkan kepala dengan apa yang Sonia ucapkan pada Jihan.
Kembali ke Jihan dan Zio. Jihan menatap Zio yang tidur dengan posisi terlungkup. Setelah aksi menjebol gawang itu gagal, Zio langsung merebahkan diri dan tidur.
Sedangkan Jihan merasa selamat malam ini karena Zio gagal untuk menyentuh dirinya. Jujur saja ia belum siap jika ingin memberikan mahkota berharga itu pada Zio. Karena Zio sendiri belum menyatakan cinta padanya.
Ia ingin memberikan kehormatannya pada Zio jika Zio benar-benar mencintai dirinya bukan hanya sekedar nafsu saja.
__ADS_1