
"Sayang kau kenapa ?" tanya Zio pada Jihan yang kini sedang duduk di balkon kamar.
Malam ini Jihan memandang suasana malam yang begitu sejuk mungkin tengah malam nanti akan turun hujan.
"Tidak Mas, duduklah disini temani aku." sambut Jihan pada suaminya mengajak suaminya duduk disampingnya.
"Apa Keenan sudah tidur ?" tanya Jihan ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Iya dia sudah tertidur, Keenan begitu manja padaku jika ingin tidur pasti minta digendong dulu pada Daddy nya." jawab Zio sambil tersenyum sedangkan Jihan terkekeh mendengarnya memang benar Keenan sangat manja pada Zio.
"Ternyata menjadi seorang Ayah tidak semudah yang ku pikirkan." lirih Zio
Jihan menggenggam tangan suaminya memberikan semangat pada suaminya sebagai orang tua baru tentu tidak mudah bagi Jihan dan Zio merawat seorang anak apalagi anak mereka masih bayi.
__ADS_1
"Akan menjadi mudah jika kita sudah belajar merawatnya, kelak suatu saat aku hamil lagi dan memiliki anak lagi pasti kita tidak akan terkejut lagi merawat seorang anak." ucap Jihan
"Kau benar, kita sama-sama harus saling menguatkan dan membantu merawat anak kita. Sayang. Aku terkadang tidak habis pikir dengan beberapa kasus orang tua terutama para suami yang tega sekali menyerahkan tanggung jawab mengurus anak hanya pada istrinya. Padahal itu tugas dan tanggung jawab bersama selaku orang tua." ucap Zio menerawang saat ia pernah melihat kasus seorang suami yang tidak mau ikut mengurus anaknya hingga membuat istrinya mengalami Baby Blues pasca melahirkan.
"Iya Mas, kau benar. Kebanyakan Ibu yang baru melahirkan terkena sindrom baby blues karena tidak memiliki sandaran yaitu suami yang bisa menjadi tempatnya berkeluh kesah karena mengurus anaknya. Dan aku sangat bersyukur karena memiliki suami dan Mama Sonia yang selalu membantuku, menyemangati ku, dan mendukungku dalam mengurus Keenan." jawab Jihan dengan ketulusan.
"Aku pun jauh lebih bersyukur memiliki istri sepertimu yang membuatku menjadi seorang suami yang sempurna dan bahagia." ucap Zio tersenyum manis ia kemudian mengecup kening dan bibir istrinya.
Kecupan itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah lum.atan dan Jihan membalas ciuman suaminya dengan saling membelit lidah dan bertukar silvanya.
"Kau menolak ku ya ?" Zio tersenyum smirk. Jihan kemudian berlari dari hadapan suaminya hingga terjadilah aksi kejar kejaran antara mereka.
"Kejar aku kalau bisa" ucap Jihan memberi tantangan pada suaminya.
__ADS_1
"Oh kau meragukan aku, baiklah. Sini kau !" balas Zio mengejar Jihan ke sana ke mari. Bukan Jihan namanya jika tidak bisa menghindar dari Zio.
Sedari tadi Zio tak berhasil menangkap Jihan nafasnya sudah memburu karena mengejar istrinya yang sangat lincah itu.
"Huh...Sayang nafasku sesak." ucap Zio memegangi dadanya berpura-pura sakit di hadapan Jihan.
Jihan panik kemudian mendekati suaminya ia kemudian membantu suaminya duduk di tepi ranjang.
"Mas tidak apa-apa ? Mas jangan menakut-nakuti ku." tanya Jihan yang terlihat gusar karena takut.
"Sepertinya jantung Mas sakit." balas Zio masih berpura-pura sakit dan memegangi dadanya. Namun tiba-tiba ia menangkap Jihan dengan kedua tangannya "Kena kau, Sayang !" Zio dengan cepat memegang kedua tangan Jihan hingga istrinya itu terjerembab di atas kasur dengan posisi Zio di atasnya.
"Mas berbohong ya ! Sudah seperti Mama saja pura-pura sakit jantung." gerutu Jihan pada suaminya.
__ADS_1
Zio menaikkan kedua alisnya saat Jihan mengatakan ia pura-pura sakit jantung seperti Mamanya. Ia jadi teringat saat Mama Sonia yang jatuh sakit saat ia bertengkar dengan Mamanya kala tak mau membawa Jihan tinggal bersamanya di apartemennya.
"Apa !" ucap Zio agak meninggi.