
Zio terbangun dari tidurnya kondisinya masih sama seperti semalam hanya bertelanjang dada dan memakai celana pendek. Zio mengedarkan ke seluruh kamar, karena ia tak mendapati keberadaan Jihan.
Zio berjalan ke kamar mandi dan membuka pintu. Zio menelan kasar silvanya saat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya. Jihan sedang dalam keadaan tanpa busana dibawah guyuran air.
Zio tak menyangka kalau Jihan memiliki bentuk tubuh yang sangat indah. "Seksi" kata itu lolos begitu saja dimulutnya.
Jihan merasa mendengar ucapan seseorang ia kemudian berbalik, betapa terkejutnya ia saat tahu Zio ada di dalam kamar mandi juga.
"Aaaa..."
Jihan berteriak kencang kemudian menutupi bagian sensitifnya. Buru-buru meraih handuk disampingnya. Bahkan Jihan mengambil botol shampo dan melemparkannya pada Zio.
"Keluar ! dasar mesum !" teriak Jihan.
Zio refleks menghindar saat Jihan melemparinya dengan botol shampo. Jihan mendorong Zio keluar dari kamar mandi sampai terjungkal ke belakang. Dan langsung menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya.
"Dasar mesum ! Huaaa...tubuhku sudah dilihatnya aku tidak perawan lagi huaaa.." Jihan menangis histeris di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan Zio memegangi bokongnya yang terasa ngilu saat terjatuh. Ia mendengar suara Jihan dalam kamar mandi yang menangis kencang. Ia jadi bingung harus bagaimana.
Lama Jihan di kamar mandi tak kunjung keluar Zio membiarkannya saja. Mungkin baginya Jihan butuh sendiri dulu. Bahkan Zio memakai kamar mandi di dapur untuk membersihkan dirinya.
Setelah Zio mandi ia berencana membujuk Jihan agar mau memaafkannya. Zio membuatkan sarapan untuk Jihan. Ia memasak pancake. Sebetulnya Zio sangat pandai memasak namun ia tidak banyak memiliki waktu luang karena sibuk bekerja. Jadi ia lebih sering memesan makanan atau pergi makan direstoran.
Saat pancakenya selesai ia buat berbarengan pada saat itu juga Jihan keluar dari kamar. Jihan menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini kalau Zio sedang memasak sarapan.
"Jihan kemarilah" sapa Zio setelah meletakkan pancake diatas meja. Jihan mendekat ke arah Zio di lihatnya Zio sedang menuangkan saus strobery diatas pancake tersebut.
Jihan hanya diam tak menanggapi jujur saja hatinya terasa hangat saat Zio memperlakukannya bak seorang ratu. Zio memasak untuknya untuk yang pertama kalinya.
Jihan mengiris satu potong pancake tersebut dan menusukkannya dengan garpu lalu mamakannya.
"Bagaimana apa rasanya enak ?" tanya Zio yang terus menatap Jihan sedangkan Jihan tidak menatapnya sama sekali.
"Iya" Jihan menjawab singkat.
__ADS_1
Zio menghembuskan nafasnya pelan kemudian ia menggenggam tangan Jihan, Jihan menoleh ke arah Zio. "Maafkan aku, aku tidak tahu kalau pintu kamar mandinya tidak kunci" lirih Zio merasa bersalah.
Jihan mencoba menarik nafasnya kemudian menghembuskannya kejadian barusan sangat membuatnya terkejut. Ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Zio, karena ia sendiri juga salah karena lupa mengunci pintu kamar mandi.
Jihan berdiri dari duduknya dan hendak kembali ke kamar namun tubuhnya langsung ditahan oleh Zio. Zio memeluk dirinya dari belakang dengan erat.
"Maaf..." bisik Zio
Jihan melepaskan pelukan tangan suaminya itu kemudian Zio membalikkan tubuh Jihan menghadapnya.
"Jangan diam saja, Ji. Aku resah jika kau mendiamkanku" protes Zio memegang kedua pundak Jihan.
Jihan mengela nafasnya "Tidak apa-apa aku juga salah karena tidak mengunci pintunya" lirih Jihan.
Zio tersenyum senang kemudian membawa Jihan dalam pelukannya. Ia benar-benar takut jika Jihan terus marah kepadanya. Entah kenapa Zio merasa sakit hati jika Jihan mendiamkannya.
"Terimakasih" Zio menatap manik mata Jihan dan mengecup kening Jihan dengan lembut.
__ADS_1