
Pagi hari mentari telah menampakkan cahayanya kedua insan yang masih terlelap dalam tidurnya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya.
Berbeda dengan Sonia dan Anggara pasangan pengantin tua itu sedang menikmati sarapan berdua saja dimeja makan.
"Kenapa Zio dan Jihan belum turun juga, padahal ini sudah pukul sembilan pagi." ucap Sonia sembari mengupas buah apel ditangannya dengan pisau.
"Biasa pengantin baru, bangunnya kesiangan. Apalagi ini hari libur." Anggara menyahuti ucapan Sonia.
"Tapi tidak biasanya juga Jihan bangun siang."
"Mungkin semalam ramuannya bekerja." jawab Anggara keceplosan, ia dengan cepat langsung menutup mulutnya.
"Ramuan apa ?!" tanya Sonia cepat ia menatap suaminya dengan penuh selidik, hal itu membuat Anggara bergedik ngeri melihat tatapan tajam Sonia padanya.
"Ah..an..anu" Anggara terbata-bata bingung mau menjawab apa.
"Anu apa ? Papa jangan macam-macam ya pada anak dan menantu kita, atau Papa mau...." Sonia mengarahkan pisau kearah pisang ambon yang ada didepannya dan langsung memotongnya menjadi dua bagian.
__ADS_1
Anggara membulatkan matanya ia memegangi senjata terawat miliknya yang berbalut celananya. Membayangkan itu Anggara menjadi bergedik ngeri serta bulu kuduknya merinding.
"Ja..jangan Ma, nanti Mama tidak bisa lagi merintih nikmat jika milik Papa dipo..tong." Anggara menelan silvanya saat menyebutkannya, ia tak bisa membayangkan hal semengerikan itu jika terjadi pada miliknya yang masih gagah perkasa meski diusianya yang tak lagi muda.
Sonia mendengus kesal melihat suaminya itu, ia kemudian menyudahi sarapannya dengan kembali ke kamarnya. Sedangkan Anggara mengusap kasar wajahnya, ia tahu istrinya itu pasti merajuk padanya karena ia sudah mengerjai Zio dengan meminum ramuan miliknya.
.......
Jihan menggeliat dari tidurnya ia mengerjapkan kedua matanya dan memandang langit-langit kamar. Lalu ia menoleh ke samping dilihatnya suaminya yang masih tertidur pulas. Ia memandangi suaminya itu ternyata suaminya benar-benar tampan, gagah dan berkharisma.
Jihan memegang rahang tegas milik suaminya suatu maha karya ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, wajar saja jika suaminya banyak sekali dikagumi oleh kaum hawa.
"Sudah lama tahunya kalau suamiku ini sangat tampan." balas Jihan dengan senyuman manisnya.
"Oh ya, sejak kapan ?" Zio mengeratkan pelukannya pada pinggang istrinya itu.
"Sejak dirumah sakit, ketika Mas mengajakku menikah." ucap Jihan pelan ia menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Zio menatap wajah istrinya itu ia terpengarah tak menyangka jika istrinya itu sudah menyukai dirinya sedari awal mereka bertemu.
"Jadi kau sudah menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu ?"
"Iya tentu saja, hanya saja aku selalu menepis perasaanku. Terlebih saat Mas masih menjalin hubungan dengan Cindy." Jihan mengerucutkan bibirnya saat mengingat suaminya itu masih bersama dengan Cindy bahkan selalu mengabaikan dirinya.
"Sudah jangan bahas wanita itu lagi." pinta Zio ia benar-benar seperti anti pada yang namanya Cindy, terlebih jika mengingat prilaku Cindy dan kebohongan yang ia buat selama ini padanya.
"Baiklah..ciee yang sudah move on." ledek Jihan pada suaminya. Zio mendelikkan matanya saat istrinya mencoba menggoda dirinya.
Tiba-tiba Jihan terpekik kaget saat sadar mereka telah bangun kesiangan.
"Astaga !" pekik Jihan terduduk dari tidurnya.
"Ada apa sayang ?" Zio panik saat Jihan memekik.
"Kita kesiangan Mas, lihat ini sudah jam 10 pagi. Kita bahkan melewat kan sholat subuh !"
__ADS_1
Zio mengusap kasar wajahnya saat mengingat kejadian semalam ia benar-benar hilang kendali menggauli Jihan hingga pukul empat pagi, semua itu karena ulah Papanya yang memberikan ramuan laknat padanya.
"Sialan semua ini karena ulah ramuan laknat dari Papa. Awas saja Papa, tunggu pembalasanku." ucap Zio dalam hati.