
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh. Jihan terbangun dari tidurnya karena hendak menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Jihan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah usai mandi ia masih memakai handuk dengan rambut yang sudah basah sehabis keramas.
Jihan melihat suaminya yang masih tertidur pulas itu mencoba membangunkannya. "Mas, ayo bangun sholat subuh." Jihan menepuk-nepuk punggung suaminya.
Zio menggeliat dilihatnya istrinya itu sudah tampak lebih segar karena sudah mandi. "Kau sudah mandi, tidak mengajakku." Zio mendengus sebal karena tidak diajak mandi bersama.
"Kalau mandi berdua, pasti nanti bukan hanya mandi saja. Mandilah aku tunggu, kita sholat berjamaah." ajak Jihan
Zio langsung tersenyum senang saat Jihan mengajaknya beribadah bersama, ia menjadi semangat empat lima karena ia akan mengubah diri dan menjadi imam yang baik untuk keluarganya mulai saat ini.
"Baiklah Ibu Negara." Zio mencium pipi Jihan sekilas dan masuk ke dalam kamar mandi. Jihan menjadi semakin berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis suaminya itu.
Setelah Zio mandi dan berpakaian ia melakukan sholat berjamaah bersama Jihan. Ia menadahkan tangannya berdoa memohon ampun dan perlindungan kepada yang kuasa atas dosa dan perbuatannya yang pernah lalai dalam menjalankan kewajiban, bahkan tak mengindahkan larangan-Nya.
Sekelebat ingatannya pada masa lalu terutama dengan mantan kekasihnya Cindy. Bahkan ia sudah sering melakukan dosa dengan berzina. Ia meneteskan air mata, sadar perbuatannya itu merupakan suatu dosa besar yang sangat dibenci oleh Tuhan.
__ADS_1
Zio menyudahi doanya tubuhnya berbalik menatap istri cantiknya itu. Jihan mencium punggung tangan suaminya dengan khidmat. Sedangkan Zio mengecup kening Jihan dengan penuh cinta dan rasa syukur, karena Tuhan sudah memberikannya istri sebaik Jihan untuknya.
"Kenapa menangis ?" Jihan melihat sudut mata suaminya yang masih terdapat sisa air mata. Ia tahu kalau suaminya itu menangis saat berdoa barusan.
"Aku terlalu banyak dosa, Ji." lirih Zio menatap sendu wajah Jihan.
"Tidak ada dosa umat yang tidak dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan, asalkan kita benar-benar mau bertobat." Jihan mengelus punggung tangan suaminya itu menguatkan dan berusaha menjadi sandaran untuknya.
"Aku malu pada diriku sendiri, seharusnya kau mendapat suami yang lebih baik dari pada aku yang berengsek ini."
"Sudahlah Mas, mungkin ini sudah takdirku menjadi istrimu agar bisa merubahmu menjadi lelaki dan suami yang lebih baik."
.......
Saat sarapan bersama Sonia dan Anggara melihat interaksi antara Zio dan Jihan mereka begitu bahagia melihat anaknya.
"Mau selai coklat atau stroberi ?" Jihan menanyakan pilihan selai pada suaminya.
__ADS_1
"Coklat dan bertabur keju." jawab Zio tersenyum manis.
"Pakai olesan cinta dan sayang juga kan, Zio ?" Anggara menyeletuk membuat pipi menantunya merona malu, sedangkan Zio mendelik menatap tak suka pada Papanya.
"Bilang saja Papa iri padaku !" jawab Zio sengit.
Mulut Anggara menganga mendengar ucapan yang diberikan oleh anak semata wayangnya. "Ma, sepertinya Papa iri melihatku dilayani istriku sendiri." sunggut Zio sambil menyuapkan seiris roti dimulutnya.
"Sudah-sudah jangan ribut lagi, kepala Mama bisa pusing nanti." balas Sonia yang malas menanggapi suami dan anaknya.
"Jihan pulang kuliah nanti pulang jam berapa ?" tanya Sonia cepat.
Jihan meletakkan segelas susu yang diminumnya ke atas meja. "Sekitar jam dua belas Ma, ada apa ?"
"Nanti Mama jemput ya, temani Mama membeli tas baru." ajak Sonia
"Oh iya baiklah" Jawab Jihan tersenyum manis.
__ADS_1
Kebahagiaan mengisi keluarga Argantara saat melihat anak dan menantunya begitu harmonis. Anggara dan Sonia sangat bersyukur karena memiliki menantu yang dapat merubah anaknya menjadi lebih baik.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua." ucap Sonia dalam hati.