ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
MALAM MINGGU


__ADS_3

Hari berubah menjadi malam Jihan duduk dibalkon seorang diri. Tiba-tiba Zio datang duduk disebelah Jihan dengan membawa gitar.


Jihan menatap suaminya itu, dia memainkan gitarnya sambil sesekali tersenyum pada Jihan.


Zio tahu kalau Jihan masih dalam mode ngambek padanya. "Kau bisa bernyanyi kan ?" tanya Zio.


"Tidak bisa" bohong Jihan padahal dirinya disekolah pernah mendapatkan juara dua dalam perlombaan pentas seni.


"Aku pernah melihat pialamu waktu itu, kau pernah mendapatkan juara kedua dalam bernyanyi. Ayolah Jihan bernyanyilah aku akan memainkan gitarnya" bujuk Zio.


"Tidak mau" Jihan kekeh dengan pendiriannya.


"Kau mau bernyanyi atau mau aku cium ?" ucap Zio agak mengancam Jihan dengan sebuah pilihan.


Jihan membulatkan matanya saat Zio memberikan pilihan padanya. Kemudian ia mengalah lebih baik dirinya bernyanyi dari pada dicium oleh Zio. "Baiklah aku akan bernyanyi" lirihnya.


Tenggelam, jiwaku dalam angan


Tersesat, hilang, dan tak tahu arah


Ku terjebak masa lalu yang kelam


Tak kulihat lagi cahaya cinta


Dan kamu hadir coba bawa bahagia


Ketika ku masih mati rasa


Dia yang pertama membuatku cinta

__ADS_1


Dia juga yang pertama membuatku kecewa


Kamu yang pertama menyembuhkan luka


Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta


Jadi kisah yang sempurna....


Zio menghentikan petikan gitarnya. Jihan dan Zio saling tatap kemudian keduanya sama-sama melemparkan senyuman. Zio kembali memainkan gitarnya kali ini ia yang benyanyi dan hanya Jihan mendengarkannya.


Dia indah meretas gundah


Dia yang selama ini ku nanti


Membawa sejuk memanja rasa


Dia yang selalu ada untukku


Bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku ku milikmu

__ADS_1


Bila di depan nanti


Banyak cobaan untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya aku ku punya kamu selamanya kan begitu...


Zio menghentikan nyanyian dan petikan gitarnya dirasa Jihan sudah tidak merajuk lagi padanya. Zio mulai membuka obrolan.


"Jihan ini malam apa ?" tanya Zio basa basi.


"Malam minggu" Jihan menjawab sambil mengunyah snack kentang goreng.


"Kau tahu saat aku masih SMA aku sering sekali keluar dimalam minggu bersama teman-temanku, kami sering menghabiskan waktu dengan nongkrong dan bermain gitar."


Jihan mendengarkan Zio "Lalu..?"


"Dulu pergulanku hanya sebatas itu saja, tapi semenjak Rayyan ikut tinggal bersama kami aku jadi berubah menjadi laki-laki yang diluar batas"


"Kak Ray, pernah tinggal dirumah Mama Papa ?" tanya Jihan penasaran karena baik Mama ataupun Papa tidak pernah memberitahu Jihan kalau Ray pernah tinggal disana.


"Iya dia tinggal bersama kami saat masuk kelas XII" jawab Zio "Dulu kupikir Ray anak yang baik ternyata aku salah, dia sering merokok, minum-minuman keras, dan bermain perempuan"


"Benarkah ? tapi dia sangat baik Mas, mana mungkin dia seperti itu" sangkal Jihan karena ia tak percaya dengan ucapan Zio.


"Jangan tertipu dengan tampilan luarnya, diluar dia mungkin baik tapi aslinya dia sangat buruk."


"Aku mengenal rokok, minuman dan juga sexs bebas karena mengikuti dia. Tapi satu yang aku sesali dari diriku padanya aku tak mempercayai perkatannya tentang Cindy."

__ADS_1


"Waktu itu dia pernah bercerita padaku kalau Cindy itu mantan simpanan lelaki hidung belang, belum lagi Cindy mendapatkan popularitasnya karena berhubungan dengan bosnya sendiri"


"Aku tidak mempercayai itu semua karena aku sangat mencintai Cindy. Tapi ternyata Ray benar apa yang dikatakan oleh Ray benar adanya dia tidak berbohong sama sekali" lirih Zio merasa menyesal karena tidak percaya pada Ray dahulu.


__ADS_2