ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
BERTEMU BIANCA


__ADS_3

"Tuan, tubuh Valeria panas, sepertinya ia demam." ucap Bianca dalam sambungan telfon pada Romi.


Beberapa waktu lalu Romi bertemu dengan Bianca di salah satu cafe. Ia membawa Baby Valeria ke sana untuk membeli kopi. Entah kenapa pada waktu itu Valeria tidak berhenti menangis hingga memancing perhatian Bianca yang sedang bekerja sebagai pelayan di sana.


Berbekal pengetahuan sebagai calon seorang dokter Bianca mencoba membantu mendiamkan Bayi yang ada di dalam stroller tersebut, dan pada akhirnya Bianca mampu mendiamkan Valeria pada saat itu.


Mulai dari kejadian itulah Romi meminta Bianca menjadi pengasuh anaknya. Romi bahkan menawarkan gaji 20 juta perbulan jika Bianca mau menjadi pengasuh anaknya. Tentu saja Bianca tidak mau mesia-siakan kesempatan itu, apalagi ia harus membayar uang kuliah dan sewa kost yang masih menunggak. Pada akhirnya Bianca menerima tawaran Romi. Bahkan Romi menyuruh Bianca untuk tinggal dirumahnya agar Bianca tak repot pulang pergi untuk merawat Valeria.


Bianca membawa Valeria ke rumah sakit setelah menelfon Romi. Romi tidak bisa mengantar Valeria karena posisinya saat ini sedang berada di Singapura karena urusan bisnis menggantikan tugas Bosnya siapa lagi kalau bukan Fabrizio.


Setelah sampai di rumah sakit, Valeria segera diperiksa oleh dokter anak. Setelah ditanyakan kalau Valeria hanya mengalami panas saja efek dari imunisasi, Bianca bernafas lega. Ia kemudian hendak membawa pulang Valeria.


Saat ia hendak pulang tiba-tiba ia melihat Jihan dan Zio yang juga hendak meninggalkan rumah sakit yang sama dengan dirinya. Pandangan mereka saling bertemu, Bianca tidak enak hati dan masih malu dengan kejadian beberapa bulan lalu pada Jihan. Ia tak berani menatap Jihan barang sedetik pun.


Jihan menyapa Bianca hingga Bianca hanya bisa tersenyum kikuk sambil memegang erat stroller yang ia dorong. Mata Jihan menyipit kala melihat Valeria bersama Bianca. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Valeria bisa bersama dengannya.

__ADS_1


"Kenapa Valeria bersamamu ?" tanya Jihan pada Bianca


"Ah...Iya aku menjadi pengasuh Valeria sudah hampir dua bulan ini." balas Bianca pelan ia kemudian menggigit bibirnya karena merasa malu pada Jihan.


Zio yang melihat tampilan gadis dihadapannya kini ia tersenyum puas dalam hatinya ternyata ia bisa membuat gadis sombong dan jahat tersebut menjadi tak punya apa-apa. Bahkan Bianca sampai bekerja sebagai pengasuh.


"Jihan, aku minta maaf soal perbuatanku waktu itu. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal dan bersalah padamu." lirih Bianca


Jihan tersenyum mendengar ucapan maaf Bianca pada dirinya. Sebenarnya tanpa Bianca meminta maaf pun ia sudah memaafkannya. Karena tak baik menurutnya jika menyimpan dendam.


"Kau baik sekali Jihan, terima kasih." ucap Bianca kemudian memeluk Jihan.


"Apakah aku boleh berteman denganmu ?" ucap Bianca lagi


"Tentu saja, kita bisa berteman mulai sekarang." balas Jihan tersenyum manis.

__ADS_1


Zio merangkul Jihan ia begitu bangga pada istrinya itu karena memiliki hati yang besar untuk memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Bahkan istrinya itu tidak dendam pada Bianca yang ada istrinya mau menjalin pertemanan dengan Bianca.


"Kau sungguh berhati besar." ucap Zio pada istrinya saat Bianca sudah lebih dahulu pergi.


"Tidak baik jika menaruh dendam, Mas. Bukankah memaafkan jauh lebih baik dari pada meminta maaf." jawab Jihan sambil berjalan menggenggam tangan suaminya.


"Iya kau benar sekali. Aku semakin bersyukur dan bangga memiliki istri sepertimu." puji Zio pada Jihan


"Aku mencintaimu." sambung Zio lagi


"Aku pun lebih mencintaimu." balas Jihan dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ayo pulang, aku tidak sabar menjenguk bayi kita malam ini." ucap Zio mengedipkan satu matanya ke arah Jihan hingga istrinya itu mendelik keheranan.


"Dasar suami mesum." ucap Jihan dalam hati

__ADS_1


__ADS_2