
Hari ke empat Jihan dan Zio di Paris, saat ini sedang berada dipusat perbelanjaan di Paris. Mereka hendak membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tanah air. Setelah mereka selesai membeli apa yang mereka inginkan.
Zio mengajak Jihan untuk malam di restoran Lee Jules Verne restoran yang terletak dimenara eiffel. Zio memesan makan malam romantis untuk dirinya dan Jihan disana.
Jihan merasa senang dan kagum dengan makan malam yang disiapkan oleh suaminya itu.
"Apa kau bahagia bersamaku ?" tanya Zio menggenggam tangan istrinya.
"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku bahagia bersamamu." jawab Jihan tersenyum manis.
"Terimakasih sudah menerimaku yang banyak kekurangan ini, aku bersyukur memiliki istri sepertimu."
"Iya aku pun bersyukur dicintai oleh lelaki sepertimu Mas." balas Jihan mengelus rahang tegas milik suaminya itu.
Zio tersenyum manis dan mendekatkan wajahnya ke arah istrinya kemudian ******* bibir istrinya.
"Aku mencintaimu, Jihana Almayra." Zio menyatukan kening mereka.
"Aku juga mencintaimu, Tuan Zio." balas Jihan senyuman dibibirnya.
__ADS_1
Setelah melewati makan malam yang romantis itu mereka kembali ke kamar hotel. Lagi-lagi Zio kembali mengajak istrinya untuk berolahraga panas diatas ranjang.
Aaaahhhhh
Jihan mende.sah saat tangan kekar suaminya itu meremas kedua gundukan kembar miliknya. Zio memainkannya dengan meremas bahkan menyecap bulatan padat nan kenyal itu secara bergantian.
Zio menjamah setiap inci tubuh Jihan tanpa terlewat sedikitpun. Ia memainkan dengan lidahnya di bagian inti Jihan, hingga Jihan merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa nikmat yang luar biasa, suaminya itu benar-benar handal dalam urusan ranjang.
Aaaaaahhhh
Zio membenamkan miliknya ke dalam milik Jihan. Ia menggerakkannya secara perlahan dan kemudian dengan tempo yang cepat hingga suara kamar mereka dipenuhi erangan, des.sahan mereka berdua.
Aaahhhhh aaaahhhh aaaahhhh
Jihan i love you....aaaaaahhhhhh
Zio menembakkan lahar panas ke dalam-dalam di rahim istrinya ia mengecup perut rata istrinya, ia selalu berdoa semoga akan segera hadir calon anak-anaknya kelak.
"Apa dia sudah ada disini." ucap Zio meraba perut rata istrinya.
"Mana ku tahu Mas, lagi pula ku aku belum mendapat haidku bulan ini." jawab Jihan pelan.
__ADS_1
"Benarkah ?" jawab Zio antusias karena mungkin saja istrinya itu sudah mengandung anaknya karena Jihan belum mendapatkan haidnya.
Jihan menganggukkan kepalanya kemudian memeluk erat suaminya itu. "Besok kita pulang jam berapa ?" tanya Jihan
"Sekitar jam sepuluh pagi." Zio mengelus rambut istrinya dengan lembut. "Apa kau tahu besok lusa adalah hari pernikahan antara Rayyan dan Mayang."
"What !" pekik Jihan yang langsung berubah posisi menjadi duduk. "Bagaimana bisa ?" tanya Jihan cepat.
"Kedua orang tua mereka sepakat menikahkan mereka berdua, Sayang. Sepertinya kita akan kondangan ke pernikahan Rayyan dan Mayang." terang Zio
"Mereka tidak saling mencintai Mas, sama seperti kita sewaktu awal menikah. Bagaimana jika kisah mereka tidak sama seperti kita yang berakhir bahagia." lirih Jihan ia sangat khawatir membayangkan nasib Mayang jika ia tidak bahagia pada pernikahannya.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu Sayang. Aku yakin hanya Mayang yang bisa merubah sifat dan prilaku Rayyan. Kita berdoa saja semoga pernikahan mereka nanti bahagia seperti kita." Zio mencoba memberikan pengertian pada Jihan agar tidak terlalu khawatir pada sahabatnya itu.
Jihan menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. "Tapi Mas tahu sendiri Kak Ray itu..." ucapan Jihan terpotong saat Zio ******* bibirnya secara tiba-tiba.
"Sudah jangan bicarakan mereka berdua, kita sedang berbulan madu."
Cup
Zio kembali mengecup bibir istrinya hingga Jihan diam tak berani lagi membicarakan prihal Rayyan dan Mayang.
__ADS_1
"Ayo kita bikin lagi calon Fabrizio dan Jihana junior." Zio tersenyum manis kemudian membawa Jihan ke arah balkon, dimana dibalkon tersebut ada sofa panjang. Zio mengajak Jihan bercinta disana dengan melihat pemandangan menara eiffel yang begitu indah dimalam hari.