
"Fabrizio akan melakukan konferensi pers siang ini, mengenai hubungan kalian yang sudah berakhir"
"Apa yang kau katakan ?!" suara Cindy meninggi saat menerima panggilan telefon dari managernya.
"Apa kau tidak tahu ?"
Cindy mematikan telfonnya sepihak ia berteriak kencang di dalam apartemennya. Ia membanting apa saja yang ada dihadapannya.
"Aaaaaa Fabrizio !"
"Susah payah aku membunuh saudariku sendiri demi menjadi seorang Cindy ! aku tidak terima jika harus kehilanganmu !" tangis Cindy pecah
"Ini tidak boleh terjadi aku harus melakukan sesuatu !" Cindy mengacak-acak rambutnya asal.
Tiba-tiba terbesitkah ide yang membuat Zio pasti akan menemui dirinya dan membatalkan konferensi pers tersebut.
Cindy dengan sengaja mengiris lengannya dengan pecahan kaca. Darah itu menetes dan mengalir dengan deras. Cindy memfoto lengannya itu dan dikirimkannya pada Zio.
'Selamat tinggal semoga kau bahagia tanpa aku' tulis Cindy dalam pesan WA yang dikirimkan untuk Zio.
__ADS_1
Di sisi lain Zio sedang mendengarkan asisstennya yang bernama Romi membacakan jadwal dirinya menghentikan ucapan Romi. Zio melihat ponselnya ia membulatkan matanya saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Cindy.
Tak lama panggilan nomor baru masuk di dalam ponselnya. Zio mengangkat panggilan itu ternyata Manager Cindy menelfon dirinya memberitahukan keberadaan dan keadaan Cindy.
"Tuan Zio, Cindy mencoba mengakhiri hidupnya. Dia dilarikan ke rumah sakit Diamon sekarang !"
Zio langsung memasukkan ponseknya ke saku celananya dan menyambar jas miliknya.
"Tuan mau kemana ?" tanya Romi yang melihat ke panikan Zio.
"Aku ada urusan, batalkan jadwalku hari ini !" ucap Zio tegas.
"Termasuk konferensi pers ?" Romi bertanya lagi.
Namun disisi lain ia juga memikirkan Jihan, baru saja ia mendapatkan kepercayaan dari istrinya itu. Tapi apakah ia harus membuat Jihan kembali terluka ?
Zio memijit pangkal hidungnya mendadak ia menjadi pusing dihadapkan oleh dua masalah yang berhubungan dengan wanita.
"Kau punya solusi, Rom ?" tanya Zio ia sudah prustasi mendadak pikirannya menjadi buntu.
__ADS_1
Romi yang memahami kondisi Bosnya itu mendudukkan diri dikursi menghadap Bosnya yang memejamkan mata dengan memandang langit-langit ruang kerjanya.
"Siapa yang lebih penting bagimu saat ini, Tuan ?" tanya Romi ia ingin tahu siapa wanita yang benar-benar penting dalam hidupnya, istri atau mantan pacarnya.
"Tentu saja Jihan, dia istriku !" jawab Zio cepat
"Jika istri Tuan lebih penting, seharusnya Tuan lebih memilih menjaga perasaan istri Tuan. Nona Cindy mungkin lebih penting saat ini karena ia nekat mengakhiri hidupnya. Tapi coba Tuan ingat lagi bukankah nona Cindy sudah menorehkan luka pada Tuan ?"
"Jangan memantik api dalam hubungan Tuan dan calon istri Tuan hanya karena Tuan iba dan kasihan pada nona Cindy" Romi mencoba memberikan pengertian pada Bosnya itu agar tidak salah dalam menentukan pilihan.
"Jadi aku harus bagaimana ?" lirih Zio ia masih bimbang keputusan apa yang harus yang ia pilih.
Romi menghela nafasnya kemudian ia memberikan ide pada Bosnya itu agar ia tak merasa bersalah dengan Cindy dan mengecewakan istrinya.
"Kalau boleh saya kasih saran, sebaiknya Tuan lanjutkan konferensi pers nanti. Soal nona Cindy biar saya yang mengurusnya. Saya bisa memberikan alibi jika Tuan sedang sibuk atau ada keperluan lain yang lebih penting."
"Kau benar, jika aku menemui Cindy bukankah aku akan terus terjebak dalam belenggu cintanya ?"
"Benar Tuan"
__ADS_1
"Baiklah kau temui Cindy di rumah sakit aku akan tetap dikantor, jika kau sudah selesai disana segeralah kembali ke sini" titah Zio kembali bersemangat setelah mendapatkan ide dari asisstennya.
"Baik Tuan"