ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
BABY VALERIA


__ADS_3

Siang harinya Zio tersenyum puas saat melihat keterangan di warung bakso yang akan ia dan Jihan singgahi ternyata tutup. Jihan mendengus kesal karena tidak bisa memakan bakso yang ia inginkan.


"Aku mau pulang." ucap Jihan dengan nada yang ngambek.


"Bagaimana kalau ke kantor saja, di rumah kau pasti bosan karena sendirian." jawab Zio


"Ya sudah, ayo kita ke kantor." lirih Jihan


Beberapa saat kemudian Jihan dan Zio sudah berada di kantor. Mata Jihan menyipit kala melihat ruangan Romi yang terbuka dan samar-samar terdengar suara tawa bayi di sana.


"Sepertinya ada suara bayi di ruangan Romi." ucap Jihan pelan pada suaminya.


"Iya, kau belum pernah melihat anak Nindy bukan ? Romi mengadopsi anaknya." terang Zio


"Benarkah ?" Jihan terkejut mendengar ucapan suaminya selama ini ia tak mengetahui jika Romi mengadopsi bayi yang dilahirkan Nindy. "Kenapa tidak memberitahuku ?" lirih Jihan


"Untuk apa sayang ? kurasa itu hal yang tidak perlu karena Nindy hanya masa laluku." jawab Zio ia memang tak pernah memberitahu prihal Nindy pada Jihan, karena masa lalu dirinya menurutnya tak perlu ia ceritakan pada Jihan agar istrinya itu tidak banyak pikiran karena ia tak mau terjadi apa-apa dengan bayi mereka yang masih dalam kandungan istrinya.


"Apakah aku boleh melihat bayinya ?" pinta Jihan


Zio tersenyum manis dan menggenggam tangan istrinya "Ayo, kita ke sana." ucap Zio

__ADS_1


Jihan masuk keruangan Romi bersama suaminya. Ia melihat lelaki berumur 29 tahun itu sedang mengerjakan tugas kantor sambil bernyanyi bersama seorang bayi perempuan yang tengah berbaring di dalam stroller.


Romi menoleh ke arah Jihan dan Zio yang datang bersamaan ia menunduk hormat. Jihan mendekat ke arah bayi tersebut dan mengajaknya berbicara meskipun bayi itu belum tahu apa yang dikatakan oleh Jihan.


"Hai manis...kau cantik sekali." Jihan memegang tangan bayi itu dengan gemas. "Siapa namanya ?" tanya Jihan pada Romi


"Valeria, Nyonya." balas Romi dengan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


"Nama yang cantik, kenapa tidak memakai jasa pegasuh bayi ? bukankah akan repot membawa bayi sambil bekerja ?" cecar Jihan dengan pertanyaan.


"Pengasuhnya baru saja mengundurkan diri dari pekerjannya karena akan menikah minggu depan. Jadi untuk sementara ini aku mengurusnya seorang diri, sampai menemukan pengasuh yang baru, Nyonya." terang Romi pada Jihan.


"Tentu saja Nyonya, kau boleh mengajaknya bermain." balas Romi.


Mata Jihan berbinar kala mendapatkan persetujuan Romi. Ia kemudian mendoronh stroller tersebut ke ruangan suaminya bersama suaminya disampingnya.


Beberapa saat kemudian Zio tengah fokus pada pekerjaannya ia melirik ke arah Jihan yang sedang membacakan dongeng untuk Valeria. Ia tersenyum bahagia melihat istrinya itu sangat menyukai anak kecil.


Ia yakin saat anaknya lahir nanti pasti Jihan akan menjadi Ibu yang baik untuk anaknya kelak. Ia jadi tidak sabar menantikan kelahiran anaknya nanti.


Setelah Zio menyelesaikan pekerjaannya ia berpindah duduk di samping Jihan. Dan dilihatnya Valeria yang sudah tertidur lelap. Zio mengelus rambut Jihan dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Kau begitu pandai mengasuh bayi." puji Zio pada istrinya.


"Tentu saja, karena aku dulu pernah mengasuh anak tetanggaku, Mas." balas Jihan dengan senyuman di bibirnya.


"Benarkah ? Berarti aku tidak salah jika memintamu hamil saat ini. Jika kau saja sudah punya pengalaman mengurus bayi."


"Mas, mengurus anak itu bukan hanya tanggung jawab seorang Ibu. Tapi peran kedua orang tuanya, karena karakter anak terbentuk oleh didikan kedua orang tuanya." balas Jihan menatap suaminya.


"Iya kau benar, Sayang. Kita akan sama-sama merawat anak kita nanti agar tumbuh menjadi anak yang baik dan selalu berbakti pada orang tuanya." ucap Zio ia mengelus pipi istrinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya hendak mencium bibir istrinya itu.


Jihan memejamkan kedua matanya membiarkan saja jika suaminya akan menciumnya. Namun saat Zio hendak mengecup bibir Jihan. Tiba-tiba Valeria menangis dan membuyarkan aksi Zio yang akan mencium bibir istrinya itu.


"Ooeekkk"


Zio mengusap kasar wajahnya saat Valeria menangis, pasalnya kegiataannya merasa terganggu oleh tangisan Valeria.


"Apa nanti bayi kita akan menganggu orang tuanya juga ?" ucap Zio


Jihan terkekehmendengar ucapan suaminya ia sembari memberikan Valeria susu dari botol menjawab ucapan Zio padanya.


"Hahaha. mungkin saja, anggaplah ini latihan"

__ADS_1


__ADS_2