
"Jadi Mama tahu dimana keberadaan Jihan dan Mayang ?" tanya Anggara pada Sonia yang sedang membaca buku majalah ditangannya saay mereka sedang di dalam kamar.
"Tentu saja Mama tahu." jawab Sonia cepat, kemudian ia menutup buku majalah yang ia baca dan menaruhnya diatas meja.
"Kenapa Mama tidak memberitahukan Zio dan Ray dimana keberadaan mereka. Mama lihat sendiri bukan, bagaimana khawatirnya Zio dan Ray."
Sonia menghela nafasnya jujur saja ia sangat kesal dengan anak dan keponakannya yang tidak memberi waktu pada istri mereka bisa mengurus diri sendiri.
"Biarkan sajalah, besok juga Jihan dan Mayang pulang ke rumah."
"Memangnya mereka kemana, Ma ?" tanya Anggara ia pun penasaran kemana perginya Mayang dan Jihan.
"Mereka ke Bandung menginap di Villa orang tua Mayang. Lagi pula mereka hanya liburan satu hari, memanjakan diri mereka. Tentu saja mereka tak mau mengajak para suaminya, karena jika Zio dan Ray ikut. Yang ada bukan liburan dan ketenangan yang di dapat, tapi bulan madu yang tiada habisnya." ungkap Sonia pada Anggara.
__ADS_1
Obrolan antara Sonia dan Anggara tersebut tanpa sadar didengar oleh Zio dan Ray yang sedang menguping pembicaraan mereka.
Zio dan Ray tersenyum kemenangan saat mendengar bahwa istri mereka berada di Villa milik orang tua mayang. Namun saat mereka mendengar ucapan Mama Sonia yang mengatakan jika istri mereka butuh ketenangan dan liburan senyum mereka mendadak hilang.
Zio dan Ray saat ini tengah dihalaman depan rumah melihat mobil mereka masing-masing. Mereka bingung dan bimbang apakah mereka harus menyusul istri mereka di Bandung. Atau tetap di rumah saja membiarkan istri mereka menikmati liburan mereka.
Saat mereka masih dalam fikiran masing-masing tiba-tiba ponsel mereka berbunyi bersamaan, menandakan ada pesan masuk didalamnya. Mata keduanya berbinar saat melihat pesan tersebut adalah dari istri mereka.
"Mas / Abang, maafkan aku yang pergi tanpa pamit pasti kau kebingungan dan khawatir padaku. Susul aku di Bandung, di villa orang tua Mayang. Sekali maafkan aku Mas / Abang, aku mencintaimu 😘❤"
Beberapa jam kemudian hari sudah menggelap sekitar jam sepuluh malam, Zio dan Ray baru tiba di sebuah Villa tempat Jihan dan Mayang berada.
Mereka turun dari mobil bersamaan dan hendak membuka pintu. Namun sayangnya pintu itu terkunci dari dalam. Zio mencoba menelfon Istrinya namun tidak diangkat sama sekali. Mungkinkah istrinya sudah tidur ?.
__ADS_1
Tiba-tiba Ray mengeluarkan sebuah obeng dalam dasboard mobil dan mencoba membuka paksa pintu villa karena tidak tahan dengan cuaca yang kian malam semakin dingin, jika harus menunggu pintu dibuka oleh istrinya sedangkan mungkin istrinya tersebut sudah tidur dan masuk ke alam mimpi.
"Ternyata kau masih memiliki skill lama." sindir Zio pada Ray yang mencoba membuka pintu dengan paksa melalui obeng.
Ya dulu Ray bukan hanya anak yang tidak menurut dengan orang tua, tapi juga dikategorikan memiliki kenakalan yang sudah akut. Dulu pada saat pulang sekolah, Ray pernah mengajak Zio mencuri satu buah boneka pada sebuah toko.
Ray terpaksa mencuri karena ingin memberi hadiah pada pacarnya dahulu, namun sayang ia tak memiliki uang karena Papa Anggara menahan uang saku dirinya dan Zio selama satu minggu. Karena mereka di hukum saat ketahuan merokok.
"Kau diam sajalah." tukas Ray
Zio terkekeh mendengar jawaban ketus dari Ray. Tiba-tiba pintu berhasil dibuka oleh Ray, mereka tersenyum kemenangan. Akhirnya mereka bisa masuk ke dalam Villa, mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dan memeluk istri mereka masing-masing.
"Sayang, aku datang."
__ADS_1
"Baby, i'm coming."