
POV JIHANA
Duniaku seakan berhenti berputar saat ku genggam gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga. Orang yang sangat ku sayangi cinta pertamaku telah pergi meninggalkan aku seorang diri. Dia adalah Ayahku orang yang selalu ada untuk diriku.
Takdir manusia tidak ada yang tahu entah besok, lusa, atau hari ini bahkan detik ini. Tuhan bisa saja dengan satu jentikan jari mencabut nyawa umatnya tanpa permisi.
Bahkan apakah kalian tahu bagaimana rasanya bisa dalam sekejab menjadi seorang istri ? tentu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Apalagi kita tidak mengenal sama sekali suami kita itu. Dia orang asing bagiku namun aku harus menerimanya sebagai suamiku.
Dan apakah kalian tahu bagaimana perasaanku saat dia mengucapkan jika dia sudah memiliki calon istri ? Hatiku entah kenapa begitu hancur berkeping-keping meski aku tak mencintainya tapi aku adalah istrinya. Bahkan dia tidak pernah menghargaiku, mengakuiku sebagai istrinya.
Namun dari semua ini aku sadar ia hanya menjadikanku istri hanya sebuah tanggung jawab semata. Karena rasa bersalahnya telah membuat Ayahku tiada.
Hingga waktu terus berlalu entah mengapa aku mulai merasa aneh dalam diriku. Aku menjadi tidak suka jika melihat dia bersama wanita lain. Apakah aku cemburu ? entahlah !
__ADS_1
Bahkan aku merasa bahagia atas putusnya hubungan antara dia dan calon istrinya itu. Apakah aku kejam bahagia diatas penderitaan orang lain ?
Lambat laun dengan seiring berjalannya waktu rasa yang tumbuh dihatiku semakin besar. Dia memberikanku perhatian dan kelembutan yang mampu membuatku terpesona dan terbuai.
Apakah aku boleh memiliki perasaan ini ? perasaan mencintai untuk suamiku ! tapi aku tak mau menunjukkan rasa cintaku ini karena dia bahkan tidak menyatakan cintanya padaku.
Apakah aku berlebihan jika memintanya untuk menyatakan perasaannya padaku ? Bukankah hal yang wajar jika aku membutuhkan sebuah kepastian.
Dia terus berkilah jika dirinya tak bersalah. Apakah aku harus percaya ? Apakah aku salah jika butuh sebuah pembuktian untuk percaya padanya ?
Hari ini ku lajukan diriku dengan membawa motor matic pemberiannya, untuk pertama kalinya aku menggunakannya. Dalam perjalanan aku terus memikirkannya. Kuliahku kacau hari bahkan tak fokus sama sekali. Karena dia selalu ada dalam fikiranku.
.......
__ADS_1
Jihan melamun pikirannya terus tertuju pada tayangan kemarin. Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Zio hanya diam saja bahkan tersenyum pada saat menanggapi pertanyaan para reporter itu.
Bahkan tubuhnya dipeluk oleh Cindy pun dia tidak bergeming. Jihan benar-benar cemburu akan hal itu. Seketika lamunannya buyar saat satu buah spidol mendarat kewajahnya.
"Kalau mau melamun silahkan keluar dari mata kuliah saya !" ucap tegas seorang dosen paruh baya yang menatap tajam ke arah Jihan. Semua mahasiswa menatap Jihan, mereka merasa kasihan ada juga yang senang.
Jihan menelan silvanya ia benar-benar gugup "Maafkan saya Pak, saya berjanji tidak akan mengulanginya."
Dosen itu menghela nafasnya kemudian memaafkan Jihan. Kegiatan perkuliahan itu kembali berlanjut hingga jam mata kuliah selesai.
Jihan keluar kelas dengan malas. Ia menuju parkiran motor dan ingin pulang. Saat ia berjalan dikoridor kampus tiba-tiba langkahnya terhenti saat ada yang menyebut namanya. Suara yang begitu familiar ditelinganya.
'Devan.....
__ADS_1