ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
PEBINOR


__ADS_3

Alex membanting berang di atas meja kerjanya saat Jihan telah pergi dari hadapannya. Ia marah karena telah ditolak oleh Jihan. Apalagi saat Jihan mengatakan jika ia sangat mencintai suaminya yaitu Fabrizio.


Rahangnya mengeras dan wajahnya memerah ia tak terima dengan penolakan Jihan. Karena menurut prinsip hidupnya ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan.


Alex mengepalkan kedua tangannya ia begitu kesal ingin sekali rasanya ia mengikat Jihan dan mengurungnya. Atau bahkan mungkin menjadikan Jihan pelampiasan kemarahannya dengan menjamah tubuhnya.


Saat Alex masih dalam mode kemarahannya tiba-tiba masuklah Maxim sebut saja namanya Max ia adalah sahabat Alex yang juga merupakan asissten pribadi Alex.


Max menatap heran ruangan Bos sekaligus sahabatnya itu kenapa ruangannya bisa sangat berantakan. "Kau menghancurkannya ?" tanya Max mengambil satu persatu barang di atas lantai.


Max kemudian meletakkan barang itu di atas meja kerja Alex. "Kau kenapa bisa semarah ini ?" tanya Max lagi.


Alex hanya diam tak menanggapi ucapan Max ia menatap lurus ke depan dengan tangan yang masih terkepal.


Max menghembuskan kasar nafasnya percuma saja menurutnya jika berbicara dengan Alex jika ia masih dalam mode marah dan diam. "Aku harap kau tidak membuat ulah untuk yang kesekian kalinya, Alex." ucap Max memberikan nasehat pada Alex.


Sebenarnya Alex memiliki seorang kekasih namun sayangnya kekasihnya sudah meninggal karena sebuah kecelakaan. Kekasih Alex sangat mirip dengan Jihan. Itulah mengapa Alex langsung menyukai Jihan menganggap Jihan adalah kekasihnya.

__ADS_1


Alex bisa dikatakan memiliki kelainan jiwa setelah ditinggal mati kekasihnya. Pasalnya bukan hanya dengan Jihan saja awalnya ia menganggap Jihan mirip dengan kekasihnya. Tapi sudah ada beberapa wanita yang pernah jadi korbannya.


Alex pernah mengurung beberapa orang wanita yang ia rasa mirip dengan kekasihnya. Bahkan Alex melakukan pelecehan pada wanita tersebut. Untungnya wanita yang pernah dilecehkan oleh Alex bukanlah wanita yang baik-baik. Tentu sangat mudah bagi Max mengurusnya dengan memberikan uang yang banyak sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahan yang Alex lakukan.


Max sebenarnya sudah lelah jika harus mengurus masalah yang sama lagi jika Alex mengulangi kesalahannya. Apalagi Max sebenarnya sangat khawatir jika Alex melakukannya dengan Jihan yang merupakan istri dari Fabrizio rekan kerjanya sendiri.


Karena jika sampai Alex mengulangi perbuatannya pada Jihan, maka tamatlah riwayat Alex. Sebab Max tahu kalau Fabrizio adalah seorang pebisnis nomor satu. Hanya dengan satu jentik kan jari bisa saja karir dan usaha yang dibangun Alex hancur begitu saja ditangannya.


"Apa kau akan terus marah seperti ini ?" tanya Max untuk ke sekian kalinya.


"Berani sekali dia menolakku !" ucap Alex membuka suara dengan penuh penekanan.


"Jihana Almayra" jawab Alex ia menggertak kan giginya setelah menyebut nama itu karena ia begitu marah.


Max mengusap kasar wajahnya benar seperti dugaannya pasti Alex mencoba mendekati Jihan. "Sudah ku katakan dia itu perempuan baik-baik, lagi pula dia sudah bersuami !" ucap Max memberikan nasehat pada Alex


Alex tersenyum remeh saat mendengar ucapan Max ia merasa jika ia lebih baik dari suami Jihan dan lebih layak menjadi suami Jihan ketimbang Fabrizio.

__ADS_1


"Tapi aku lebih baik dari suaminya, aku kaya dan tampan. Aku jauh lebih bisa membahagiakannya ketimbang suaminya ! lagi pula dia sangat mirip dengan Syeila." jawab Alex dengan tegas


Max menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Alex padanya. Apalagi ia jika Alex sudah mengklaim kalau Jihan sangat mirip dengan Syeila kekasihnya yang sudah tiada.


"Kau memang sudah gila, Alex" ucap Max dalam hati.


"Kau jangan konyol Alex apa kau ingin dicap sebagai perebut istri orang atau kau ingin senegara ini memberimu cap sebagai seorang Pebinor ?" terang Max ia menjadi kesal karena setiap perkataannya tak dihiraukan oleh Alex.


"Kau jangan sampai berurusan dengan Fabrizio, atau kau mau kehilangan segala yang sudah kau bangun dengan susah payah." kata Max lagi.


Alex tertawa saat mendengar Max mengatakan jika ia akan kehilangan segalanya jika sampai bisa merebut Jihan dari tangan Fabrizio.


"Aku tidak takut padanya, aku rela kehilangan segalanya asal aku bisa mendapatkan Jihan. Aku jadi penasaran bagaimana jika Jihan mende.sah dibawah ku." balas Alex dengan suara beratnya.


"Kali ini aku tak mau ikut campur dan membantumu lagi dalam urusan pribadimu, Alex. Karena aku juga masih memikirkan diriku sendiri." ucap Max memberi peringatan pada Alex


Alex menatap sinis sahabatnya itu ia tak menyangka jika Max tidak mau membantunya lagi. "Aku tidak butuh bantuan mu, Max. Aku bisa mendapatkan Jihan sendiri." Alex menatap tajam Max kemudian ia bangkit dari kursi kebesarannya dan pergi meninggalkan Max yang menatap nanar dirinya.

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah gila, Alexander !" maki Max saat punggung Alex sudah menghilang dibalik pintu. Max sudah bingung mau seperti apa lagi memberikan Alex nasehat dan pengertian pada Alex.


__ADS_2