
Ke esokan harinya Jihan melangkah mamasuki gerbang kampusnya dan menuju ruang kelasnya. Awalnya raut wajah Jihan sangat berseri-seri karena menyambut hari senin yang mengawali harinya. Namun raut wajah itu tiba-tiba berubah menjadi eneh saat melihat tatapan sinis para mahasiswa yang menatap dirinya bahkan membicarakan dirinya dengan berbisik-bisik.
Dahi Jihan mengernyit saat ia mendengar ucapan beberapa mahasiswa yang membicarakan dirinya.
"Gila ! Enggak nyangka ya, ternyata wajahnya saja polos tapi kelakuannya, Nauzubillah."
"Iya kalian lihat sendiri kan fotonya digrup kampus, aku penasaran berapa ia dibayar para lelaki yang tidur dengannya."
"Ingin hidup enak dan mewah dengan cara yang salah."
Jihan menutup matanya kemudian ia menatap lurus kedepan ia tak ingin mendengar obrolan para mahasiswa yang menggosipkan dirinya yang dapat merusak suasana hatinya.
Jihan masuk ke dalam kelasnya dilihatnya baru ada sekitar orang sepuluh yang datang dikelasnya. Ia mendudukkan diri dikursi yang biasa ia tempati, namun teman-temannya tiba-tiba menjauhi Jihan dan duduk memojok tak ingin berdekatan dengannya.
Jihan semakin aneh dengan perubahan sikap para teman-temannya yang tiba-tiba menjauhinya. Bahkan mereka berbisik-bisik membicarakannya yang masih dapat ia dengar ditelinganya.
Tiba-tiba datanglah Bianca dan kedua teman setianya ke kelas Jihan. Ia menyeringai saat bertemu dengan Jihan, wanita yang sangat ia benci karena Devan lebih memilih Jihan ketimbang dirinya.
__ADS_1
"Masih punya muka rupanya kau !" ucap Bianca menatap tajam Jihan.
Jihan menghela nafasnya kenapa ia selalu harus berhadapan dengan Bianca, sedangkan dirinya tidak memiliki masalah apapun padanya.
"Apa kau tidak lelah, menghakimiku terus ?" Jihan mencoba menjawab ucapan Bianca yang membuat dirinya muak.
"Kau harusnya tahu diri bila perlu mengurung diri dirumah, karena semua orang sudah tau siapa dirimu !" jawab Bianca tak kalah sengit kebenciannya pada Jihan sudah mendarah daging.
Bianca merencanakan sesuatu yang dapat merusak masa depan Jihan. Semua itu ia lakukan karena ia sangat membenci Jihan, karena ia merasa Jihan merebut Devan darinya.
"Apa maksudmu ? jangan menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya !"
Mata Jihan membulat sempurna saat melihat foto yang menampakkan dirinya dalam ke adaan tidur dengan seorang lelaki tanpa busana.
"Apa itu ? itu tidak benar, itu hoaxs, itu bukan aku !" Jihan mencoba membela diri di depan teman-teman kelasnya yang menatap dirinya.
"Sudah jelas-jelas itu foto dirimu, masih saja berkilah !" balas Bianca
__ADS_1
"Tidak ! Itu pasti rekayasa seseorang !" ucap Jihan dengan perasaan yang tak karuan dan dengan degup jantung yang berdetak kencang.
"Lalu siapa orang difoto ini ? apa dia kembaranmu ? atau hantumu ?" ucap salah satu teman Bianca.
"Dasar ja.lang murahan, sudah akui saja jika kau memang Open BO !" ucap Bianca dengan suara meninggi.
Jihan tak tahan medengar ucapan yang diberikan oleh Bianca dan kedua temannya. Ia meraih tasnya dan hendak pergi meninggalkan kelasnya. Namun langkahnya terhenti saat Dosen masuk ke dalam kelasnya.
Bianca memanfaatkan kesempatan itu dengan mengadukannya pada Dosen. Dosen yang mendapatkan aduan dari Bianca menatap tak percaya dengan Jihan. Ia tak menyangka mahasiswa sepintar Jihan bisa berbuat hal yang sangat memalukan seperti difoto tersebut.
Dosen tersebut membawa Jihan menghadap rektor kampus, karena ia merasa perbuatan Jihan bisa merusak citra dan nama baik kampus dimata masyarakat. Bianca yang juga ikut untuk menjadi saksi dan sebagai pemberi bukti berupa foto-foto tidak senonoh Jihan.
Tangis Jihan luruh saat beberapa Dosen bahkan Rektor kampus lebih percaya dengan bukti yang diberikan oleh Bianca ketimbang penjelasannya.
Tiba-tiba....
... ....
__ADS_1
Tiba-tiba kalian harus like dan komen...gaes aku tuh seneng banget kalo kalian like dan komen biar aku semangat juga nulisnya 😌