ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
UJIAN


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Zio mengajak Jihan pergi liburan ke Bali, karena Jihan sudah memasuki liburan semester. Saat ini mereka sedang menikmati pemandangan sunset dipinggir pantai berdua.


Selama hampir lima bulan ini hubungan antara Jihan dan Zio baik-baik saja. Zio memberikan cinta dan kasih sayang pada Jihan yang tiada habisnya. Sehingga Jihan merasa beruntung dicintai oleh suaminya.


Namun ada yang kurang menurut Jihan dari penikahan mereka. Sampai saat ini Jihan belum kunjung hamil. Padahal ia tahu kalau suaminya begitu menginginkan seorang anak dari rahimnya.


Terkadang Jihan menjadi stress karena banyak fikiran karena dirinya tak hamil-hamil juga. Ia bahkan setiap bulan membeli alat tes kehamilan untuk memeriksa apakah dirinya sudah hamil atau belum.


Namun ketika ia mengetesnya lagi-lagi Jihan harus menelan pil pahit. Ketika alat tersebut hanya bergariskan satu. Pernah ia sampai menangis seorang diri dikamar mandi sambil menatap alat kehamilan yang sudah ia coba.


Bahkan Zio pernah menangkap kejadian itu, ia merasa terpukul saat mengetahui keadaan istrinya. Ia tahu Jihan ingin memberikan kebahagiaan untuknya, tapi jika Tuhan belum mempercayai mereka.


Tapi yang bisa ia perbuat, ia hanya bisa menunggu dan berharap semoga Tuhan memberikannya kepercayaan seorang anak hadir ditengah keluarga kecil mereka.


"Apa kita perlu ke Dokter, Mas ?" ucap Jihan pada suaminya. Ia merasa inscure pada dirinya apalagi saat ini Mayang sudah hamil duluan dari dirinya. Jihan bahkan semakin stress karena memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Zio menatap manik mata sendu milik istrinya, ia tahu apa yang dirasakan oleh istrinya itu. Pasti istrinya terlalu banyak berfikir mengingat ia belum juga hamil sampai saat ini.


"Sayang, menikah bukan perkara ada atau tidaknya seorang anak. Tapi bagaimana kita menjalani pernikahan ini sebagai bentuk ibadah kita kepada Tuhan. Aku percaya suatu saat nanti kita pasti akan diberi-Nya kepercayaan untuk memiliki anak."


Zio mengelus lembut rambut istrinya mencoba menyemangatinya dan menenangkan hatinya.


Air mata Jihan tiba-tiba jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, setelah mendengar ucapan suaminya. Dengan cepat Zio menghapus air mata itu karena ia tak ingin melihat kesedihan dimata istrinya.


"Aku mohon jangan menangis." ucap Zio dengan bibir bergetar.


"Apa aku gagal menjadi istrimu ? Aku merasa menjadi istri yang tak sempurna untukmu." ucap Jihan dengan suara yang parau.


"Percayalah suatu saat nanti kita akan memilikinya." sambung Zio lagi.


"Kau jangan terlalu banyak beban fikiran, saat ini kita nikmati saja pernikan kita. Kau fokus pada kuliahmu, dan kita harus banyak berdoa dan berusaha supaya nanti dia cepat hadir di dalam sini." Zio meraba perut rata istrinya sambil memeluknya.


Jihan hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tubuhnya yang bergetar kerena terisak dalam tangisannya langsung dipeluk oleh suaminya. Ia begitu bersyukur karena memiliki seorang suami seperti Zio.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas."


hiks


hiks


hiks


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan selalu ada untukmu dalam keadaan apapun. Karena aku sangat mencintaimu."


Cup


Zio mengecup bibir istrinya menenangkannya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang begitu romantis karena disaksikan oleh sunset yang begitu indah.


... ....


Ada yang ngalamin gak gaes kayak Jihan ? pasti ada ya, mesti ceritanya gak sama kayak si Jihan. Author jadi curhat nih, dulu author juga pernah ngerasain sama seperti Jihan, kayak susah banget buat punya anak. Sedih kali lah kalo di inget-inget lagi 😌

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen kalian ya, biar semangat aku nulisnya 😜😘😍


... ...


__ADS_2