ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
RAYYAN DAN MAYANG


__ADS_3

Keesokan harinya Zio dan Jihan sudah pulang ke tanah air mereka sampai di rumah sekitar pukul satu dini hari karena jarak tempuh Paris-Indonesia memakan waktu 15 jam perjalanan. Jihan dan Zio benar-benar lelah mereka masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.


Pagi harinya Zio dan Jihan turun ke ruang makan, disana sudah terdapat kedua orang tuanya dan Rayyan berserta kedua orang tua Rayyan.


"Bagaimana honeymoon kalian, Sayang. Apa menyenangkan ?" tanya Mama Sonia pada Jihan yang sudah mendudukkan diri kursinya.


"Iya, sangat menyenangkan Ma." balas Jihan tersenyum manis.


"Apa kau tahu Diana, calon menantumu sahabat baik Jihan." ucap Sonia pada Diana yang sedang memakan sarapannya.


"Benarkah ? Jihan bagaimana Mayang, apa dia gadis yang baik ?" tanya Diana pada Jihan karena ia pun tidak mengenal Mayang dengan baik yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


"Tante tenang saja, Mayang gadis yang baik. Nanti jika Tante sudah dekat dengannya pasti Tante langsung menyukainya." balas Jihan.


"Jadi jam berapa acara pernikahannya ?" ucap Zio mengeluarkan suara, karena ia pun tak tahu pukul berapa sepupunya itu akan menikah.


"Jam 10 pagi, Zio. Tolong kau bantu sepupu nakalmu itu untuk bersiap nanti !" ucap Graham memberikan perintah pada Zio sang keponakannya.

__ADS_1


"Oh oke baiklah, wah aku tak menyangka jika kau akan segera menikah. Kau seperti menjilat ludahmu sendiri, " Aku tak mau menikah, karena masih ingin bebas menjelajah wanita." Ucap Zio menirukan suara Rayyan yang pernah berkata demikian padanya.


"Diamlah kau !" balas Rayyan dengan suara beratnya. Jujur saja ia tak ingin menikah dengan Mayang, namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur ia harus menerima nasibnya jika harus menikah hari ini.


Zio yang menyadari perubahan sikap sapupunya itu ia pun mengajak Rayyan bicara empat mata di kamar Rayyan sembari membantu sahabatnya itu bersiap.


"Kau tahu Ray, aku dan Jihan dulu tidak saling cinta. Semua berawal dari sebuah masalah, aku bahkan sempat menyia-nyiakan dia karena lebih memilih wanita lain." ucap Zio pada Rayyan saat mereka berdua sedang berdiri dibalkon kamar.


"Cinta itu akan hadir dengan berjalannya waktu, Ray. Bukalah hatimu menerima kehadiran Mayang dalam hidupmu. Mayang akan menjadi tanggung jawabmu dalam beberapa jam lagi, tanggung jawabmu bukan hanya di dunia padanya tapi juga di akhirat." sambung Zio lagi.


"Tapi apakah aku bisa ?" jawab Rayyan pelan.


Rayyan termenung menatap lurus ke depan, mungkinkah ia harus menerima Mayang sebagai istrinya, belajar mencintainya, dan belajar menjadi suami yang bertanggung jawab untuknya.


Rayyan menghela nafasnya ia mencoba menetralkan perasaannya, mungkin mencoba menjalani seperti air yang mengalir terlebih dahulu akan lebih baik fikirnya. Lagi pula sedari awal memang Rayyan sudah menyukai Mayang, apa salahnya jika ia menerima Mayang dalam hidupnya sekarang.


.......

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Rayyan dan Mayang sudah resmi menjadi sepasang pengantin baru. Acara pernikahan itu dilangsungkan di kediaman Mayang secara sederhana yang hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja. Karena itu semua permintaan kedua mempelai yang tak mau pernikahan mereka dilangsungkan dengan meriah.


"Jaga anakku dengan baik, Nak Ray." ucap Mama Sofia pada Rayyan setelah menyalimi tangannya.


"Baik Tante, aku akan belajar menjadi suami yang baik untuknya, menjaganya, dan menyayangi serta mencintainya." balas Rayyan mantap dengan pendiriannya dihadapan Mertuanya.


Mayang yang mendengar itu hatinya mendadak menjadi tersentuh, dengan ucapan Rayyan. Menjaganya, menyayanginya, dan mencintainya Mungkinkah Rayyan akan melakukan itu semua untuknya. Ia hanya bisa tersenyum bahagia walaupun gamang apakah ucapan Rayyan benar-benar akan dibuktikan padanya atau hanya bualan semata.


"Selamat Mayang, semoga kau bahagia dengan pernikahanmu." ucap Jihan pada Mayang sambil memeluknya.


"Aku tidak yakin, tapi semoga saja Tuhan berpihak padaku dengan memberikanku kebahagiaan bersama lelaki yang menjadi suamiku." ucap Mayang pelan yang dapat di dengar oleh Rayyan.


Rayyan menyunggingkan senyuman ia pun merangkul pinggang Mayang dari belakang, sehingga Mayang membulatkan matanya saat tangan kekar Rayyan memeluknya.


"Akan ku buktikan" bisik Rayyan ditelinga Mayang hingga membuat tubuh Mayang meremang. "Persiapkan dirimu malam ini, kita akan memulainya mulai malam ini. Aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu, dan kau harus menjadi istri yang berbakti untukku dengan melayaniku." bisik Rayyan lagi ditelinga Mayang hingga Mayang menoleh ke arah Rayyan.


Jantung Mayang berdebar kencang "Melayaniku" mungkinkah malam nanti ia harus menyerahkan mahkota berharga yang ia miliki untuk Rayyan. Mayang merutuki dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


"Matilah kau Mayang !" Mayang menelan kasar silvanya ia mencoba tetap terlihat tenang dengan tersenyum menampilkan gigi putihnya di hadapan Rayyan.


"Ten..tu saja" jawab Mayang asal.


__ADS_2