
Dua bulan kemudian Jihan dan Zio menuju rumah sakit ia akan melihat bayi Mayang dan Rayyan. Saat mereka sudah tiba di sana ternyata Mayang masih belum lahiran, ia masih menunggu bukaan sampai sepuluh.
Jihan mendekat ke arah bankar Mayang, ia menggenggam tangan Mayang seraya menguatkan sahabatnya itu. "Apa rasanya sakit sekali ?" tanya Jihan yang melihat raut wajah Mayang yang menahan sakit.
"Ini sangat menyakitkan Jihan, kenapa hanya kaum perempuan yang merasakan sakit seperti ini. Aku tidak mau punya anak lagi kalau begini sakitnya." rengek Mayang pada Jihan.
"Hei jangan bicara seperti itu, kau bahagia karena sebentar lagi anakmu akan lahir." ucap Jihan menenangkan sahabatnya itu.
Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tidak ia dapati Rayyan di ruangan itu. Hanya ada Mama Sofia yang menjaga Mayang itu pun Mama Sofia baru datang membawa perlengkapan bayi Mayang.
"Kemana suamimu ?" tanya Jihan
"Dia sedang melakukan operasi saat ini. Padahal aku ingin sekali ditemani olehnya." ucap Mayang yang meringis merasakan sakit karena kontraksi itu datang lagi.
"Keterlaluan Ray, bisa-bisanya istrinya sebentar lagi akan melahirkan ia malah sibuk bekerja." gerutu Zio
__ADS_1
Tiba-tiba Ray datang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruang inap Mayang. "Baby, apa kau baik-baik saja ?" ucap Ray cemas
"Mana mungkin aku baik-baik saja, ini sakit sekali Bang." tangis Mayang pecah saat melihat suaminya dia menangis bukan karena rasa sakitnya tapi bahagia karena Ray sudah ada disampingnya.
Tak lama datanglah dokter kandungan dan beberapa orang perawat memeriksa kondisi Mayang. Jihan dan Zio keluar dari ruangan itu bersama Mama Sofia karena merasa Mayang dan Ray butuh waktu berdua untuk merasakan momen kelahiran anak mereka.
"Hei apa yang akan kau lakukan ?" tanya Ray cepat saat dokter itu akan memasukkan jari tangannya yang sudah berbalut sarung tangan ke dalam milik istrinya.
"Tentu saja memeriksa pembukaannya, Dokter Ray. Beberapa saat lalu Nyonya Mayang sudah masuk bukaan delapan, mungkin saat ini pembukaannya sudah lengkap." terang dokter tersebut pada Ray.
Dokter pun memeriksa Mayang, dan benar Mayang sudah di pembukaan sepuluh. Dokter memerintahkan Mayang untuk mengejan.
"Satu..dua..tiga..ayo nyonya mengejanlah."
"Aaaaaaa...sakit aku tidak sanggup."
__ADS_1
"Baby ayo kau pasti bisa demi anak kita, aku janji setelah ini tidak minta anak lagi darimu. Kalau ku tahu melahirkan anak akan sesakit ini yang kau rasakan." ucap Ray memberikan semangat pada istrinya.
Tiba-tiba Mayang merasakan bayinya hendak keluar ia kemudian mengejan sekuat tenaga hinga pada akhirnya anaknya lahir dengan selamat. Mayang lemas tak bertenaga saat ia berhasil melahirkan anaknya.
"Kau berhasil Baby, aku bangga padamu." ucap Ray dengan meneteskan air mata bahagia ia menciumi seluruh wajah istrinya dengan cinta.
"Abang sudah berjanji tidak minta anak lagi dariku kan ?" ulang Mayang ditengah rasa haru saat melihat anaknya di dekapannya.
"Sepertinya Abang tarik lagi ucapan barusan, karena kau wanita yang kuat rasanya Abang ingin punya lima orang anak darimu, Baby." ucap Ray dengan santainya melihat wajah bayi mereka.
"Apa !" teriak Mayang menggema seisi ruangan yang membuat para dokter dan perawat yang masih menangani dirinya tersenyum-senyum.
"Kau pikir aku kucing ?!" ucap Mayang lagi
"Iya kucing kesayanganku." Ray ******* bibir istrinya di depan para dokter dan perawat hingga pipi Mayang merona karena malu.
__ADS_1
"Dasar suami mesum." gerutu Mayang dalam.hati.