ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
FITTING


__ADS_3

Zio pulang ke rumah dengan begitu semangat karena tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya. Dibukanya pintu kamar secara perlahan dan menutupnya. Ia berjalan ke arah ranjang membuka jas dan dasi yang ia kenakan, menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.


Dilihatnya istri cantiknya itu sedang tertidur pulas. Ia menyunggingkan sebuah senyuman mungkin saja istrinya itu kelelahan saat kuliah.


Zio menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya itu. Betapa terkejutnya Zio saat melihat luka lebam yang dibalut plaster dikening istrinya.


"Apa ini ?" lirih Zio meraba kening istrinya hingga membuat Jihan menggeliat dan terbangun dari tidurnya saat ada yang menyentuh keningnya.


"Mas sudah pulang ?" Jihan menatap suaminya dengan senyuman manisnya.


"Iya aku tidak sabar untuk bertemu dengan istriku ini." Zio menarik sedikit hidung mancung Jihan.


"Isss..gombal" Jihan terkekeh geli mendengar ucapan yang dilontarkan oleh suaminya itu padanya.


"Sayang keningmu kenapa ?" tanya Zio dengan penuh selidik.


Jihan menelan silvanya ia tak berani mengungkapkan pada suaminya itu tentang apa yang ia alami hari ini di kampus, karena ia tak mau suaminya malah terpikiran selalu padanya.


"Ah..tidak apa-apa tadi hanya tidak sengaja terbentur meja." Jihan terpaksa berbohong pada suaminya.


"Benarkah ?"


"I..iya tentu saja, sudah aku mandi dulu ya Mas" Jihan bangkit dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi ia takut jika Zio semakin banyak bertanya padanya.

__ADS_1


'Apa yang kau sembuyikan dariku, Sayang ?' ucap Zio dalam hati. Ia kemudian merogoh ponsel dalam saku celananya dan menghubungi Romi.


"Ada apa Tuan ?"


"Tugaskan dua orang pengawal secara diam-diam untuk mengawal istriku saat ia kuliah."


"Memangnya ada apa dengan Nyonya, Tuan ? apa terjadi sesuatu padanya ?"


"Belum tahu pasti, kau lakukan saja perintahku. Dan berikan aku laporan setiap harinya !"


"Baik, saya akan melakukan perintah anda."


Zio meletakkan ponselnya diatas nakas dan menyusul istri cantiknya itu ke kamar mandi untuk mandi bersama. Zio menyeringai saat tahu pintu kamar mandi tidak dikunci.


.......


Keesokan harinya Zio mengajak Jihan ke sebuah butik. Zio mengajak Jihan untuk fitting gaun pengantin, yang akan mereka gunakan nanti pada saat hari resepsi mereka.


Zio memilihkan beberapa gaun pernikahan untuk Jihan coba. Jihan mencoba satu persatu gaun pengantin itu semua nampak indah cantik menurutnya, tapi tidak dengan Zio. Zio mendadak menjadi pusing sendiri saat melihat gaun pengantin yang dicoba istrinya itu tidak sesuai dengan seleranya.


"Ganti ! aku tidak ingin punggungnya dilihat orang lain !" titah Zio memerintahkan pegawai butik untuk mengganti gaun yang dipakai istrinya.


Jihan hanya menurut saja, hingga ia berganti gaun yang lain dan Zio kembali menyuruh Jihan mengganti model gaun yang lain.

__ADS_1


"Ganti ! belahan dadanya terlalu rendah !"


"Ganti !"


"Ganti !"


"Ganti !"


Jihan menjadi kesal karena sedari tadi Zio menyuruhnya untuk bergonta-ganti gaun pengantin. Bukan hanya kesal tapi juga lelah.


"Aku mau yang ini pokoknya !" ucap Jihan menatap tajam suaminya itu.


"Sayang itu terlalu terbuka, punggung dan dadamu terlihat oleh banyak orang. Aku tidak mau itu ! Ganti !" protes Zio


"Tidak mau ! aku sudah nyaman dengan gaun ini !" ucap Jihan tak kalah sengitnya.


"Sayang mengertilah, please ganti yang satunya okey ?" Zio mencoba membujuk Jihan agar menurutinya dan tidak berdebat dengannya.


Jihan mengehela nafasnya kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar ganti di ikuti oleh kedua pagawai butik dibelakangnya yang membantu dirinya.


Saat Jihan telah mengganti gaun pilihan terakhir Zio mengacungi jempol pada istrinya itu. Karena gaun yang dipakai oleh Jihan sangatlah sopan dengan model atas berbahan brukat yang menutupi bahu dan bagian dada istrinya.


"So beauty My princess." Zio mengecup bibir Jihan sekilas hingga membuat Jihan merona malu karena dilihat oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2