ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
UDANG DI BALIK BAKWAN


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan cahayanya namun pasangan suami istri yang baru melakukan malam pertama itu belum juga menunjukkan tanda-tanda keduanya akan bangun dari tidur lelapnya.


Zio menggeliat kemudian mengerjapkan kedua matanya ia melihat jam diatas nakas sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Ia mengambil ponsel dinakas dan mendudukkan diri bersandar pada ranjang. Ia menelfon asisstennya untuk menghandel seluruh pekerjaannya hari ini.


"Handel pekerjaanku hari ini, aku tidak masuk ke kantor karena sedang bersama istriku !"


"Baik Tuan, saya akan melakukan sesuai perintah anda. Tuan mengenai nona Cindy...."


"Jangan bicarakan dia saat aku menelfon, nanti saja kau jelaskan saat aku sudah masuk ke kantor lagi"


"Baiklah Tuan, semoga hari anda menyenangkan."


Zio mematikan ponselnya dan menaruhnya diatas nakas. Kemudian ia melihat istrinya yang masih tertidur pulas. Senyum terus mengembang dibibir Zio saat mengingat malam pertama mereka semalam. Zio bahkan tak membiarkan Jihan tidur ia melakukannya sampai menjelang jam tiga pagi. Begitu nikmatnya saat ia mendapatkan istri perawan hingga ia terus melakukannya pada Jihan.


"Sayang...bangunlah" Zio mencoba membangunkan Jihan karena hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Aku masih mengantuk" lirih Jihan dengan mata masih terpejam.

__ADS_1


"Sayang bangunlah atau kau ingin ku makan lagi seperti semalam ?"


Jihan langsung membuka kedua matanya saat mendengar bahwa Zio akan melakukan hal seperti semalam. "Tidak ! aku lelah" Jihan langsund terduduk tanpa ia sadari kalau tubuh atasnya tidak tertutup selimut hingga menampakkan bagian dadanya yang indah dimata Zio. Apalagi banyak bekas tanda cinta yang sudah Zio ukir disana.


"Sayang apa kau menggodaku ?" ucap Zio dengan suara beratnya menahan hasrat.


Jihan mengernyitkan dahinya tak mengerti ucapan suaminya itu "Menggoda apa maksudnya ?" Jihan kemudian menatap tubuhnya ternyata masih dalam keadaan polos. Ia kemudian dengan cepat menutupi bagian atas tubuhnya dengan selimut.


"Jangan lagi-lagi aku masih lelah" pinta Jihan pada suaminya ia sudah menebak pasti Zio akan menyerangnya lagi.


Zio terkekeh "Baiklah, aku tidak akan memakanmu lagi. Asalkan kau bangun dan mandi karena sekarang sudah pukul 10 pagi. Apa kau tidak lapar ?"


"Dasar suami tidak peka ! aku lelah dan masih mengantuk apa Mas tidak ingat, semalam Mas tidak membiarkanku tidur sama sekali" sunggut Jihan dengan bibir mengerucut.


Zio semakin gemas melihat tingkah istrinya itu "Tapi kau harus mandi, ayo ku bantu ke kamar mandi" tawar Zio karena ia tahu pasti Jihan akan merasakan sakit dibagian intinya dan kesulitan untuk berjalan setelah malam pertamanya.


"Tidak ! Jangan ngadi-ngadi ya Mas, aku tahu pasti ada udang dibalik bakwan kalau Mas membantuku" jawab Jihan cepat.


Zio mengusap kasar wajahnya beginilah kalau mempunyai istri yang cepat tanggap walaupun polos. Memang benar dibalik bantuan yang Zio tawarkan tentu ia memiliki maksud terselubung. Apalagi kalau bukan untuk menyentuh Jihan kembali.

__ADS_1


"Ya sudah kalau tidak mau" jawab Zio ketus ia kemudian turun dari atas ranjang tanpa sehelai benang di hadapan Jihan.


"Aaaaaa" Jihan berteriak menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. "Dasar suami mesum ! pakai bajumu Mas" protes Jihan.


"Untuk apa ? bahkan kau sudah melihat dan merasakannya, apalagi aku sudah melihat semua yang ada ditubuhmu"


blush


Pipi Jihan memerah bagaikan tomat saat Zio mengucapkan kata-kata itu.


"Tidak perlu malu sayang, aku suamimu dan kau istriku."


Jihan menghela nafasnya namun ia enggan menatap suaminya itu karena ia masih malu dan belum terbiasa.


Jihan mencoba turun dari ranjang saat ia menurunkan satu kakinya dan hendak berdiri ia begitu merasakan sakit luar biasa di area intinya.


"Aaaaww..sakit" lirih Jihan ia sampai hampir jatuh dari berdirinya karena kakinya bergetar. Zio yang melihat itu dengan cepat ia menangkap tubuh Jihan agar tidak terjatuh.


"Sudah ku katakan biar aku membantumu ke kamar mandi" Zio langsung melepaskan selimut yang menutupi tubuh Jihan dan membawanya ke kamar mandi

__ADS_1


Malu, tentu saja Jihan masih malu dengan keadaan dirinya dan suaminya yang sama-sama polos tanpa sehelai benang.


__ADS_2