
Setelah urusan gaun pengantin selesai Zio mengajak Jihan ke tempat sahabatnya yang merupakan vendor wedding Organizer.
"Selamat datang di tempatku Zio, silahkan duduk." ucap Rio pada Zio dan Jihan.
"Jadi ini istrimu ?" Rio menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini, ternyata sahabatnya itu benar-benar sudah menikah.
"Iya, dia Jihana. Ingat jangan membocorkan apapun pada media tentang siapa istriku !" Zio menatap tajam sahabatnya itu.
Rio menggelengkan kepalanya ternyata istri sahabatnya itu sangatlah belia dan cantik pastinya. "Kau pakai ilmu apa atau ke dukun mana sehingga kau bisa mendapatkan istri berdaun muda dan cantik seperti itu ? beritahu aku Zio ?"
"Sudah jangan banyak tanya, aku tidak pakai ilmu apapun, apalagi ke dukun segala memangnya kau hidup di zaman apa hingga masih percaya dengan dukun ?" ledek Zio yang merasa mendapatkan pertanyaan absurd dari sahabatnya itu.
Rio tertawa saat mendengar jawaban Zio padanya "Hahaha...oke oke jadi kalian mau mengadakan resepsi pernikahan ?" tanya Rio kembali.
"Iya, mana tunjukkan padaku karyamu yang luar biasa itu ?"
__ADS_1
"Ah..iya ini, yang ini belum pernah dipakai sama sekali. Jika kau mau kau akan memakainya dihari bahagiamu nanti." Rio menunjukkan gambar pelaminan dan yang lainnya.
"Bagaimana sayang, apa kau suka ?" tanya Zio pada Jihan yang memperhatikan gambar tersebut.
"Indah sekali Mas." ucap Jihan pelan.
"Aku mau semuanya sempurna, Rio. Tak pedulu berapapun biayanya, Asisstenku akan mengurus pembayarannya nanti !"
"Tentu saja, resepsi pernikahanmu nanti tentu akan sangat berkesan nantinya. Aku yakin orang lain akan iri nantinya."
Setelah urusan dengan Rio selesai. Zio mengajak Jihan ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka. Saat mereka asyik makan bahkan Zio sangat manis pada Jihan dengan memberikan Jihan suapan.
Tiba-tiba pemandangan itu ditangkap oleh Devan yang juga baru saja tiba direstoran bersama Bianca. Ia terpaksa harus menemani Bianca hari ini karena Bianca selalu merengek padanya dan juga mengancam dirinya untuk bunuh diri jika Devan tidak menuruti keinginannya.
Devan mengepalkan kedua tangannya saat melihat adegan romantis antara Jihan dan Zio. Hatinya seakan diremas-remas saat melihat wanita yang ia sukai begitu mesra dengan lelaki lain. Sakit namun tak berdarah, itulah yang dirasakan Devan.
__ADS_1
Bianca yang melihat kemana tatapan Devan ia mengernyit dahinya saat melihat Jihan dengan seorang lelaki. Lebih terkejutnya ia saat tahu siapa lelaki itu, dia adalah Fabrizio rekan bisnis Papanya.
"Oh ternyata mangsanya itu para lelaki kaya raya, pantas saja ia bisa membeli barang-barang mewah." cibir Bianca
"Apa maksudmu ?" tanya Devan cepat menatap tajam Bianca.
"Apa kau tidak tahu alasan dia menolakmu karena ia ingin bersama lelaki mapan dan kaya raya, lihat dia bersama siapa ? Jadi benar kan dugaanku jika dia itu memang Open BO."
"Bianca !" ucap Devan dengan suara beratnya, ia tak habis pikir dengan pemikiran Bianca pada Jihan. Bisa-bisanya ia menuduh Jihan yang bukan-bukan. Devan menjadi malas untuk terus bersama dengan Bianca, ia meninggalkan Bianca direstoran.
"Devan kau mau kemana ?" Bianca menyusul Devan yang pergi meninggalkan dirinya.
Jihan yang mendengar suara Bianca memanggil Devan matanya melirik kesana kemari mungkinkah ada Bianca dan Devan direstoran yang sama dengannya.
"Ada apa sayang ?" tanya Zio menatap ekspresi yang berbeda dari istrinya.
__ADS_1
"Ah...tidak apa-apa Mas." Jihan kembali mengunyah makanannya.