ISTRI SIRI CEO

ISTRI SIRI CEO
ROMI & BIANCA


__ADS_3

"Ama Ka" ucap Valeria yang tengah belajar berjalan.


"Iya Mama Bianca disini" balas Bianca sambil merentangkan kedua tangannya menyambut Valeria yang berjalan ke arahnya dengan perlahan-lahan.


Romi yang tak sengaja melihat Valeria sedang bersama Bianca di kamarnya. Ia menyunggingkan senyumannya ternyata Valeria begitu tumbuh dengan cepat. Bahkan sudah sedikit demi sedikit berjalan dan berbicara.


Selama Bianca tinggal dirumahnya entah kenapa kehidupan setiap hari Romi seakan penuh dengan warna. Bahkan Bianca tidak hanya mengasuh Valeria, tapi juga sudah merangkap mengurus urusan perutnya. Karena Bianca selalu memasak untuknya.


Kadang Romi berfikir mungkin jika ia memiliki istri suatu saat nanti pasti akan lebih menyenangkan.


Romi masuk ke dalam kamar Bianca hingga Bianca menoleh ke arah Romi yang sudah berpakaian rapi hendak pergi ke kantor.


"Apa kau mau ikut denganku nanti ?" tanya Romi pada Bianca


"Kemana Tuan ?" Bianca balik bertanya


"Orang tuaku ada di Sumatera Barat tepatnya di kota Bukit Tinggi. Aku dan Valeria akan ke sana untuk beberapa hari." balas Romi

__ADS_1


"Tentu saja aku ikut, Tuan. Lagi pula siapa nanti yang menjaga Valeria selama diperjalanan dan di sana nanti ?" ucap Bianca mantap dengan keputusannya.


"Baiklah, lusa kita akan berangkat. Kalau begitu aku pamit." balas Romi


Bianca menganggukkan kepalanya namun saat Romi hendak berbalik dan meninggalkan kamar Bianca. Bianca menahannya langkah kakinya dengan memanggil namanya.


"Tuan, tunggu." ucap Bianca ia berdiri dari duduknya tanpa permisi ia membenarkan dasi yang dikenakan oleh Romi karena sedikit bergeser.


"Nah begini sudah rapi." ucap Bianca kemudian tersenyum manis. Senyuman itu ternyata membuat Romi terpaku. Romi akui jika Bianca memang sosok gadis yang cantik. Namun baru kali ini ia melihat senyuman manis di bibir gadis itu. Apalagi bibir tipis itu membuat Romi ingin sekali mengecupnya.


Romi mendadak menjadi salah tingkah ia jadi malu pada dirinya sendiri dan juga Bianca. Kenapa ia sampai berani sekali mengecup bibir Bianca. Romi kemudian meninggalkan Bianca di kamarnya yang masih diam mematung.


Romi masuk ke dalam mobilnya ia mengusap kasar wajahnya saat mengingat kejadian barusan. Bahkan ia merutuki kebodohannya sendiri.


"Ais...apa yang kulakukan !" gumamnya


Sebenarnya selama ini Romi sudah lama mencuri pandang dengan Bianca. Namun ia menepis perasaannya karena mana mungkin ia sampai menyukai Bianca. Bahkan ia pernah mendekati sekretaris baru Zio, namun entah kenapa Bianca selalu muncul difikirannya.

__ADS_1


Romi bahkan selalu ingin cepat selesai mengerjakan pekerjaannya agar cepat pulang, bukan hanya melihat Valeria tapi juga Bianca.


Pernah beberapa bulan lalu Romi mengetahui jika Bianca setiap hari mengajak Valeria kuliah. Tapi Romi tak marah sekalipun padanya. Bahkan pernah menawarkan diri jika Bianca kuliah lebih baik Valeria bersamanya dulu di kantor setelah Bianca pulang kuliah Bianca dapat mengambil alih Valeria.


Romi kemudian berfikir bagaimana jika ia melamar Bianca menjadi istrinya di depan kedua orang tuanya. Karena kedua orang tuanya dikampung halaman tersebut selalu menelfon dirinya jika hendak pulang menemui mereka harus membawa calon istri.


Bagi Romi urusan diterima atau tidak dirinya nanti yang terpenting ia sudah berani melamar Bianca. Lagi pula Valeria sudah sangat dekat dengan Bianca, bahkan memanggilnya dengan sebutan Mama.


Setelah Romi mantap dengan keputusannya ia kemudian pergi berangkat ke kantornya, sepulang dari kantor nanti ia berencana untuk membeli sebuah cincin untuk Bianca.


Lain Romi lain juga Bianca yang menatap Valeria sedang bermain di atas ranjangnya. Ia memegangi bibirnya setelah di cium oleh Romi. Ia kemudian tersenyum manis, ternyata perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.


Karena selama ini ia juga sudah menyukai Romi namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya secara langsung. Sudah cukup baginya dulu saat berhubungan dengan Devan ia dicampakkan oleh Devan yang lebih memilih Jihan ketimbang dirinya. Ia tak mau lagi mendapat luka yang sama.


Bianca menggelengkan kepalanya mengingat kejadian singkat barusan. Hatinya seakan berbunga-bunga saat ini.


"Apa benar ia menyukaiku ?" tanya Bianca seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2