
"Ida, apa mereka tidak keluar dari kamar ?" tanya Sonia yang baru saja pulang dari Hotel dan hendak masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat kepala pelayan yang melintas ke arahnya.
"Mereka keluar saat pukul sebelas pagi, tapi kembali masuk ke kamar sampai detik ini mereka tidak keluar kamar lagi, Nyonya."
"Apa mereka tidak lapar." desis Sonia saat waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Tuan Muda tadi meminta dibawakan makan malam dikamar mereka, Nyonya."
"Oh...baguslah. Apa mereka melakukan hal aneh dirumah ini ?" tanya Sonia penuh selidik pada kepala pelayan dirumahnya.
"Soal itu silahkan Nyonya cek sendiri di ruang CCTV." Bu Ida tidak berani menjelaskan apa yang sudah anak dan menantu majikannya itu lakukan di ruang keluarga tadi siang.
Sonia langsung menuju ruang CCTV dilihatnya rekaman dari pagi hari, betapa terkejutnya ia saat melihat adegan yang berdurasi 2 menit antara anak dan menantunya sudah terlihat lengket bak perangko.
"Ternyata mereka sudah melakukannya, baguslah aku sebentar lagi akan punya cucu." Sonia terkekeh sendiri membayangkan nanti jika suatu saat Jihan hamil dan dirinya akan menjadi seorang Nenek.
.......
__ADS_1
"Makan buahnya biar tubuhmu lebih segar, Sayang." Zio menyuapkan potongan buah apel ke mulut Jihan yang sudah selesai memakan makan malamnya.
"Terima kasih" Jihan tersenyum manis dan Zio mengecup pipi Jihan sekilas.
"Apa besok kau kuliah bukan ?" tanya Zio sembari mengupas lagi apel ditangannya.
"Iya, seperti biasa. Untung saja hari ini tidak ada jadwal kuliah. Coba kalau aku kuliah, pasti aku jadi cibiran teman-temanku karena cara berjalanku sudah seperti bebek." Jihan mencebikkan bibirnya dan membuat Zio terkekeh mendengarnya.
"Tapi sepertinya besok sudah tidak berjalan seperti bebek lagi, bukankah sudah tidak sakit lagi ?" Zio menanggapi dengan santai.
"Bagaimana kita lakukan lagi, supaya rasa sakitnya benar-benar hilang." Zio menjawab dengan cepat. .
plak
Jihan memukul bahu suaminya dengan keras hingga Zio mengaduh kesakitan.
"Aduh, sakit." Zio memegangi bahunya yang terasa panas.
__ADS_1
"Dasar suami mesum, semalam Mas melakukannya sampai jam 3 pagi. Bahkan siang ini sampai menjelang maghrib Mas melakukannya." sunggut Jihan yang tak habis pikir dengan suaminya yang mengajak dirinya untuk melakukan hal itu lagi padanya.
"Mesum dengan istri sendiri, apa salahnya. Lagi pula bukankah istri akan mendapatkan pahala jika melayani suaminya dengan ikhlas." jawab Zio cemberut.
"Iya seorang istri akan mendapatkan pahala jika melayani suaminya dengan hati yang ikhlas. Tapi pernikahan bukan hanya soal melakukan ****, tapi juga mencari ridho dari allah dan juga ibadah." terang Jihan memberikan pengertian pada suaminya itu.
Zio tertegun mendengar ucapan Jihan, benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Soal ibadah ia jadi malu karena selama ini ia sudah abai bahkan sudah lama ia tak melakukan sholat. Apalagi sekarang ia sudah menikah, bukankah ia harus menjadi imam yang baik untuk Jihan yang merupakan makmumnya.
"Apa ucapanku, salah Mas ?" lirih Jihan yang melihat suaminya hanya diam saja.
"Tidak apa yang kau ucapkan semuanya benar dan menyadarkan aku tentang siapa aku sekarang. Aku akan belajar bukan hanya menjadi suami yang baik untukmu Jihan, tapi juga imam yang baik."
"Kau mau kan kita sama-sama belajar bersama, membangun rumah tangga kita yang sakinah dimata Allah ?"
Jihan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia senang jika suaminya berubah menjadi lelaki yang lebih baik.
"Aku mau Mas." Jihan seketika langsung memeluk tubuh Zio dan Zio mengelus rambut panjang Jihan dengan lembut.
__ADS_1