
"Tuan Alexander akan berkunjung ke kediaman anda besok malam, Tuan." ucap Romi pada Zio yang sedang memperhatikan pekerjaannya di tabletnya.
"Kalau begitu, hubungi koki di rumahku siapkan makan malam yang sepesial." balas Zio pada Romi
"Baik Tuan."
"Tuan minggu depan apakah saya boleh izin beberapa hari, saya ingin pulang ke kampung halaman saya. Tuan. Lagi pula selama ini saya belum memperkenalkan Valeria pada kedua orang tua saya." pinta Romi pada Zio
Zio mendongak menatap asisstennya itu, kemudian ia tersenyum padanya. "Tentu saja, ambillah libur selama yang kau mau." jawab Zio pada Romi. Sebenarnya Zio sudah menganggap Romi bukan sekedar seorang asissten tapi seperti temannya sendiri sebab Romi sudah lama bekerja padanya.
"Kau tidak perlu sungkan padaku, anggap aku ini seperti temanmu bukan hanya bosmu." sambung Zio lagi
"Saya tidak enak hati Tuan, anda begitu baik pada saya. Dulu anda membantu biaya pengobatan Ayah saya, memberikan tempat tinggal untuk saya, dan gaji yang bukan nominal semestinya saya terima." ucap Romi
__ADS_1
Zio terkekeh mendengarnya karena apa yang ia berikan adalah hal yang mudah baginya. "Itu bukan apa-apa. Selagi kau bisa ku percayai dan menjaga kepercayaan ku apapun akan ku berikan untukmu." balas Zio
"Terimakasih Tuan, aku berjanji tidak akan mengecewakan anda." ucap Romi ia merasa bersyukur bertemu dan bekerja dengan Zio yang selalu baik kepadanya entah apa jadinya dulu jika ia tak bertemu dengan Zio mungkin Ayahnya sudah tiada karena penyakit yang terus di deritanya, sedangkan pada saat itu ia tidak mempunyai uang sama sekali untuk membiayai pengobatan Ayahnya.
Zio tak menanggapi ia hanya tersenyum sebagai bentuk balasan. Kemudian ia kembali fokus pada layar di tabletnya.
.......
"Kenapa wajahmu pucat ?" tanya Jihan pada Mayang setelah mereka selesai mengikuti satu mata kuliah.
Jihan membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Mayang yang menyatakan jika ia hamil lagi.
"Wow...aku salut padamu Mayang, belum setahun usia Rama tapi ia sudah mau memiliki adik." ucap Jihan sambil terkekeh
__ADS_1
"Apa harus dikata, nasi sudah jadi bubur mungkin dia sudah sebesar biji kacang hijau sekarang. Ini semua karena ulah suamiku, tahu begini aku pakai pasang alat kontrasepsi IUD saja." ucap Mayang sambil mengoceh pada Jihan
Jihan tertawa mendengar ocehan Mayang "Haha...memangnya kenapa kau bisa sampai hamil, bukankah kau selalu rutin meminum pil KB." tanya Jihan penasaran
"Bagaimana aku mau rutin meminumnya, sedangkan suamiku selalu menyerang ku tanpa tahu waktu." jawab Mayang dengan wajah yang ditekuk
Jihan hanya bisa menyunggingkan senyuman pada sahabatnya itu, pasti berat bagi Mayang harus menerima kenyataan jika ia sedang hamil kembali. Apalagi Rama masih terlalu kecil pasti sangat merepotkan sekali untuk Mayang.
"Tapi tidak baik juga jika kau mengeluh, May. Dia anakmu bersama suamimu, itu sebuah rezeki yang tidak disangka-sangka datangnya. Banyak wanita diluar sana yang ingin merasakan mengandung dan melahirkan. Namun Tuhan memberi mereka cobaan lebih dahulu baru mereka diberi kepercayaan memiliki seorang anak bahkan ada yang sama sekali tidak bisa hamil."
"Kau harus bersyukur Mayang, tidak semua wanita bisa sepertimu. Contohnya aku, kau tahu benar jika aku sampai stress karena belum kunjung hamil padahal suamiku sangat menginginkan anak." ucap Jihan memberikan pengertian pada Mayang.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh sahabatnya itu, Mayang menjadi luluh. Benar, jika ia tak boleh menyalahkan takdir Tuhan jika ia diberi kepercayaan seorang anak kembali meskipun pada awalnya ia tak menginginkannya.
__ADS_1
"Terimakasih Jihan, kau menyadarkan aku. Kau benar aku seharusnya bersyukur bukan mengeluh, lagi pula ini rezeki dari Tuhan aku harus menerimanya." jawab Mayang dengan wajah sendunya
"Itu baru sahabatku." ucap Jihan kemudian ia memeluk Mayang memberikan semangat pada sahabatnya itu.