
Pagi harinya Zio datang ke kantor tanpa menunjukkan sikap Zio yang biasanya ramah pada karyawannya. Semua Karyawan yang berpapasan dengan Zio tak berani menatap wajahnya karena entah kenapa Bosnya itu akhir-akhir ini menjadi pemarah dan dingin apalagi saat mereka hanya melakukan satu kesalahan kecil.
Saat Zio sudah berada di ruang kerjanya dan mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Tiba-tiba seperti biasa Romi akan memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu. Zio menjadi kesal dan marah pada Romi karena Romi tidak mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke ruangannya, padahal selama ini memang Romi sudah biasa tidak mengetuk pintu saat masuk ke ruangannya.
"Seharusnya kau mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan ku !" sarkas Zio pada Romi
Romi mengernyitkan dahinya ia merasa heran kenapa Bosnya itu marah hanya karena hal yang sudah biasa ia lakukan, padahal ia sudah tahu itu sedari awal ia bekerja dengannya. Bahkan hal itu pun berdasarkan perintah Bosnya.
"Apa Tuan ada masalah ?" tanya Romi pada Zio yang nampak terlihat ada beban yang dirasakan oleh Zio.
Zio menghela nafasnya mungkin lebih baik ia bercerita dengan dengan Romi prihal rumah tangganya. Barangkali Romi bisa memberikan pendapat untuknnya.
"Apa yang akan kau lakukan jika istrimu tidak mau melayani mu, Rom ? tanya Zio menatap Romi sekilas kemudian pandangan matanya kembali lurus ke arah depan.
__ADS_1
" Maksud Tuan, Nyonya Jihan tidak mau di sentuh oleh Tuan ?" tebak Romi pada Zio
Zio menganggukkan kepalanya sebagai bentuk balasan. Romi mulai mengerti sekarang kenapa Bosnya itu menjadi pribadi yang dingin dan pemarah akhir-akhir ini.
"Apakah aku harus membawanya kepsikeater ? Tapi aku takut ia menjadi salah paham dan marah padaku." lirih Zio ia menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya, ia memijat pangkal hidungnya tiba-tiba ia menjadi sakit kepala dengan masalah rumah tangga yang ia hadapi.
"Iya seharusnya memang begitu Tuan, saya rasa Nyonya Jihan menjadi trauma dan tidak percaya diri jika bersentuhan dengan Anda." jawab Romi pada Zio.
"Tapi dia pasti tidak mau, Rom. Aku malah takut dia menjadi marah dan benci padaku nantinya." ucap Zio
Zio menghembuskan kasar nafasnya mungkin yang di katakan oleh Romi ada benarnya. Ia pun berencana membawa Jihan menginap di rumah Ayahnya. Karena sudah lama sekali mereka tidak kesana.
Ya walaupun rumah Ayah Jihan tidak di huni tapi ia selalu menyuruh pelayan membersihkan rumah tersebut setiap dua hari sekali.
__ADS_1
Setelah berbincang dengan Romi, Zio pulang ke rumah pada saat jam makan siang kantor. Rasanya terlalu malas untuk hari ini untuk bekerja.
Zio begegas pulang kerumahnya saat ia telah tiba di rumah ia melihat istrinya sedang berdiri di samping box Keenan. Saat itu Keenan sedang tertidur pulas mungkin Keenan usai menyusu dengan kenyang.
Zio memeluk tubuh Jihan dari belakang dengan erat, Jihan hanya diam saja entah kenapa selalu bersalah jika berdekatan dan bersentuhan dengan suaminya. Rasanya ia tak lagi pantas untuk suaminya tersebut.
"Sayang, bagaimana jika kita menginap di rumah Ayahmu ?" ucap Zio pelan
Jihan berbalik menatap suaminya mendengar suaminya itu mengajaknya menginap di rumah Ayahnya. Sudah lama sekali ia tidak pulang ke rumah Ayahnya.
Jihan menganggukkan kepalanya begitu antusias karena akan menginap di rumah Ayahnya.
Zio pun sore harinya mengajak Jihan ke rumah Ayahnya. Keenan sengaja tak mereka bawa karena Zio ingin menikmati waktu berdua bersama istrinya. Lagi pula Mama Sonia sudah mengambil alih Keenan, bayi itu sangat dekat dengan lengket pada Grand Ma nya. Jadi Zio tidak khawatir jika Keenan mereka tinggal satu atau dua malam.
__ADS_1
"Daddy pergi dulu Boy, doakan Daddy agar bisa merubah Mommy mu kembali seperti awal lagi pada Daddy." ucap Zio dalam hati ia menciumi wajah dan kening Keenan dengan gemas.