
Jihan berjalan ke dalam kampus dan hendak menuju ruang kelasnya di lantai tiga. Saat ia hendak menaiki tangga terdapat suara lengkingan memanggil namanya, Jihan menoleh dan terkejut saat melihat Mayang ada dikampus yang sama dan dirinya.
Jihaaaaan....
"Mayang !" Jihan tersenyum senang kemudian memeluk sahabatnya itu, mereka saling berpelukan layaknya teman lama tak pernah bertemu.
"Kau kuliah disini juga ?" tanya Jihan penuh selidik.
Mayang tercengir kuda dan menganggukkan kepalanya. Ia sengaja ingin kuliah dikampus yang sama dengan sahabatnya itu, karena ia sendiri mempunyai cita-cita sama seperti Jihan, ingin menjadi seorang dokter.
"Tapi bukannya kau mau kuliah di luar negeri ?."
"Aku membujuk Mama agar kuliah disini saja, lagi pula aku tak mau tinggal sendirian di negera orang."
"Ya sudah, aku mau ke kelasku sebelum Dosennya datang lebih dulu." balas Jihan hendak berpamitan pada Mayang.
"Baiklah, sayangnya kita tidak satu kelas." Mayang mendengus sebal karena tidak bisa satu kelas dengan sahabatnya.
"Tak apa, nanti kita bertemu lagi. Okey" Jihan segera menuju kelasnya yang berada dilantai atas.
__ADS_1
Selepas kepergian Jihan, Mayang membalikkan tubuhnya tiba-tiba saja tubuhnya bertabrakan dengan seorang lelaki yang begitu tampan dimatanya.
'astaga, tampan sekali lelaki ini' ucap Mayang dalam hatinya menatap lelaki dihadapannya tanpa berkedip.
Lelaki itu adalah Rayyan ia datang ke kampus Jihan untuk menemui temannya yang merupakan seorang Dosen.
"Apa kau baik-baik saja, Nona ?" Rayyan mencoba menyadarkan gadis dihadapannya yang terdiam tanpa berkedip menatapnya.
Mayang tersadar ia menjadi gugup dan malu. "Aah...iya iya."
"Apa kau bisa menunjukkan dimana ruangan Dosen dikampus ini ?" tanya Rayyan basa-basi sebenarnya Rayyan sudah sering ke kampus itu, namun saat ia melihat gadis cantik dihadapannya kini jiwa badboy dan cassanovannya bergejolak, sepertinya ia bisa mendekati gadis dihadapannya.
"Oh ya sudah, kalau begitu bolehkah aku meminta nomor ponselmu ? sebagai bentuk maafku karena sudah menabrakmu, suatu saat aku akan mentraktirmu."
Mayang begitu senang karena Rayyan meminta nomor ponselnya. Mayang tidak curiga sedikitpun pada Rayyan ia memberikan nomor ponselnya. Setelah itu Mayang dan Rayyan memutus pembicaraan karena Mayang harus masuk ke dalam kelasnya.
Rayyan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman saat melihat punggung Mayang yang sudah menjauh dari pandangan matanya.
.......
__ADS_1
Disisi lain Zio sedang melaksanakan meeting bersama para manager dan karyawannya.
"Model atau Aktris yang akan menjadi bintang iklan serta brand ambassador produk kita kali ini adalah nona Cindy Marcelia, Tuan." ucap manager perencanaan.
"Apa tidak ada model atau artis yang lain ?" jawab Zio menatap tajam manager tersebut.
"Maaf tuan, hanya dia yang menjadi kandidat terkuat untuk membintangi iklan produk ini." Manager itu dengan takut menjawab.
"Aku tidak mau dia yang menjadi bintang iklannya, carilah model atau artis yang lain !" Zio berdiri dari duduknya moodnya mendadak berubah saat mendengar nama mantan kekasihnya itu yang harus menjadi bintang iklan produk perusahannya.
Semua manager dan karyawan menatap takut pada atasannya itu. "Meeting kita lanjutkan besok !" Zio meninggalkan ruang meeting disusul oleh Romi dibelakangnya.
Saat Zio sudah berada diruangannya ia mendudukkan diri dikursi kebesarannya dan melonggarkan dasinya.
"Tuan mengenai nona Cindy, ini silahkan tuan cek sendiri." Romi menyerahkan berkas laporan kesehatan Cindy yang ia dapat dirumah sakit tempo hari.
"Apa ini ?" Zio melirik map coklat yang ada dihadapannya.
"Nona Cindy menderita penyakit kanker rahim, Tuan." ucap Romi pelan
__ADS_1
"Apa...