
Tiga bulan kemudian, usia kandungan Jihan sudah memasuki trimester kedua. Perut perempuan yang belum genap berumur 19 tahun itu sudah mulai membuncit.
"Sayang kenapa masih pakai celana jeans ?" protes Zio saat melihat tampilan istrinya yang selalu memakai sepatu kets, kaos oblong dan celana jeans saat pergi ke kampus.
"Memangnya kenapa, Mas ?" balas Jihan
"Kasihan nanti bayi diperutnya." keluh Zio.
"Oh iya aku lupa, perutku sudah mulai membuncit. Tapi celana ini masih muat." balas Jihan lagi
Zio mendengus jika terus-terusan membicarakan soal celana pasti istrinya itu akan merajuk. Karena hamil Jihan mudah merajuk, marah, dan cemberut padanya padahal hanya karena masalah sepele.
Zio menuju lemari dibukanya lemari itu dan ia memilih baju tunik dibawah lutut untuk dikenakan Jihan.
"Pakai ini, nanti kau akan terlihat lebih manis jika memakainya." bujuk Zio dengan rayuan agar Jihan mau memakai baju tersebut.
"Benarkah ?" tanya Jihan dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja, ayo pakailah." jawab Zio cepat
"Baiklah." Jihan tersenyum senang kemudian ia membuka pakaian atasnya dihadapan Zio. Zio menelan kasar silvanya saat melihat bulatan padat berbalut bra di depan matanya, sungguh sangat menggoda baginya.
Ingin sekali rasanya ia memainkannya saat itu juga, namun apalah daya hari ini ia ada rapat penting dan juga harus mengantar Jihan ke kampus karena istrinya itu harus kuliah.
__ADS_1
"Kau sangat menggoda, sayang." ucap Zio dengan suara beratnya.
"Dasar suami mesum, pagi buta seperti ini masih saja mesum !" sunggut Jihan setelah selesai memakai pakaiannya dihadapan suaminya.
"Kau juga mesum, Sayang. Coba kau ingat minggu lalu kau datang ke kantor hanya untuk mengajakku ber.cinta." oceh Zio tak kalah terima saat ia dikatakan mesum oleh istrinya.
Blush
Pipi Jihan merona bagaikan tomat saat suaminya mengingatkan dirinya beberapa waktu lalu.
"Itu bawaan bayi di dalam perut !" jawab Jihan cepat tak mau mengakui perbuatannya.
"Kasihan sekali bayiku sudah kena fitnah dari Ibunya." ucap Zio pelan dengan nada sedih dibuat-buat.
Zio terkekeh geli mendengar jawab Jihan padanya. Setelah mereka selesai berganti pakaian, mereka menuju ruang makan untuk sarapan.
Sudah hampir satu bulan ini Zio dan Jihan menempati rumah baru mereka. Rumah yang bernuansa putih nan estetic itu begitu besar sampai-sampai di dalamnya terdapat banyak sekali pelayan yang bekerja disana.
Zio melarang Jihan untuk melakukan pekerjaan rumah, Zio hanya memperbolehkan Jihan untuk memasak saja untuknya dan melayani kebutuhannya.
"Lusa Mayang akan mengadakan acara tujuh bulanan kehamilannya, kita di undang ke rumahnya. Mas." ucap Jihan sambil memakan sarapannya.
"Baiklah, nanti kita ke sana." Jawab Zio dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Siang nanti apa Mas mau menemaniku pada saat jam istirahat ?" tanya Jihan.
"Kemana ?"
"Aku ingin memakan bakso yang waktu itu kita makan." ucap Jihan pelan ia sebenarnya ragu untuk memakannya karena takut suaminya tidak akan mengizinkannya karena bakso yang dijual tersebut sangatlah pedas.
"No !" balas Zio cepat. Tentu saja Zio tidak akan mengizinkan istrinya memakan bakso itu, karena ia takut terjadi apa-apa pada calon anak mereka jika Jihan memakannya.
"Bakso itu sangat pedas, Sayang." ucap Zio mengingatkan istrinya.
"Tapi aku ingin sekali memakannya." Jihan cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut seperti itu, aku jadi tidak sabar untuk mencium bibirmu." protes Zio
"Ya sudah kalau begitu izinkan aku memakan bakso itu, ya ?" tawar Jihan lagi
Zio menghela nafasnya ia benar-benar harus ekstra sabar menghadapi istrinya. Zio pun mengizinkan Jihan memakan bakso itu nanti. Zio tentu saja sudah memikirkan cara agar Jihan tidak memakan bakso itu, dengan menyuruh Romi membayar seluruh dagangan penjual bakso tersebut agar menutup dagangannya hari ini. Dengan begitu nanti Jihan tidak akan bisa memakan bakso itu di sana, karena warung bakso tersebut tutup.
... ....
Gaes entar malem aku kasih dua bab lagi, aku banyak kerjaan soalnya 🙏😘❤
Komen dong gaes yang banyak..pleasee 😭
__ADS_1