
Tak terasa sudah 3 bulan Bahri dan Humairah berada di kampung, Bahri pun berencana ingin kembali tinggal di rumah mereka dulu, yang sekarang di tempati oleh Fahru dan Siti.
"Tidak mas..!saya tidak setuju jika rumah ini di ambil kembali,enak saja...kita yang memperbaiki dan merawat rumah ini,malah kak Bahri yang enak-enak kan mau mengambil dan menempati rumah ini"ucap Siti marah-marah merasa tidak terima.
"Tapi dek,rumah ini kan atas nama kak Bahri,jadi kak Bahri berhak mengambil kembali rumah ini"sahut Fahru.
"Rumah ini rumah warisan nenek kalian, jadi siapa pun berhak menempati rumah ini, termasuk kita,lagi pula kita sudah lama menempati rumah ini mas,masa harus di ambil lagi sih..."ucap Siti menolak keras.
"Lagian mas Fahru saja yang bodoh, kenapa dulu mau rumah ini di balik nama dengan nama kak Bahri, seharusnya kan nama mas Fahru saja"protes Siti menyalahkan, Siti tidak tau cerita nya dengan asal usul rumah itu, kenapa menjadi atas nama Bahri, karena Fahru tidak pernah menceritakan tentang kebenaran itu pada istri nya.
"Pokoknya mas Fahru,harus menolak keras permintaan kak Bahri"suruh Siti.
"Tapi dek,apa yang harus mas katakan pada kak Bahri..?"tanya Fahru bingung.
"Mas ini bodoh atau gimana sih..?ya bilang saja kita tidak mau keluar dari rumah ini itu aja repot..!"sahut Siti merasa sangat gemas pada suami nya yang terlihat letoy.
"Tapi mas takut dek"ucap Fahru, Siti pun menggeram kesal pada suaminya.
"Ck,mas ini suami apaan sih,letoy banget..!masa bicara begitu saja takut,apa mas Fahru ingin kita jadi gelandangan..?gak punya tempat tinggal,mas..!kita ini sudah punya anak 4,gak mungkin kita harus tinggal di rumah orang tua ku mas,dan aku juga gak mau jika kita harus mengontrak,entar duit bulanan saya berkurang lagi"keluh Siti sambil berdecak kesal, Fahru terdiam mendengar nya,apa yang di ucapkan Siti menurut nya itu benar, tidak mungkin mereka harus kembali menumpang di rumah orang tuanya Siti, sedang kan mereka sudah memiliki banyak anak,walau pun ia mendapat kan gajih yang lumayan besar, tetap saja mereka memerlukan pengeluaran yang banyak karena istri sangat hobi belanja, dan tidak mungkin jika mereka mengontrak apa lagi membeli rumah.
"Pokoknya,saya tidak mau keluar dari rumah ini titik..!jika mas Fahru ingin keluar dari sini,ya keluar saja sendiri,tapi saya dan anak-anak akan tetap tinggal di rumah ini"ucap Siti,lalu segera pergi meninggalkan suaminya, Siti masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu nya, Fahru mengejar istri nya.
Tok..tok.. tok..!
"Dek..buka pintu nya..!"panggil Fahru sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar nya.
"Gak..!mas Fahru malam ini tidur di luar saja.."sahut Siti,Siti memang sering seperti itu jika sedang marah atau pun merajuk pada suaminya.
"Dek Siti sayang, tolong jangan seperti ini..!"bujuk Fahru pada istri nya.
"Selama mas Fahru tidak bisa mempertahankan rumah ini,maka selamanya mas Fahru tidur di luar,saya tidak mau tidur dengan mas Fahru lagi..!"ancam Siti, Fahru pun langsung ternganga mendengar nya.
"Astaghfirullahal'azim...dek tolong jangan bicara seperti itu...!ok,besok mas akan bicara pada kak Bahri dan meminta nya agar tidak jadi mengambil rumah ini "sahut Fahru berusaha membujuk istri nya, berhasil, Siti pun membuka pintu kamar itu.
__ADS_1
"Beneran..?mas tidak bohong..? pokok nya,saya tidak mau jika terusir dari rumah ini"ucap Siti.
"Iya sayang,besok mas akan bicara pada kak Bahri, sekarang kamu jangan marah lagi ya..yuk kita tidur"ajak Fahru tersenyum, sambil merangkul istri hendak masuk ke dalam kamar,namun Siti dengan cepat menepis dan melepaskan rangkulan itu lalu menghalangi suaminya yang ingin masuk.
"Malam ini mas tetap tidur di luar,mas akan tidur di kamar jika mas sudah berhasil mempertahan kan rumah ini..!"tolak Siti sambil mendorong tubuh suaminya keluar kembali,lalu segera menutup dan mengunci kamar nya, Fahru pun mengusap wajah nya dengan kasar,ia merasa sangat kesal karena percuma saja membujuk istri nya, toh ujung-ujungnya dia tetap di suruh tidur di luar.
Tok..tok..tok!
ciklek..!
"Yusuf, Ayah numpang tidur di kamar kalian ya"ucap Fahru, sambil memasuki kamar anak laki-laki nya.
"Ayah di usir dari kamar lagi sama ibu..?"tanya Yusuf, Fahru pun mengangguk kan kepalanya, Yusuf menghela nafas nya dengan panjang.
"Ada masalah apa lagi yah, kenapa kalian berdua sangat sering berkelahi..?"tanya Yusuf,ia tak habis pikir dengan kedua orang tua yang setiap hari ada saja masalah yang mereka ribut kan, Fahru menghela nafas nya dengan panjang.
" Ya bagai mana lagi nak,ibu mu sangat doyan bertengkar dengan Ayah"sahut Fahru sambil terkekeh.
"Kenapa orang dewasa selalu suka bertengkar..?bahkan sampai berhari-hari tidak saling menyapa,dan ngambek nya orang dewasa lebih parah dari pada kita yang masih kecil"ucap ridho anak ke tiga Fahru yang masih berusia 7 tahun.
"Kenapa Ayah mau menikah dengan ibu..?"tanya ridho.
"Ya karena Ayah cinta"sahut Fahru.
"Tapi ibu sering membuat Ayah tersiksa,apa waktu itu tidak ada lagi wanita yang lain selain ibu yah..?"tanya ridho.
"Ya banyak,tapi kalau Ayah tidak menikah dengan ibu mu, tidak akan ada kalian ridho.."sahut Fahru.
"Iya juga ya he...he..."sahut ridho sambil tertawa, Fahru dan Yusuf pun ikut tertawa.
"Ya sudah, Ayah tidur di sini saja dengan Idan dan ridho,biar saya yang tidur di ruang tamu" ucap Yusuf mengalah,lalu membawa bantal dan selimut nya keluar,karena rumah itu hanya ada 3 kamar, terpaksa Fahru menumpang tidur di kamar anak laki-laki nya, karena kamar yang satu nya lagi di tempati oleh anak gadisnya.
"Terima kasih ya nak"ucap Fahru sambil tersenyum, iya bersyukur anak-anak nya mengerti dengan keadaan nya.
__ADS_1
"Iya Ayah, sama-sama"sahut Yusuf sambil tersenyum.
*
*
*
Keesokan harinya, Fahru meminta bantuan dengan Diana untuk bicara pada Bahri, karena itu adalah senjata ampuh untuk bisa meluluhkan hati Bahri, Diana pun meminta Bahri untuk datang kerumahnya dan membicarakan hal itu, Bahri pun datang bersama Humairah.
"Kak Bahri,saya dengar kak Bahri mau mengambil alih rumah yang di tempati Fahru ya..?"tanya Diana.
"Iya itu benar, karena aku merasa tidak enak jika terlalu lama menumpang di rumah Umi,selain kami,di sana juga banyak saudara Humairah, kasian beliau jika kami ikut membebani nya, apa lagi aku masih belum punya pekerjaan "sahut Bahri menjelaskan.
"Tapi kak Bahri, apa kak Bahri tidak kasihan pada Fahru, dia juga tidak memiliki rumah, selain itu anaknya juga banyak, kasihan dia jika harus luntang lantung tidak ada tempat tinggal"ucap Diana membela Fahru, Fahru pun dengan cepat mengangguki nya sambil memasang wajah yang memelas, Bahri pun terdiam mendengar nya,satu sisi ia kasian pada adiknya,dan di sisi lain ia juga sangat kasihan pada istri dan anak-anak nya,Bahri sangat bingung harus bagai mana.
"Tapi dek,kakak tidak punya pilihan lain, seandainya kakak memiliki pekerjaan, mungkin kakak akan menyewa rumah saja,dan tidak akan sampai hati mengambil rumah ini"sahut Bahri merasa tidak enak, padahal Fahru saat ini memiliki pekerjaan yang lumayan besar gajih nya, sedangkan Diana saat ini juga sedang naik daun, pekerjaan dan penghasilan suaminya sangat besar,tetapi mereka justru menutupi dan takut jika Bahri meminta bantuan kepada mereka, begitu pun juga Yanur yang sangat jarang sekali kelihatan batang hidungnya kerena selalu sibuk dengan pekerjaan nya.
"Kami mengerti kak,tapi apa kak Bahri tidak kasihan pada Fahru,tadi malam saja mereka bertengkar karena masalah ini"ucap Diana, Bahri pun mengerutkan alisnya.
"Bertengkar..?"tanya Bahri, Fahru pun mengangguk kan kepalanya.
"Iya kak, gara-gara kak Bahri ingin mengambil rumah itu,saya sampai di usir dari kamar dan disuruh untuk tidur di luar oleh Siti,dan Siti juga bilang, jika kak Bahri tetap keras mengambil nya,maka selamanya saya akan tidur di luar,dia juga mengancam untuk meminta cerai kak hiks.. hiks.."sahut Fahru melebih-lebihkan,ia pun sambil menangis, agar Bahri menjadi iba.
"Tolong lah kak, kasian Fahru, sebaiknya kak Bahri mengalah saja lah, lagi pula ini kan rumah warisan nenek"ucap Diana terdengar memaksa, Bahri pun terdiam mendengar nya, melihat Fahru yang menangis dan di tambah lagi di dukung oleh Diana yang ikut memasang wajah yang sedemikian sedih, benar saja.. Bahri pun langsung merasa sedih dan bersalah karena telah membuat adik-adik nya bersedih,ia pun juga tidak mau jika adiknya harus bercerai gara -gara diri nya.
Humairah tercengang melihat nya,entah kenapa perasaan Humairah ada sesuatu yang tidak beres,bahkan kata-kata Fahru dan Diana seakan-akan menyalahkan suaminya, ingin rasanya Humairah menyahut lalu memarah-marahi mereka berdua dan mengungkit masa lalu atas apa yang mereka perbuat pada suaminya dulu,dan mengatakan bahwa rumah itu sepenuhnya adalah milik suaminya,bukan lagi di sebut warisan,agar mereka tau diri kalau saat ini mereka lah yang posisi nya hanya menumpang dan meminjam, tetapi Humairah masih menjaga Marwah dan harga diri suaminya,ia tak mau suaminya di pandang rendah oleh adik-adik nya, karena ia marah-marah, Bahri menatap istrinya dengan tatapan yang memelas, Humairah tau benar jika suaminya ingin meminta ijin pada nya, dengan terpaksa Humairah mengangguk kan kepalanya,ia tak mau membuat suaminya semakin banyak beban karena ulah adik-adik nya,menurut Humairah, mungkin sebaiknya mereka menjauh dari tempat itu, dari pada memaksakan untuk tinggal di sana, tetapi akan ada salah baru lagi yang akan mereka hadapi.
...****************...
Bersambung dulu ya....
Jangan lupa kasih semangat dan dukungan nya buat author 🤗
__ADS_1
Terima kasih 🙏🏻