
Rahmat yang tidak mendapat kan restu dari ibu nya,ia pun menjadi lesu, kerjaan nya hanya berdiam diri di kamar,makan pun rasa tak berselera.
"Mana Rahmat bu? apa dia masih betah uring-uringan?"tanya bapak.
"Seperti nya begitu"sahut ibu cuek, bapak hanya geleng-geleng kepala saja melihat ibu dan anak nya yang sama-sama keras kepala.
"Assalamu'alaikum"ucap kakek Sukri.
"Wa'alaikum salam"sahut bapak dan ibu.
"Paman Sukri..! silahkan masuk paman"ajak bapak, sambil menyalami tangan kakek Sukri, kakek Sukri pun segera masuk dan duduk.
"Apa paman mau kopi?"tanya ibu, kakek Sukri pun mengangguk kan kepalanya.
"Ini kopi nya paman"ucap ibu sambil menyodorkan kopi buatan nya ke kakek Sukri.
"Pardi..Farah,apa anak kalian si Rahmat sudah memberi tahu kalian, tentang niat nya ingin menikah?"tanya kakek Sukri, bapak dan ibu Rahmat pun langsung mengangguk kan kepalanya.
"Sudah paman"sahut bapak.
"Lalu apa keputusan kalian? apa kalian setuju?"tanya kakek Sukri, sambil menatap ibu dan bapak.
Mereka pun hanya diam dengan pertanyaan dari kakek Sukri.
"Kenapa?aku tau.. jawabannya pasti tidak setuju kan?"ucap kakek Sukri,ibu pun hanya menundukkan kepalanya.
"Paman,kami sebagai orang tua, pasti ingin anak nya mendapatkan yang terbaik untuk masa depan nya"sahut ibu, kakek Sukri pun tersenyum mendengar nya.
"Yang terbaik seperti apa Farah?apa karena status nya janda,jadi kamu anggap itu tidak baik?"tanya kakek Sukri, sambil menatap ibu.
"Ya salah satu nya itu paman, dan asal usul anak siapa juga kita tidak tau..!apa lagi kata Rahmat perempuan itu anak yatim-piatu" sahut ibu.
"Apa salahnya anak yatim-piatu? semua orang tidak ada yang menginginkan untuk menjadi yatim piatu, semua itu karena kehendak Allah,lagi pula,jadi janda pun bukan kehendak nya,tapi Allah yang sudah menentukan nasibnya, Farah..apa kamu lupa..!suami mu ini juga yatim-piatu waktu kalian menikah, hanya paman yang dia punya,dan masalah baik atau tidak nya,itu setelah kita mengenal nya,jika kita sudah mengenalnya baru kita bisa memutuskan orang itu baik atau tidak nya"ucap kakek Sukri,ibu pun terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Dan satu lagi,andai kamu tahu siapa orang tua dari perempuan yang anak mu cintai itu,aku yakin.. kamu pasti menyesal telah menolaknya"ucap kakek Sukri,ibu pun langsung terkejut mendengar nya.
"Memangnya siapa orang tua perempuan itu paman?"tanya ibu penasaran.
"Kamu tanya kan saja sendiri pada anak mu"sahut kakek Sukri, dengan santainya sambil menyeruput kopi nya,ibu pun langsung cemberut.
"Tapi kan Rahmat nya lagi merajuk paman"keluh ibu.
"Rahmat nya yang merajuk, atau kamu yang gengsi untuk bertanya?"sahut kakek Sukri, yang sangat tahu dengan watak keras kepala ibu nya Rahmat,ibu pun hanya tersenyum kecut.
"Sana..!panggil anak mu kemari"suruh kakek Sukri,ibu pun tak bisa menolak nya, karena ibu paling takut dengan kakek Sukri yang ia anggap seperti orang tua kandung sendiri.
Tak lama Rahmat pun keluar dari kamar nya dan bergabung di ruang tamu.
"Kakek..!"ucap Rahmat sambil menyalami tangan kakek Sukri.
"Apa yang kamu dapat setelah berdiam diri di kamar selama 2 hari?"tanya kakek Sukri, Rahmat pun hanya terdiam dan memasang muka masam,sambil menggeleng kan kepalanya, kakek Sukri pun tertawa melihat nya.
"Rahmat,beri tahu kami, siapa nama orang tua perempuan itu?"tanya ibu yang sudah sangat penasaran dari tadi dan tidak sabar ingin mengetahui nya.
"Namanya..-"ucapan Rahmat terhenti sambil mengingat-ingat siapa nama orang tua Diana.
"Hah..masa nama calon mertuanya saja lupa, bagai mana nanti mau ijab qobul..!"ledek kakek Sukri, Rahmat pun hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum malu, ibu pun menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Nama ayah nya Ardiansyah dan nama ibu nya adalah Siti Rahmah, anak dari ibu Jubaidah sahabat kamu waktu sekolah dulu"ucap kakek Sukri.
Deg.
Ibu pun terkejut mendengar nya,ia tak menyangka ternyata perempuan yang di cintai oleh anak nya itu,ternyata anak sahabat nya sendiri.
"Ja.. jadi perempuan itu anak nya Siti paman?" tanya ibu merasa tak percaya, kakek Sukri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya"sahut kakek Sukri.
__ADS_1
"Apa kamu masih menolak nya?"tanya kakek Sukri sambil menatap ibu.
"Tidak paman, karena itu anaknya Siti,saya pasti akan menyetujui nya"sahut ibu, karena waktu dulu, mereka memang ingin berencana menjodohkan anak- anak mereka di waktu muda dulu,Rahmat yang mendengar nya pun sangat terkejut,ia tak menyangka ternyata ibunya bisa langsung merestui nya setelah tau nama ibu dari Diana.
"Yang benar bu? jadi ibu merestui kami?"tanya Rahmat merasa sangat bahagia,ibu pun mengangguk-angguk kan kepalanya sambil tersenyum.
"Hore..jadi.. kawin..jadi.. kawin.. akhirnya saya jadi kawin kek, terima kasih kakek "ucap Rahmat kegirangan,sambil berjoget-joget,dan langsung memeluk kakek nya.
Ibu, bapak dan kakek Sukri pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja sambil tertawa melihat tingkah laku Rahmat.
"Kalau begitu, Rahmat mau ke kamar dulu pak,bu,kek, Rahmat mau telepon Diana"ucap Rahmat sangat bersemangat,dan langsung berlari ke kamar nya.
"Dasar anak muda.."ucap kakek Sukri sambil terkekeh.
Di kamar, Rahmat pun langsung mengabari Diana dan memberi tahu kalau ke dua orang tua nya sudah merestui hubungan mereka, dan secepat nya dia akan langsung melamar, Diana pun sangat bahagia mendengar nya, namun ada satu hal yang masih mengganjal, Diana belum memberi tahu dan meminta restu dari kakak nya Bahri,dan Bahri pun besok baru akan pulang.
*
*
*
Keesokan harinya Bahri pun pulang.
pagi hari, ketika mereka makan bersama, Diana dan nenek Idah pun berusaha bicara pada Bahri.
"Bahri...kamu ingat dengan Rahmat,cucu ponakan dari kakek Sukri?"tanya nenek Idah, Bahri terdiam sejenak, lalu beberapa saat kemudian Bahri mengangguk kan kepalanya.
"Iya ingat nek,memang ada apa?"tanya Bahri, sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Bagai mana pendapat mu tentang dia?"tanya nenek Idah, Bahri berhenti mengunyah dan mengerutkan alisnya heran.
"Dia orang yang baik,sopan,dan juga rajin bekerja"sahut Bahri, sambil menyuap nasi goreng nya lagi,nenek Idah dan Diana pun tersenyum mendengar nya, karena Bahri memandang positif tentang Rahmat.
"Begini Bahri, Rahmat berencana ingin melamar Diana dalam waktu dekat ini"ucap nenek Idah, Bahri yang mendengar nya pun langsung terdesak.
"Pelan-pelan makan nya"ucap nenek Idah sambil memberikan segelas air putih ke pada Bahri, setelah meminum air, Bahri pun menatap nenek dan adik perempuan nya.
"Apa yang nenek kata kan tadi,melamar? Rahmat akan melamar Diana?"tanya Bahri memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"I..iya"sahut nenek Idah merasa cemas,sambil mengangguk kan kepalanya, Bahri pun menatap Diana.
"Jelas kan..!apa selama ini kalian ada hubungan?"tanya Bahri, Diana terdiam sambil menunduk kan kepalanya, tangan nya pun mulai meremas baju nya,ia merasa takut jika kaka nya marah.
"Jawab yang jujur pada kaka,apa selama ini kalian diam-diam kalian menjalin hubungan?" tanya Bahri lagi, Diana pun mengangguk kan kepalanya pelan.
"I..iya ka,ta.. tapi hanya sekedar teleponan dan berkirim pesan saja,kami pun belum pernah bertemu lagi setelah dari Banjarmasin kemaren"sahut Diana menjelaskan, Bahri hanya diam mendengar kan.
"Bahri, mereka berdua sudah saling menyukai dan sama-sama cocok, jadi apa salahnya mereka menikah"sahut nenek Idah berusaha membujuk, setelah mendengar itu, Bahri pun berdiri dan pergi meninggalkan mereka tanpa bicara sepatah kata pun, mereka semua pun merasa bingung dengan sikap Bahri.
"Nenek, apa ka Bahri marah? apa ka Bahri tidak menyetujui nya?"tanya Diana merasa sedih dan cemas, nenek Idah tak bisa menjawab nya, karena ia pun bingung dengan Bahri, apa dia setuju atau tidak.
"Bersabar lah cucuku, mungkin kaka mu Bahri perlu waktu untuk menerima nya"hibur nenek Idah.
"Iya ka Diana,ka Bahri hanya perlu waktu untuk mencerna apa yang dia dengar tadi, karena ini sangat mendadak dan mengejutkan,kami saja merasa sangat terkejut tadi"sahut Yanur, ikut menghibur Diana.
"Iya,bersabar lah ka, semoga saja ka Bahri setuju ka Diana dengan ka Rahmat"ucap Fahru ikut menyahut.
"Terima kasih Yanur, Fahru,Kaka sangat senang mendengar nya, karena kalian mendukung kaka"ucap Diana, Fahru dan Yanur pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
*
*
*
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam"
"Bahri..! mari masuk nak"ajak kakek Sukri, Bahri pun masuk ke dalam rumah kakek Sukri.
"Ada apa? kenapa wajah mu murung begitu,kaya orang habis kalah judi saja"ucap kakek Sukri mengejek.
"Kakek..!"ucap Bahri, kakek Sukri pun langsung tertawa melihat nya.
"Ya sudah,nih bawa merokok dulu"ajak kakek Sukri sambil menyodorkan rokok nya, Bahri pun mengambil satu batang dan menyalakan nya lalu menghisapnya.
"Kakek tau,kamu pasti bimbang untuk mengambil keputusan"ucap kakek Sukri yang sebenarnya sudah tahu masalah nya.
"Benar kek"sahut Bahri, sambil mengusap rokoknya, kakek Sukri tersenyum mendengar nya.
"Apa yang membuat mu bimbang?apa kamu tidak menyukai cucuku?"tanya kakek Sukri, Bahri pun terdiam lalu menggeleng kan kepalanya.
"Tidak kek,saya hanya merasa takut, rumah tangga nya Diana, akan terulang kembali jika ia menikah lagi"sahut Bahri.
"Kenapa kamu yang menjadi trauma? Bahri...semua orang itu berbeda-beda,jangan kamu sama kan Rahmat dengan suami Diana yang dulu, mereka mempunyai pendirian yang sangat berbeda,jika suami Diana dulu sumbu pendek,maka aku jamin cucu ku adalah sumbu panjang"sahut kakek Sukri, Bahri pun terkekeh mendengar nya.
"Aku yakin adik mu itu sudah dewasa, pasti dia tidak ingin hancur untuk kedua kalinya, walau pun Rahmat cucu ku belum pernah menikah,tapi aku sangat tahu dengan sifat nya,dia sangat bertanggung jawab dan mempunyai pendirian yang kuat,aku bukan membela atau membanggakan cucu ku,tapi karena itu kenyataan nya,jika saja cucu ku itu bukan orang baik,aku sendiri yang akan melarangnya untuk melamar adik mu"ucap kakek Sukri, Bahri pun merasa lebih baik dan lega mendengar nya.
"Terima kasih kek, sekarang saya yakin bahwa Rahmat orang yang tepat untuk Diana "ucap Bahri, kakek Sukri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum dan menepuk pundak Bahri.
"Baiklah kek,kapan pun Rahmat ingin datang melamar Diana,saya siap menyambut nya dengan senang hati "ucap Bahri, kakek Sukri pun tersenyum lega dan bahagia mendengar nya.
"Tentu secepat nya Bahri"sahut kakek Sukri, Bahri pun pamit dari rumah kakek Sukri.
Setelah 2 hari,ternyata keluarga Rahmat benar-benar datang ke rumah Bahri, Diana pun sangat terkejut melihatnya,pasal nya Rahmat tidak bercerita bahwa dia dan orang tua nya serta kakek Sukri akan datang untuk melamar nya secepat ini,apa lagi Diana belum mendapatkan jawaban setuju dari kakak nya Bahri.
"Nenek,bagai mana ini?ka Bahri kan tidak setuju, pasti Rahmat akan malu karena ka Bahri menolak nya"ucap Diana khawatir.
"Kamu tenang lah dulu,jangan terlihat panik begitu,kaya orang mau di tangkap polisi saja"sahut nenek Idah, sambil menahan tawa nya,nenek Idah sudah tau, karena Bahri sudah bercerita pada nenek Idah kalau dia sudah menyetujui hubungan mereka, dan lamaran ini pun sudah kesepakatan mereka bersama,cuma Diana saja yang tidak di beri tahu.
"Nenek..!ini bukan waktu nya bercanda, pokok nya,kalau ka Bahri sampai menolak ka Rahmat, Diana tidak mau lagi menikah untuk selamanya,biar kan saja Diana menjanda seumur hidup"ancam Diana.
"Kamu mau mengancam rupanya..! kenapa tidak kamu ucap kan saja langsung pada Bahri kaka kamu itu, kenapa menyampaikan kan nya pada nenek..!"suruh nenek Idah, yang hampir tergelak, Diana pun langsung memanyunkan bibirnya sambil cemberut.
"Ya.. Diana kan takut nek sama ka Bahri,jadi nenek saja yang sampai kan"suruh Diana.
"Nenek juga takut pada kaka mu,jadi ya sudah lah,biar kan saja kamu menjadi janda seumur hidup mu, biar sama dengan nenek"sahut nenek Idah cuek, Diana pun langsung melotot kan mata nya sambil ternganga.
"Nenek..!kok nenek tega sama Diana sih..!"keluh Diana protes.
"Lho...bukan nya kamu sendiri yang bilang tadi,mau menjanda seumur hidup,ya sudah berarti kamu akan sama dengan nenek"sahut nenek sambil mengulum senyumnya.
Diana pun langsung terdiam dan terduduk,ia merasa malu jika hal itu benar-benar akan terjadi.
"Ya sudah,nenek mau keluar dulu,nenek mau tau apa yang akan di bicara kan mereka"ucap nenek Idah, lalu meninggalkan Diana dan segera menemui tamu nya.
Mereka pun berbincang-bincang dengan akrab, nenek Idah pun sangat senang karena ternyata ibunya Rahmat adalah sahabat anaknya,hal itu semakin membuat Bahri dan nenek Idah yakin menerima mereka, Rahmat sangat bahagia karena lamaran nya di terima dan di sambut dengan baik,hari dan tanggal pernikahan pun sudah di tentukan oleh mereka,dan setelah itu Diana pun di panggil untuk keluar, karena ibu nya Rahmat ingin bertemu dengan Diana dan anak nya.
"Mari duduk di sini nak"pinta ibu Rahmat menyuruh Diana duduk di samping nya, dengan rasa takut Diana duduk di dekat ibunya Rahmat, sambil memangku Ahmad anak nya.
"Ya ampun lucu sekali, siapa namanya,dan berapa umur nya?"tanya ibu Rahmat.
"Namanya Ahmad, umur nya baru 7 bulan bu"sahut Diana merasa canggung dan malu-malu.
"Kenapa seperti nya keadaan terlihat baik-baik saja ya?"batin Diana merasa bingung, sambil menatap wajah yang lain satu persatu.
"Wajah mereka terlihat bahagia kok..!tidak terlihat tegang?"batin Diana lagi bergumam.
...****************...
Bersambung...
jangan lupa kasih like, komen dan vote nya ya ☺️
__ADS_1
terima kasih ❤️