JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
Kabur


__ADS_3

Tak terasa hari pernikahan Mei dan Dimas tinggal satu minggu lagi, segala persiapan dan perlengkapan sudah siap, seserahan pun sudah di terima oleh pihak Bahri,seluruh keluarga pun bergotong royong membantu untuk persiapan itu,mereka semua menyambut dengan gembira, sebagian keluarga yang jauh pun sudah pada datang.


Di saat semua pada sibuk, Mei berencana hendak kabur dari rumah, ia berjalan dengan terburu-buru sambil menenteng sebuah tas di tangan nya.


"Kak Mei..!"panggil Caca, Mei pun tersentak kaget melihat adiknya di depan pintu.


"Aduh... kenapa harus ketemu Caca sih..!aku harus cari alasan yang tepat biar Caca gak curiga"batin Mei gelagapan, sambil berpikir keras mencari alasan,karna jika tidak... adiknya itu pasti akan langsung curiga dan menanyainya berbagai macam pertanyaan yang akan membuat kepala nya pusing.


"Ca-caca he..he"ucap Mei salah tingkah.


"Kak Mei mau kemana..?"tanya Caca, sambil menatap curiga.


"Aku mau kerumah Atun, mengantarkan tas nya yang tertinggal"sahut Mei sambil tersenyum, Atun adalah teman akrab Mei sejak sekolah dulu, Mei pun mencoba memasang wajah yang biasa saja, agar Caca tak curiga, Caca menyeritkan alisnya,


"Bukan kah itu tas milik kak Mei..?"tanya Caca, sambil menatap tas itu dan hendak menyentuh nya, dengan cepat Mei langsung menyimpan tas itu ke belakang tubuhnya.


"Ah..kamu salah ca,ini tas milik Atun kok, mungkin tas nya mirip dengan tas ku"elak Mei.


"Tapi Caca ingat kok, kalau itu ..-"perkataan Caca langsung di potong oleh Mei.


"Ah... Kakak buru-buru nih, kasian si Atun udah nunggu dari tadi"sahut Mei,ia pun langsung segera keluar dan pergi meninggalkan Caca, sambil memeluk erat ke depan tas itu dengan kedua tangan nya.


"Tunggu kak Mei..!"panggil Caca, namun Mei tak menghiraukan panggilan itu, Caca pun menyipit kan matanya sambil menatap jauh punggung kakak nya yang berjalan setengah berlari.


"Kak Mei aneh sekali..? apa sebaiknya aku susul saja kak Mei ya?"batin Caca,ketikan Caca hendak mengejar Mei tiba-tiba ada suara yang memanggil nya.


"Caca..!apa kamu sudah kembali..?mana tepungnya..?"teriak Nur dari dapur, Caca pun langsung menepuk jidatnya,ia lupa jika Nur sejak tadi menunggu tepung yang di beli nya untuk membuat kue.


"Iya julak Nur, tunggu sebentar..!"sahut Caca,ia pun meurung kan niat nya untuk menyusul kakak nya, lalu segera pergi ke dapur untuk memberikan tepung itu,lalu membantu Nur membuat kue.


Malam hari, semua orang berkumpul dan makan malam bersama.


"Mana nih calon pengantin kita,sejak tadi tidak kelihatan..?"tanya Om hair yang baru datang dari Palangkaraya.


Mereka semua pun baru menyadari, sejak tadi siang mereka tidak melihat keberadaan Mei.


"Apa kak Mei belum kembali dari rumah Atun bu..?"tanya Caca, karena ia sibuk di dapur membantu Nur, Caca tidak tau jika kakak nya ternyata belum kembali,Humairah pun menyeritkan alisnya.


"Rumah Atun..! Mei ke rumah Atun ca..?"tanya Humairah, Caca pun mengangguk kan kepalanya.


"Iya bu,tadi sore Caca ketemu kak Mei di depan pintu,kata nya dia mau kerumah Atun untuk mengembalikan tas milik Atun"sahut Caca memberi tahu.


"Tapi kenapa sampai malam dia belum kembali.."ucap Humairah.


"Caca, cepat kamu susul Mei ke rumah Atun, suruh kakak mu pulang"suruh Bahri, Caca pun mengangguk kan kepalanya dan segera pergi.


Sesampai nya di sana, Caca sangat terkejut mendengar pernyataan dari Atun,jika Mei tidak ada kerumahnya, dan Atun pun tidak pernah menitipkan tas nya pada Mei, Caca pun segera pulang dan memberi tahu kan hal itu kepada kedua orang tua, Bahri dan Humairah pun sangat terkejut mendengar nya.


"Caca, coba kamu periksa lemari Mei, apa pakaian nya masih ada di sana"suruh Bahri,ia masih mencoba berusaha untuk tenang.

__ADS_1


"Baju kak Mei sebagai tidak ada yah"ucap Caca memberi tahu.


"Apa jangan-jangan Mei kabur..?"ucap Nur.


"Astaghfirullahal'azim.."ucap Humairah sambil mengusap dadanya dan menangis, tiba-tiba Humairah pun jatuh pingsan, beruntung Bahri dengan sigap menangkap tubuh istri nya.


"Ibu..!"teriak Caca, Caca pun langsung memeluk ibunya sambil menangis,ia khawatir melihat ibunya pingsan,semua orang pun menjadi ribut, dan keadaan rumah menjadi kacau, semua keluarga berpencar mencari keberadaan Mei,namun gagal, Mei tak di temukan di mana pun.


Humairah pun sadar dari pingsannya,ia menangis memikirkan di mana keberadaan Putri nya, Bahri pun mencoba menenangkan istri nya,ia takut jika kejadian istri nya beberapa tahun yang lalu,kembali terulang lagi.


"Dek,kamu tenang lah dulu,mas akan menemukan Mei secepat nya"ucap Bahri lembut, sambil mengusap kepala istri nya.


"Maafkan Caca bu, seandainya tadi sore Caca tau, pasti Caca akan menghentikan kak Mei,dan kak Mei tidak akan kabur"ucap Caca merasa bersalah sambil menangis.


"Kamu tidak salah nak, Mei lah yang bersalah,dia pasti sudah merencanakan semua ini"sahut Humairah sambil mengusap lembut pipi putri nya.


Keesokan harinya, Bahri dan yang lain berunding untuk mencari keberadaan Mei.


"Aku harap, kabar kabur nya Mei jangan sampai terdengar oleh pihak keluarga Dimas, karena jika mereka tau,masalah ini pasti akan tambah kacau"pinta Bahri, mereka semua pun setuju.


"Dan juga,jangan sampai para tetangga tau"sahut Humairah,tak bisa ia bayangkan jika para tetangga nya tau, pasti mereka akan menjadi kan itu bahan gunjingan yang akan mereka sebar luaskan.


Sudah sampai malam hari mereka mencari informasi tentang keberadaan Mei, tetapi hasilnya tetap sama, mereka tak bisa menemukan di mana Mei berada, Bahri dan Humairah pun sudah hampir putus asa, tiba-tiba ponsel Humairah berdering, Humairah pun mengangkat telpon itu.


"Hallo, assalamu'alaikum ka Humairah"ucap Wati, adik perempuan Humairah yang saat ini tinggal di Balikpapan bersama suaminya, Wati tidak bisa pulang ke kampung untuk menghadiri acara pernikahan Mei, karena ia baru saja melahirkan.


"Wa'alaikum salam"sahut Humairah.


"Wati, jadi Mei ada di Balikpapan..?lalu bagai mana keadaan nya?"tanya Humairah, semua orang yang mendengar nya pun terkejut, Bahri langsung mengambil alih ponsel itu.


"Iya kak, keadaan Mei baik-baik saja"sahut Wati, dengan suara yang agak di pelan kan agar Mei tidak mendengar nya.


"Wati, tolong kamu jaga dan tahan Mei hingga aku sampai di sana,malam ini juga aku akan segera berangkat ke Balikpapan "ucap Bahri.


"Baik kak"sahut Wati,lalu segera mematikan sambungan telepon nya, Humairah pun menangis,satu sisi ia merasa lega akhirnya ia mengetahui keberadaan anak nya,dan di sisi lain ia merasa kecewa, kenapa putri nya sampai tega berbuat senekat itu.


"Dek tenang lah,mas akan berangkat ke Balikpapan sekarang juga untuk menjemput Mei"ucap Bahri.


"Tapi mas,ini sudah hampir tengah malam dan keadaan juga sedang hujan, sangat berbahaya jika mas berangkat.."cegah Humairah,ia khawatir dengan suaminya, Bahri pun terdiam.


"Biar saya antar kak Bahri langsung ke jalan perbatasan,biasa di sana banyak Bus luar kota yang lewat menuju Balikpapan,kak Bahri bisa ikut menumpang di bus itu"ucap Yasir memberi tahu.


"Kalau begitu cepat kamu antar kan aku segera"pinta Bahri, Bahri pun langsung mengambil tas kecil yang muat membuat satu lembar baju dan celana.


"Baik kak"sahut Yasir,ia pun segera mengambil motor nya.


"Ayah..!"panggil Caca, sambil berlari menghampiri Ayah nya, yang sedang memasang jas hujan.


"Ayah, setelah hujan pasti di jalan hawa nya semakin dingin,bawa lah Jaket ini,agar Ayah tidak Kedinginan"ucap Caca sambil memberikan sebuah jaket kulit kesayangan Ayah nya, Bahri pun tersenyum menatap putri nya.

__ADS_1


"Terima kasih nak, Ayah berangkat dulu, tolong kamu jaga Ibu dan adik mu dengan baik"ucap Bahri sambil mengusap kepala putri nya, Caca pun langsung mengangguk kan kepalanya.


"Baik yah, Ayah hati-hati di jalan"sahut Caca, Bahri pun mengangguk dan langsung berangkat bersama Yasir menuju jalan perbatasan, walau pun cuaca sedang hujan, Bahri pun tetap nekat menerobos nya.


Sekitar perjalanan 12 jam, akhirnya Bahri pun sampai di kota Balikpapan pada siang hari.


Tok..tok..tok..!suara ketukan pintu terdengar.


"Seperti nya ada tamu"ucap Wati yang sedang sibuk mengurus bayi nya.


"Biar Mei saja yang buka kan pintu nya tante"sahut Mei, Wati pun mengangguk kan kepalanya, sebenarnya Wati sudah tau siapa yang saat ini datang, tanpa curiga Mei pun melangkah kan kaki nya untuk membuka pintu, ketika pintu itu terbuka Mei pun langsung terkejut bukan main.


"A-ayah..!"bibir Mei bergetar memanggil Ayah nya, tubuh nya terasa lemas,rasa takut pun kian membuncah ketika melihat tatapan dingin Ayah nya,ia takut jika Ayah nya akan mengamuk dan memukuli nya.


Bahri pun di persilahkan masuk oleh Wati dan suaminya, mereka tak berani ikut campur, mereka hanya duduk diam dan menyimak pembicaraan Ayah dan anak itu , Bahri duduk berhadapan dengan putri nya yang sejak tadi menunduk tak berani menatap nya, suasana masih hening tak ada yang bicara, hingga akhirnya Bahri memecah keheningan itu.


"Kenapa kamu melakukan ini nak..?"tanya Bahri, sambil menatap putri nya.


"Maafkan Mei yah"ucap Mei yang masih saja menunduk kan kepalanya, sambil meremas kedua tangannya, Bahri menghela nafas.


"Hanya kata itu yang bisa kamu ucap kan pada Ayah.."sahut Bahri, Mei terdiam.


"Apa alasan kamu nak, hingga sampai hati kamu melakukan ini pada kami..?"tanya Bahri,kali ini air matanya pun tak bisa lagi ia bendung, mengalir membasahi pipinya, terlihat sangat nampak wajah yang sangat lelah.


"Ayah hiks..hiks..maaf kan Mei, sebenarnya Mei belum siap untuk menikah dengan kak Dimas"sahut Mei jujur sambil menangis.


"Jika kamu belum siap untuk menikah, kenapa kamu berpacaran dengan nya? apa kamu hanya ingin bermain-main saja?atau jangan-jangan, kamu memang sengaja berniat ingin mempermalukan orang tua mu ini..?"tanya Bahri sedikit emosi, Mei pun dengan cepat menggeleng-geleng kan kepalanya, sebenarnya, Bahri dan Humairah sudah berunding dan berpikir panjang dengan hal ini, apa yang terbaik untuk putri mereka, sehingga mereka memutuskan untuk memilih menikahkan putrinya dengan Dimas, agar tidak ada lagi pergunjingan dan fitnah yang di sebar luaskan tentang putri mereka,tapi ternyata keputusan mereka justru di tentang oleh putri mereka sendiri.


"Tidak yah..! Mei tidak pernah sedikit pun berniat ingin mempermalukan Ayah dan ibu"sahut Mei.


"Lalu, kenapa kamu kabur dari acara pernikahan mu yang tinggal beberapa hari lagi akan di laksanakan..? seandainya hari pernikahan itu tiba,dan kami belum menemukan keberadaan mu, apa yang akan kami katakan pada Dimas dan keluarga nya..? tentu sudah di pastikan,semua orang yang ada di kampung akan mencemooh kami berdua, karena kami tidak bisa mendidik putri kami dengan baik"ucap Bahri, Mei pun semakin terisak mendengar nya, Bahri pun menghela nafas nya dengan panjang, untuk mengendalikan emosi nya.


"Apa kamu tau keadaan ibu mu saat ini..?sejak kemaren dia tak mau makan atau pun tidur,ibu mu selalu menangis memikirkan mu, bahkan dia sempat jatuh pingsan karena shock setelah mengetahui jika kamu kabur dari rumah, Ayah tidak bisa bayang kan, apa yang akan terjadi jika semua orang menyalahkan diri nya atas apa yang putri nya perbuat"ucap Bahri memberi tahu,ia pun mengusap air mata nya, bayangan wajah istri nya yang sedang menangis terlintas di benak nya.


"Baiklah, Ayah tak perlu panjang lebar menasehati mu, karena Ayah tau kamu sudah cukup dewasa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, dan Ayah pun juga sudah tau alasan mu,jika kamu memang tidak ingin menikah,baiklah..!kamu tetap lah disini,biar kami berdua yang menanggung malu di sana"ucap Bahri,ia pun segera berdiri dan hendak pergi.


"Ayah..!"panggil Mei,ia pun langsung bersimpuh di kaki Ayah nya sambil menangis,ia merasa bersalah dan sangat menyesali perbuatannya.


"Ayah,ampuni Mei, Mei janji tidak akan lagi mengulangi kesalahan ini, Mei akan ikut Ayah pulang, Mei akan menerima kak Dimas dan menikah dengan nya"ucap Mei sambil memeluk erat kaki Ayah nya memohon ampun.


Akhirnya Bahri, Wati dan suaminya pun merasa lega, sore hari mereka pun berangkat kembali pulang ke kampung.


...****************...


Bersambung dulu ya....


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ☺️


Like, komen, vote dan hadiah nya ❤️

__ADS_1


Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2