
Setiap hari Siti merasa gelisah dan takut,jika suatu saat rumah yang mereka tempati tiba-tiba di ambil.
"Aku harus merencanakan sesuatu, agar rumah ini tidak di ambil"batin Siti,ia merasa takut jika suatu saat Bahri berubah pikiran dan dengan paksa mengambil rumah itu.
"Mas Fahru,mas harus secepatnya mengambil alih rumah ini,dan merubah surat itu menjadi atas nama mas Fahru"bujuk Siti, mulai mencoba mempengaruhi suaminya, Fahru menyeritkan alis nya.
"Maksud kamu,aku harus melakukan balik nama atas surat itu..?"tanya Fahru, Siti pun mengangguk kan kepalanya.
"Tapi dek,ini kan rumah kak Bahri"sahut Fahru mengingat kan kembali.
"Mas,apa mas mau, suatu saat nanti kita di usir dari rumah ini..?mas, seharusnya mas kan punya bagian dari rumah ini, walau pun mas Bahri yang menembus atau membeli nya, tetap saja sebagai adik kandung,mas dapat bagian"ucap Siti tetap keras dengan pendapat nya, Fahru pun terpengaruh oleh istri nya, menurut nya apa yang di katakan oleh istri nya itu benar juga.
"Bagai mana caranya dek..?"tanya Fahru.
"Begini mas, pertama-tama kita harus membujuk putri kak Diana si Mirna untuk kerja sama,kita harus mempengaruhi Mirna untuk membujuk kak Bahri agar mau menghibahkan tanah dan rumah ini kepada kita, lalu kita juga harus melibatkan Yanur dan kepala desa untuk membuat kan surat itu"sahut Siti,rencana licik pun mulai di rancang, Siti pun memanggil Mirna dan suaminya, Mirna adalah putri ke 4 oleh Diana,semenjak Rahmad menikah lagi, Mirna lah yang menempati rumah milik Diana,di antara ke 5 anak Diana, Mirna lah yang paling berada dari pada saudara-saudara nya.
Mirna yang tidak tau asal usul sejarah rumah itu, langsung saja percaya dan terpengaruh dengan omongan dan perintah Siti, mereka pun langsung pergi untuk menemui Bahri.
Awalnya Bahari dan Humairah merasa senang ketika keponakan beserta adik nya jauh-jauh mau bertandang ke tempat mereka, hingga akhir nya mereka tau maksud kedatangan itu.
"Julak Bahri, kedatangan kami kemari sebenarnya ingin membahas tentang masalah tanah dan rumah peninggalan nenek buyut"ucap Mirna membuka pembicaraan, Bahri pun menyeritkan alis nya bingung.
"Maksud kamu nak..?"tanya Bahri tidak mengerti,Bahri begitu menyayangi keponakan nya itu,ia menganggap Mirna bukan lagi sebagai keponakan, tetapi sama seperti anak kandung nya sendiri.
"Begini julak,saya ingin julak menanda tangani surat balik nama hibah tanah pembagian milik julak yang pernah julak janjikan kepada almarhumah ibu"ucap Mirna sambil menyerahkan map yang ada di tangan nya,
"Tanah hibah..?"gumam Humairah kebingungan, sambil menatap suaminya meminta penjelasan, Bahri pun terdiam,ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada Humairah, waktu itu Diana sedang sakit keras,ia pun memohon kepada Bahri, agar Bahri mau mehibah kan tanah yang ia bangun rumah menjadi milik nya, karena kasih sayang Bahri sangat besar kepada Diana, Bahri pun menyetujui itu semua,tapi dengan syarat tanah yang di banguni rumah Diana itu, tidak boleh di jual dan harus di tempati oleh turun pinurun nya,wajah kekecewaan dari Humairah pun terpancar dari mata nya,ia tak menyangka suaminya menutupi ini semua dari nya.
"Baiklah,mana surat itu"pinta Bahri, Humairah semakin sangat terkejut dan kecewa dengan keputusan dari suaminya itu,berbeda dengan ke empat orang yang ada di hadapannya,senyuman merekah terpancar di wajah Mirna, Fahru dan Siti,juga suaminya Mirna, tanpa pikir panjang mereka pun langsung menyerahkan dan membuka surat-surat yang harus di tanda-tangani oleh Bahri, Bahri pun bersiap hendak menandatangani surat itu tanpa ia baca terlebih dahulu,karena ia sangat percaya kepada keponakan dan adiknya itu.
"Yes,sudah ku duga ini akan berhasil..!"batin Siti bersorak gembira, Siti sudah memprediksi kan bahwa rencana nya pasti akan berhasil, Bahri yang tidak lulus sekolah, tidak akan mengerti dan tidak akan teliti dengan surat -surat itu.
"Tunggu Ayah..!"cegah Caca yang tiba-tiba datang,semua orang terkejut mendengar nya, Caca menghampiri Ayah nya yang baru saja hendak menanda tangani surat itu.
"Boleh kah Caca memeriksa dan membaca isi surat itu dulu yah.."pinta Caca, Bahri pun mengangguk kan kepalanya dan langsung menyerahkan surat itu kepada Caca.
"Tunggu nak Caca..! tidak perlu di periksa dan dibaca, sebaiknya serahkan saja pada Ayah mu untuk di tanda tangani segera, soalnya kan kita buru-buru ingin pulang, kalau terlambat bisa ketinggalan taksi..."ucap Siti mencegah dan mencari alasan, Caca pun mengerut kan alisnya, ucapan dari Tante nya justru membuat Caca curiga,ada hal yang tidak beres di dalam surat itu.
"Kenapa tidak perlu di baca..? bukan kah semua orang yang ingin menanda tangani surat-surat penting itu harus di baca dulu..! siapa tau ada kekeliruan atau pun kesalahan dalam pengetikan di dalam surat itu, jika ada kesalahan..kita bisa memperbaikinya "sahut Caca, Siti pun langsung gelabakan, wajah nya menjadi pias,ia takut rencana nya akan gagal,jika Caca membaca surat itu.
__ADS_1
"Tenang saja nak Caca,isi surat itu sudah
Tante dan paman periksa kok, tidak ada kesalahan dalam pengetikan, jadi kamu tidak perlu khawatir"ucap Siti mencoba membujuk Caca, Fahru pun mengangguki nya,sambil tersenyum untuk meyakin kan Caca,tentu saja Caca tidak mudah percaya begitu saja.
"Kenapa Tante Siti terlihat kesannya seperti berusaha keras untuk melarang saya agar tidak membaca surat ini, apa ada sesuatu yang kalian tutupi..?"tebak Caca sambil menatap curiga, wajah Siti semakin pucat,ia tak menyangka Caca lebih pintar dari nya,Siti pun hanya bisa terdiam dan pasrah ketika Caca tetap memilih membaca isi surat itu dengan teliti,wajah Caca langsung berubah setelah selesai membaca isi surat itu.
"Ayah,Caca mau tanya,apa Ayah menjual tanah itu..?"tanya Caca, Bahri mengerutkan alisnya,lalu setelah itu menggeleng kan kepalanya.
"Tidak..! Ayah hanya mehibah kan tanah itu sebagai hak pakai saja"jawab Bahri, menjelaskan, Caca pun mengalihkan pandangannya ke ke empat orang yang ada di hadapannya, mereka semua pun menjadi salah tingkah.
"Paman Fahru,apa paman dan yang lain berencana ingin menipu Ayah..?"tanya Caca sambil menatap tajam pamannya.
"Astaghfirullah.. Caca..!jaga ucapan mu nak, hormati orang yang lebih tua,dia adalah paman mu..!"bentak Bahri pada Caca,ia begitu terkejut dengan sikap Caca yang tidak sopan ke pada pamannya sendiri.
"Maaf Ayah, Caca akan hanya menghormati orang yang juga memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua,apa lagi kepada kakak kandung nya sendiri yang telah susah payah merawat dan menafkahi nya"sahut Caca terdengar sarkas dan menohok kepada Fahru, Bahri bingung dengan jawaban dari Caca,tak pernah putri nya itu begitu berani menyahuti nya.
"Ayah,asal Ayah tau,isi di dalam surat ini, menyatakan bahwa Ayah telah menjual seluruh tanah itu hanya seharga 45 juta,dan di beli oleh atas nama Rahmat"ucap Caca memberi tahu.
Deg.
Bahri dan Humairah sangat terkejut mendengar kenyataan itu, Bahri pun menoleh ke arah adik bungsu nya itu meminta penjelasan,namun Fahru langsung menundukkan wajahnya tak berani menatap kakak nya, Bahri pun beralih menatap keponakan nya.
"Begini julak Bahri, bukan kah tanah milik nenek buyut sudah menjadi milik kalian berempat? bagian almarhumah ibu dan julak adalah rumah yang saya tempati sekarang, sedang kan bagian paman Yanur dan paman Fahru, adalah rumah yang di tempati oleh paman Fahru,nah.. bagian paman Yanur sudah saya keluar kan sebesar 45 juta, sedang kan bagian julak Bahri sudah julak terima waktu setelah beberapa Minggu ibu meninggal sebesar 45 juta juga"terang Mirna menjelaskan, Bahri dan Humairah langsung ternganga mendengar nya, mereka tak menyangka tanah itu ternyata sudah di bagi dan di atur dengan sedemikian rupa,entah siapa asal mula yang membagi itu, Bahri tak tau.
"Astaghfirullahal'azim,bagai mana bisa hal ini terjadi"batin Bahri merasa tidak percaya.
"Sejak kapan tanah dan rumah itu di bagi..?"batin Bahri,ia tidak pernah merasa membagi tanah itu,lagi pula tanah itu sekarang bukan lagi menjadi tanah warisan,tatapi tanah miliknya dan istri nya.
"Mirna,sejak kapan pembicaraan itu terjadi..?dan masalah uang yang kami terima sebesar 45 juta kemaren adalah uang pembayaran hutang ibu mu yang pernah ia pinjam kepada kami,itu pun hanya separuh nya saja"sahut Humairah sedikit emosi,ia tak menyangka pembicaraan mereka waktu dulu dengan Rahmat suaminya Diana tak sesuai dengan pembicaraan sekarang.
"Tapi julak sendiri yang pernah bilang,jika rumah dan tanah itu akan di hibah kan kepada ibu...!"ungkit Mirna tak mau kalah.
"Iya benar itu kak,saya dan istri saya saksi nya..."sahut Fahru mengingat kan dan mendukung Mirna, Bahri pun menghela nafas nya dengan panjang.
"Mirna,memang benar dulu waktu ibu mu Diana masih hidup,aku pernah bilang,jika tanah yang sekarang kamu tempati itu,aku hibahkan sebagai hak pakai,siapa pun yang menempatinya asalkan itu keturunan Nenek, maka aku boleh kan, tetapi aku tak pernah membicarakan bahwa tanah itu akan aku hibahkan seluruh nya apa lagi di jual"terang Bahri menjelaskan, Bahri merasa sangat kecewa kepada keponakan dan adik-adik nya yang sudah merubah pembicaraan.
"Tapi julak,jika julak tidak menandatangani surat balik nama ini, berarti sama saja julak telah menipu saya, karena saya sudah mengeluarkan jumlah uang yang banyak untuk ini"paksa Mirna tak terima.
"Benar kak Bahri, kasian Mirna, dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk ini"sahut Siti ikut membela sambil memasang wajah memelas,agar Bahri kasihan,karena itu adalah senjata ampuh untuk meluluhkan hati Bahri.
__ADS_1
"Apa kalian tidak kasihan kepada Ayah..?kak Mirna hanya baru mengeluarkan 45 juta saja kalian sudah merasa kasian, bagai mana dengan Ayah yang sudah mengeluarkan uang ratusan juta untuk rumah itu dan membantu kalian..?"tanya Caca, mereka semua pun sontak langsung terdiam.
"Kak Mirna,asal kak Mirna tau,tanah itu bukan lah tanah warisan dari nenek buyut lagi, karena sebelum nenek buyut di makam kan, sudah di gugat oleh kakek Mukti adik kandung nenek buyut,dan dia meminta agar tanah dan rumah nenek buyut itu harus di tebus,dan apa kalian tau siapa yang menebus seluruh tanah dan rumah itu..?"tanya Caca lagi, mereka semua masih diam membisu mendengar kan nya.
"Ayah dan ibu lah yang telah menebus tanah dan rumah itu..!dari hasil kerja keras keringat mereka sendiri,dan kalian seenak jidat sekarang mengakui bahwa tanah dan rumah itu adalah warisan dan meminta hak bagian kepada Ayah..!"ucap Caca emosi,ia begitu geram dengan perlakuan mereka terhadap Ayah nya yang begitu tidak adil, beruntung Caca sudah mengetahui kisah yang sebenarnya dari Bahri dan Humairah, Bahri dan Humairah selalu bercerita tentang masa lalu hingga perjuangan mereka mempertahan kan rumah itu.
"Seharusnya kalian merasa malu, dan berterima kasih kepada Ayah, karena Ayah telah berbaik hati membiarkan kalian tinggal di atas tanah miliknya,tapi apa yang Ayah dapat..?kalian semua telah berencana ingin menipu Ayah,dan meminta tanda tangan Ayah agar seluruh tanah itu menjadi milik kalian..!"ucap Caca begitu marah, Bahri pun menetes kan air mata nya, hati nya kali ini begitu sakit, dadanya terasa sesak,ia tak habis pikir dengan adik-adiknya yang begitu ia sayangi telah tega membohongi nya.
Uhuk..uhuk..uhuk..!
Bahri terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak dan seketika ia pun jatuh pingsan.
"Ayah..!
"Mas..!"
Teriak Caca dan Humairah.
Caca dan Humairah terkejut dan langsung panik melihat nya, Caca dan Humairah pun segera membawa Bahri ke rumah sakit terdekat,tapi sebelum meninggalkan mereka Caca pun bicara.
"Paman, Caca tidak akan memaaf kan paman jika terjadi sesuatu kepada Ayah, Caca akan selalu ingat dengan perbuatan dzalim kalian terhadap Ayah,asal paman tau.. apa yang kalian perbuat ke pada Ayah akan di balas oleh Allah"ucap Caca,lalu segera pergi meninggalkan mereka semua yang mematung mendengar ucapan terakhir dari Caca.
Di rumah sakit.
Bahri pun sudah sadar dan keadaan nya juga sudah membaik, dokter mengatakan jika Bahri sempat mengalami serangan jantung mendadak, beruntung ia dengan cepat segera di bawa kerumah sakit,jika tidak, mungkin nyawanya tidak akan tertolong, mendengar hal itu Humairah dan Caca menangis tersedu-sedu.
"Ayah, Maaf kan Caca..!"ucap Caca, merasa bersalah, karena emosi nya yang tak terkendali, membuat Ayah nya semakin shock dan sedih.
"Kamu tidak salah nak, mereka lah yang salah, justru Ayah sangat berterima kasih dan bangga pada mu,jika tidak ada kamu, mungkin seluruh tanah peninggalan nenek buyut mu sudah hilang"ucap Bahri sambil mengusap lembut kepala putri nya.
"Iya nak,ibu bersyukur ada kamu yang telah berani menggagalkan dan membela kebenaran dan keadilan untuk Ayah mu"sahut Humairah, mereka pun berpelukan sambil menangis.
...****************...
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya βΊοΈ
Terima kasih ππ»
__ADS_1