
Kakek Mukti dan istri nya pun masuk ke kamar bersama Bahri dan Humairah di ikuti juga oleh Diana.
"Ada apa kek?"tanya Bahri.
"Bahri, sebenarnya aku ingin membahas tentang harta gono gini milik nenek mu"sahut kakek Mukti, Bahri pun menjadi kebingungan mendengar nya.
"Harta gono-gini...?apa maksud kakek Mukti?"tanya Bahri,ia tak paham dengan apa yang di bicara kan oleh kakek Mukti adik bungsu oleh nenek Idah, Humairah dan Diana pun juga ikut kebingungan.
"Begini Bahri,maksud aku... rumah ini adalah warisan dari orang tua kami, karena kak Idah sudah tidak meninggal,maka hak kepemilikan rumah ini akan menjadi hak ku"ucap kakek Mukti, Bahri pun terkejut mendengar nya.
"Astaghfirullah...jadi maksud kakek Mukti,saat ini ingin menggugat rumah ini?"tanya Bahri, merasa terkejut.
"Iya"sahut kakek Mukti yang terlihat santai tak terlihat sedih sedikit pun.
"Ya Allah kek, jenazah nenek saja masih belum di makam kan, kakek justru ingin menggugat rumah ini?"ucap Bahri sedih,ia sungguh tak menyangka kakek Mukti bisa Setega itu.
"Justru sekarang di bahas nya Bahri, kalau nanti-nanti,bisa jadi kalian yang akan mengambil rumah ini,atau bisa saja kalian tiba-tiba menjual nya,kan yang akan rugi aku," sahut kakek Mukti, Bahri mengusap dadanya sambil geleng-geleng kepala, sungguh ia tak menyangka, ternyata kakek yang ia anggap baik ternyata sangat serakah dan gila harta.
"Tapi kek,nenek pernah bercerita ke pada saya,bahwa rumah ini adalah miliknya, dan akan di warisan kan untuk ibu,tapi karena ibu lebih dulu meninggal,maka rumah ini akan di berikan untuk kami berempat"sahut Bahri meluruskan.
"Itu kalau nenek mu masih hidup, sekarang kan sudah mati, sekarang aku tanya, apa ada kalian punya surat rumah ini atas nama kalian?"tanya Kakek Mukti, Bahri pun terdiam mendengar nya, karena ia tak memiliki surat rumah itu, nenek Idah hanya berucap saja,namun ia tak pernah memberikan atau pun menunjukkan surat rumah itu ke pada Bahri.
"Kenapa kamu diam..! pasti tidak ada kan? karena surat rumah ini ada di tangan ku,dan masih atas nama orang tua ku,jadi yang berhak atas rumah ini ada aku"ucap kakek Mukti,sambil melotot kan mata nya.
Nenek Idah dan kakek Mukti sebenar nya sudah mendapatkan hak masing-masing dari orang tua mereka,namun karena nenek Idah anak perempuan yang selalu merawat orang tua nya dan menjadi kesayangan mereka,maka nenek Idah mendapatkan warisan sama rata dengan kakek Mukti, kakek Mukti pun tak terima, ia merasa orang tua nya itu tidak adil dan pilih kasih,ia pun menjadi iri hati dan dendam pada nenek Idah, menurut nya hak laki-laki itu lebih banyak dari pada perempuan,ia pun ingin sekali mengambil hak nenek Idah,namun karena ia masih merasa takut dengan kakak nya,maka ia hanya diam saja,ia pun mencari-cari cara juga kesempatan jika ada celah untuk mengambil harta nenek Idah,dan apa yang di tunggu-tunggu kakek Mukti ternyata terwujud, nenek Idah pun meninggal dunia lebih dulu, ia pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merebut harta yang menurut nya itu adalah hak nya.
"Lalu apa mau kakek?"tanya Bahri, sambil meneteskan air mata nya,dada nya terasa sesak, hati nya terasa sakit melihat sifat asli adik kandung dari nenek nya itu yang hanya berpura-pura baik di depan saja.
"Aku mau, setelah pemakaman nenek kalian selesai,maka kalian semua.. harus angkat kaki dari rumah ini"sahut kakek Mukti.
Deg.
__ADS_1
Bahri, Diana dan Humairah pun langsung terkejut mendengar nya, mereka tak menyangka ternyata kakek Mukti bisa sekejam itu.
"Tapi kek, kalau kami angkat kaki dari sini,kami akan tinggal di mana?"tanya Diana sambil menangis dan terpukul.
"Itu urusan kalian,mau beli rumah baru kek, ngontrak kek atau mau numpang ke orang juga terserah, yang jelas ini sudah menjadi rumah ku"sahut kakek Mukti, istri nya pun ikut mengangguki nya.
"Kakek,saya mohon..jangan usir kami dari rumah ini, karena begitu banyak kenangan ayah,ibu dan nenek di rumah ini"ucap Bahri memohon.
"Iya kek,lagi pula.. kami ini kan cucu kakek, kenapa kakek tega mengusir kami"sahut Diana.
"Hai.. kalian itu cucu ka Idah, bukan cucu ku,jadi terserah aku"sahut kakek Mukti.
"Tapi kami ini cucu kakek juga, karena nenek adalah kakak kandung kakek "sahut Diana lagi.
"Tapi kaka ku sudah mati,jadi tidak ada hubungan nya lagi"sahut kakek Mukti dengan tega nya.
"Astaghfirullahal'azim"gumam Humairah merasa terkejut dan sedih.
"Ck..begini saja, kalau kalian tidak ingin pergi, sebaik nya kalian tebus saja rumah ini"ucap kakek Mukti sambil berdecak kesal.
"Bagai mana? apa kalian mau?"tanya kakek Mukti.
"Berapa yang harus kami tebus?"sahut Bahri.
"Kamu harus tebus rumah ini seharga 250 juta"ucap kakek Mukti.
Deg.
Bahri, Diana dan Humairah terkejut mendengar nya, begitu banyak tembusan yang kakek Mukti pinta, sedangkan mereka tak memiliki uang sebanyak itu.
"Apa..?ke.. kenapa sebanyak itu?"tanya Diana merasa shock mendengar nya.
__ADS_1
"Itu sudah harga kasihan, kalau harga tega, bisa saja aku minta 400 juta"sahut kakek Mukti, sambil menatap Bahri yang hanya terdiam.
"Kenapa diam? apa kamu tidak sanggup?" ucap kakek Mukti sambil tersenyum miring meremehkan Bahri.
"Kakek Mukti, tolong beri waktu saya untuk menyiapkan uang itu "sahut Bahri memberani kan diri.
"Baik lah,aku beri waktu sampai besok sore,jika tidak ada uang nya,maka bersiap-siaplah untuk angkat kaki "sahut kakek Mukti, Bahri hanya mengangguk kan kepalanya pelan,tubuh nya terasa lelah dan lemas,dada nya terasa sangat sesak, kepalanya pun tiba-tiba berputar dan ia pun langsung ambruk jatuh kelantai hingga tak sadarkan diri, untuk kedua kali nya ia pingsan.
"Mas Bahri..!"teriak Humairah dan langsung menolong suaminya.
"Kakak..!"teriak Diana, mendengar teriakkan Humairah dan Diana semua orang pun langsung mendatangi arah suara mereka dan langsung menolong dan mengangkat Bahri.
"Tolong panggil kan dokter..!"pinta Humairah ia begitu panik dan khawatir dengan kondisi suaminya, yang memang sejak tadi kurang sehat.
Yanur pun segera pergi memanggil dokter, setelah di periksa, ternyata tekanan darah Bahri sangat rendah,ia juga belum makan sejak pagi,di tambah lagi ia mengalami shock dan kesedihan yang berlebihan sehingga membuat kondisi Bahri semakin drop.
Setelah kejadian itu,kabar kakek Mukti menggugat rumah nenek Idah pun tersebar luas di telinga para tetangga, mereka pun ikut geram kepada kakek Mukti dan merasa sedih juga kasihan pada Bahri dan adik-adiknya.
"Kasihan sekali ya Bahri dan adik-adiknya, baru saja nenek Idah meninggal dan jenazah nya saja belum di kubur,eh.. adik nya sudah datang menggugat rumah nya"ucap para tetangga sambil berbisik-bisik.
"Iya ya... kasihan sekali mereka,dasar si kakek Mukti serakah dan tak punya hati nurani"sahut tetangga yang lain lagi, ikut geram.
"Semoga saja masalah mereka,bisa di selesaikan"sahut tetangga yang lain lagi mendo'a kan dan yang lain pun ikut mengaminkan.
...****************...
Bersambung...
jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiah nya ya ❤️
Dan baca terus episode-episode selanjut nya ☺️
__ADS_1
Terima kasih 🤗