JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
pengambilan hak


__ADS_3

Setelah semua para tetangga pulang,rumah pun menjadi sepi,dan juga sudah selesai di beres kan, mereka pun memutuskan untuk istirahat.


"Mas tidak tidur?"tanya Humairah.


"Sebentar lagi dek"sahut Bahri sambil membuka tasnya dan menghitung uang yang ia simpan, sebenarnya uang itu akan di gunakan nya untuk modal usaha nanti, jika suatu saat ia tak lagi bekerja di kapal bos haji Dulah,namun Allah berkehendak lain, akhirnya uang itu akan ia gunakan untuk menebus rumah nenek nya,itu pun masih kurang.


"Mas, sebenarnya saya punya tabungan, yang mungkin sedikit bisa menambah kekurangan uang mas"ucap Humairah berhati-hati agar suaminya tidak tersinggung,berlahan ia mengeluarkan uang yang ada di dalam tas nya, Bahri pun terkejut dan menatap haru istrinya.


"Tidak perlu dek,ini adalah uang tabungan mu, sebaiknya kamu simpan saja uang ini untuk keperluan mu"sahut Bahri menolak,ia merasa kasihan dan tak tega pada istrinya yang ikut menerima beban masalah keluarga nya.


"Mas, untuk saat ini saya tidak memerlukan uang ini,dan saya ikhlas memberikan nya ke pada mas,tapi maaf mas..!uang nya hanya ada 50 juta saja"ucap Humairah, Bahri pun langsung memeluk istrinya dan menangis.


"Terima kasih dek, maaf kan mas karena belum bisa membahagiakan mu"ucap Bahri merasa terharu.


"Iya mas, saya bahagia bersama mas, sekarang kita sama-sama berjuang ya mas"sahut Humairah sambil tersenyum, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum dan membelai lembut wajah cantik istri nya, yang membuat hati nya menjadi lebih tenang dan damai.


Keesokan harinya,benar saja kakek Mukti datang bersama istri,pak RT dan 2 orang saksi lain nya.


"Assalamu'alaikum"ucap kakek Mukti, menghampiri Diana yang sedang menjemur pakaian, Diana pun langsung terkejut dan panik melihat nya.


"Ya Allah, ternyata kakek Mukti benar-benar datang,dan akan mengambil rumah ini"batin Diana, sambil menatap kakek Mukti.


"Wa'alaikum salam kek"sahut nya.


"Mana Kaka mu si Bahri?"tanya kakek Mukti mencari.


"A..ada..kek"sahut Diana terbata.


Kakek Mukti dan yang lain pun langsung masuk ke dalam rumah tanpa di suruh.


"Bahri..!Bahri..!"panggil kakek Mukti dengan suara yang agak nyaring, mendengar suara kakek Mukti Bahri pun langsung keluar.


"Ka..!ada kakek Mukti, bersama istri dan 3 orang lain nya di luar "ucap Diana panik dan memberi tahu Bahri.


"Iya,kaka sudah tau dan mendengar suara teriakan nya dari tadi"sahut Bahri terlihat tenang.


"Tapi ka, kalau rumah ini jadi di ambil,kita harus pergi kemana?"tanya Diana merasa cemas.


"Sudah lah,kamu tak perlu cemas,sebaik nya kamu buat kan saja minuman untuk mereka" ucap Bahri sambil menyuruh Diana.


"Diana gak mau kak, mereka kan jahat..!jadi gak perlu di buat kan minum"sahut Diana kesal mengingat si kakek Mukti.


"Diana... mereka tamu,sudah sepantasnya tamu di buat kan minum, cepat sana buat kan"suruh Bahri,ia mengajar kan pada adik nya agar selalu baik dan tidak dendam pada orang, walau pun orang itu jahat pada nya.

__ADS_1


"Ck,iya..iya,tapi cuma 3 gelas aja ya,si kakek Mukti dan istri nya tidak usah,biar mereka suruh minum di rumah nya sendiri"sahut Diana sambil berdecak kesal,lalu segera pergi.


"Diana..!"panggil Bahri,


"Biar kan saja mas,nanti saya saja yang buat kan minum untuk kakek Mukti dan istri nya"ucap Humairah sambil tersenyum.


"Terima kasih dek"ucap Bahri.


"Iya mas"sahut Humairah sambil mengangguk kan kepalanya dan tersenyum.


Benar saja, Diana ternyata memang membuat kan minuman cuma 3 gelas saja,dan 2 gelas nya Humairah lah yang membuat nya.


"Bahri..! sesuai pembicaraan kita kemaren, bahwa rumah ini adalah hak ku,dan akan aku jual belikan ke pada mu,sekarang aku sudah membawa pak RT dan 2 saksi sebagai bukti"ucap kakek Mukti.


"Benar nak Bahri, sesuai isi surat yang kami baca,hak waris yang berhak mendapatkan warisan ini, jatuh ke pada bapak Mukti,karena surat ini belum di hibahkan atas nama nenek Idah dan masih tercantum atas nama orang tua nya"sahut pak RT, Bahri pun sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi,ia hanya pasrah dengan keputusan ini.


Dulu orang tua nenek Idah hanya memberikan amanat lisan saja,bahwa ia mewariskan atau menghibahkan rumah dan tanah itu untuk nenek Idah,tanpa di dasari hitam putih di atas kertas, sehingga tak ada bukti dan saksi hidup yang membenarkan bahwa rumah itu milik nenek Idah,nenek Idah yang tidak berpendidikan dan tidak mengerti tentang hukum,ia pun tak terpikir untuk membuat surat sertifikat hak atas namanya, sehingga hal itu lah yang membuat kakek Mukti berada di atas angin, dengan mudah ia bisa merebut harta milik nenek Idah.


"Assalamu'alaikum"ucap kakek Sukri yang tiba-tiba datang ke rumah Bahri.


"Wa'alaikum salam,mari silahkan masuk kakek Sukri "ucap Bahri menyambut nya.


"Lho.. kenapa pak Sukri juga ada di sini?" protes kakek Mukti tidak suka.


"Bahri..pak Sukri ini bukan siapa-siapa kita,jadi tidak ada hak dia ikut campur urusan kita"tolak kakek Mukti tak terima.


"Maaf kek, kakek Sukri ini adalah keluarga kami,dia kakek dari suami Diana, berarti dia juga kakek saya"sahut Bahri.


"Iya,benar apa kata Bahri,saya ini kakek mereka,dan saya bangga punya cucu seperti mereka, yang jelas saya akan selalu mengakui mereka sebagai cucu saya"sahut kakek Sukri menyindir.


"Kamu menyindir ku Sukri?"sahut kakek Mukti yang merasa tersinggung dan kesal dengan ucapan kakek Sukri, sedang kan kakek Sukri hanya tersenyum miring mendengar nya.


Dari dulu kakek Sukri sudah mempunyai firasat buruk pada kakek Mukti,namun ia hanya tetap diam dan menganggap itu hanya perasaan biasa saja,dan ternyata firasat nya memang terbukti benar benar.


"Kakek Mukti, sebenarnya saya hanya memiliki uang 200 juta saja saat ini"ucap Bahri, mengalihkan, karena suasana nya sudah mulai tidak nyaman, mendengar kata uang,kakek Mukti pun langsung menoleh dan tersenyum lebar pada Bahri.


"200 juta?baik lah...lalu kapan 50 juta nya lagi?"tanya kakek Mukti bersemangat.


"Begini kek, saya harap..kakek mau berbaik hati jika rumah ini di jual 200 juta saja, karena saya hanya memiliki uang segitu"ucap Bahri dengan sopan dan masih menghargai kakek Mukti sebagai orang tua.


"Bagai mana pak Mukti, apa anda mau?"tanya pak RT.


"Menurut saya,200 juta itu sudah sangat banyak, apa lagi untuk kekeluargaan, rumah bu Bayah saja yang sama luas nya dengan rumah ini cuma laku 150 juta"sahut kakek Sukri.

__ADS_1


"Iya betul itu pak Mukti, karena saya sendiri yang menjadi saksi jual beli rumah itu kemaren"sahut pak RT ikut membenarkan dan membela Bahri,ia merasa kasihan dan sedih melihat Bahri dan adik-adiknya saat ini.


"Kurang ajar...!pak RT kelihatan nya ikut berpihak ke pada Bahri, ini semua gara-gara si kakek tua Sukri itu yang ikut campur masalah ini,dan sekarang aku jadi terpojok"batin kakek Mukti merasa kesal.


"Baik lah..aku akan menerima uang 200 juta ini,tapi..ada syaratnya..!"ucap kakek Mukti.


"Apa syarat nya kek?"tanya Bahri penasaran.


"Aku mau..kamu memberikan aku satu ekor sapi yang besar dan sehat,bagai mana? syarat nya mudah kan..!"tanya kakek Mukti, Bahri pun terdiam mendengar nya,ia bingung dari mana ia mendapat uang untuk membeli sapi yang harganya lumayan mahal, kakek Sukri pun sangat geram mendengar syarat dari kakek Mukti itu.


"Baik lah,besok akan saya antar kan sapi itu ke rumah mu, dan saya ingin surat rumah ini di balik nama kan atas nama Bahri"sahut kakek Sukri, Bahri pun sangat terkejut mendengar nya.


"Ha...ha...ha...baik lah,besok kita akan resmi serah terima"sahut kakek Mukti tertawa bahagia mendengar nya.


"Dan sebagai bukti penyerahan uang,kami meminta bukti kwitansi nya"ucap kakek Sukri,pak RT pun ikut mengangguki nya dan langsung membuat kan bukti kwitansi yang di tanda tangani oleh pihak satu yaitu kakek Mukti dan pihak ke dua yaitu Bahri,dan uang pun segera berpindah tangan ke pada kakek Mukti, kakek Mukti dan istri nya pun melihat dan menghitung uang itu dengan mata yang berbinar dan senyum yang sangat lebar.


"Baik lah hari ini akan saya urus kan langsung surat-surat ini atas nama Bahri"ucap pak RT, yang merasa lega, akhirnya Bahri bisa mempertahankan rumah peninggalan nenek nya.


"Terima kasih pak RT"ucap Bahri merasa bersyukur sambil tersenyum.


Setelah selesai mereka pun langsung bergegas pamit pulang.


"Kakek Sukri..!"ucap Bahri yang hendak menanyakan syarat yang di setujui oleh kakek Sukri tadi.


"Kakek tau,kamu pasti ingin menanyakan soal sapi itu kan?"sahut kakek Sukri, Bahri pun mengangguk kan kepalanya.


"Kamu tenang saja,kakek punya peliharaan sapi 3 ekor,dan akan di berikan satu ekor kepada si tua Mukti itu"sahut kakek Sukri sambil tersenyum.


"Tapi kek, berapa harga sapi itu?saya akan membayar nya nanti, jika saya sudah memiliki uang"tanya Bahri, kakek Sukri pun tersenyum mendengar nya.


"Kamu tak perlu membayar nya nak, kakek akan memberikan nya untuk mu"sahut kakek Sukri.


"Tidak kek,ini tetap akan saya anggap sebagai hutang"sahut Bahri, kakek Sukri pun terkekeh mendengar nya.


"Anak keras kepala..!terserah kamu saja lah, mana nih kopi kakek?sejak tadi kopi kakek sudah habis"ucap kakek Sukri, Bahri pun tertawa mendengar nya.


"Diana..!buat kopi lagi buat kakek"teriak Bahri memanggil adiknya.


"Baik ka..!"sahut Diana dari dapur.


...****************...


Bersambung dulu ya...

__ADS_1


jangan lupa baca episode-episode selanjutnya ya, insya Allah akan semakin seru cerita nya ☺️


__ADS_2