JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU

JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU
Salah paham


__ADS_3

Tak terasa sudah setahun kepergian kyai, hampir setiap minggu Humairah selalu berziarah ke makam kyai,hal yang selalu Humairah rindu kan dan ia ingat adalah perhatian, kasih sayang dan nasehat dari kyai.


"Ibu...apa kakek di sana punya teman?"tanya Mei, putri Humairah yang berusia 2 tahun setengah.


"Iya nak,ada malaikat yang selalu menemani kakek di sana"sahut Humairah sambil tersenyum.


"Apa malaikat itu baik bu?"tanya Mei lagi


"Itu tergantung amal ibadah kita nak,jika amal ibadah kita banyak,maka malaikat nya baik,tapi jika amal kita kurang,maka malaikat nya akan jahat"sahut Humairah.


"Apa amal ibadah kakek banyak bu?"tanya Mei penasaran.


"Nak...kakek mu adalah orang yang baik dan rajin ibadah,ibu yakin amal ibadah kakek pasti banyak"sahut Humairah.


"Berarti malaikat kakek baik dong bu?"ucap Mei sambil tersenyum.


"Iya nak"sahut Humairah, Mei pun sangat senang mendengar nya.


"Ya sudah..yuk kita pulang, sebentar lagi Ayah mu pasti pulang,ibu mau masak buat Ayah" ajak Humairah,lalu mereka pun segera pulang ke rumah.


*


*


*


Di pasar, Bahri sedang mampir ke warung untuk membeli kue,di saat ia sedang memilih-milih kue, Bahri tak sengaja mendengar orang-orang sedang membicarakan keluarga nya.


"Teh manis satu bu...!"ucap bu Asih tukang kredit keliling.


"Iya..tunggu sebentar ya"sahut ibu warung.


"Kenapa bu asih?kok mukanya manyun begitu,biasa nya kalau habis datang tagihan muka nya sumringah bahagia,lah ini... malah cemberut,kaya cucian belum di setrika"ucap bu Ela sambil terkekeh meledek temannya.


"Jangan ngeledek deh...!hari ini aku lagi kesal banget"sahut ibu Asih sambil cemberut.


"Kesal kenapa bu Asih..?"tanya ibu warung, ikut bertanya.


"He'eh...kenapa bisa kesal?emang siapa yang udah bikin bu Asih kesal?"tanya bu Ela.


"Siapa lagi.. pelanggan yang kata nya banyak duit,tapi pas ngambil kreditan di aku,malah susah banget di tagih, banyaaakk...banget alasan nya,suami nya masih kerja lah,uang nya lupa minta lah,dan masih banyak lagi alasan lain,tau gitu..aku gak mau ngasih barang ke dia"ucap bu Asih memberi tahu.


"Emang nya siapa bu orang itu?"tanya Bu warung penasaran ingin tahu.


"Tuh...yang ada di rumah nenek Idah, siapa lagi, kalian pasti tau kan"sahut bu Asih memberi tahu, yang tanpa sadar sebenarnya dari tadi ada Bahri yang mendengar kan percakapan mereka, namun mereka tidak mengetahui nya dan tak melihat Bahri.


Deg.


Bahri terkejut mendengar nya,ia pun segera membayar kue yang di beli nya dan langsung pulang ke rumah,tanpa mendengar kan percakapan mereka selanjutnya.


"Oh...si Diana..! kalau itu sih,udah pada tau semua bu Asih,si tukang hutang dan si susah di tagih nya,hutang nya ada di mana-mana, siapa pun yang jualan kredit, pasti di hutangin nya"sahut bu Eli ikut geram.


"Iya, nyesel aku ngutangin dia,coba tau dari awal,gak bakalan aku mau,hah... sekarang apa boleh buat,dah terlanjur"sahut bu Asih pasrah, sambil menghembuskan nafas panjang.


"Yang sabar ya bu,semoga saja tuh orang cepat sadar,dan segera melunasi hutang-hutang nya"ucap ibu warung, dan di Amini oleh bu Asih.


"Aku heran...tuh orang bisa beli emas tiap bulan, terus suaminya kerja punya gajih besar,tapi bayar kreditan gak bisa"ucap bu Ela.


"Bukan gak bisa bu,tapi emang gak mau bayar, malahan tadi pas aku kerumah nya, orang nya justru tidak ada,lalu aku tanya deh sama istri nya Bahri, dia juga ternyata tidak tau"sahut bu Asih kesal.


*


*


*

__ADS_1


Di rumah.


Setelah Bahri mendengar percakapan ibu-ibu yang di warung tadi,ia pun pulang ke rumah dengan tergesa-gesa.


"Assalamu'alaikum"ucap Bahri, langsung masuk dan mencari Humairah istri nya.


"Mana ibu Mei?"tanya Bahri.


"Ibu di dapur lagi masak yah"sahut Mei memberi tahu.


Bahri memberi kan kue yang ia beli tadi ke pada anak nya,dan segera mendatangi istri nya di dapur.


"Mas sudah pulang,..!apa mas mau makan sekarang?saya baru saja selesai memasak"ucap Humairah bertanya pada suaminya, sambil tersenyum.


"Mas ingin menanyakan sesuatu pada mu,dan mas harap,kamu jawab dengan jujur dek"ucap Bahri, sambil menatap datar istri nya, Humairah pun mengerutkan alisnya bingung melihat suami nya yang tiba-tiba berubah dingin.


"Mas mau tanya apa?"ucap Humairah, berusaha tenang dan biasa saja.


"Apa ibu Asih,si tukang kredit barang keliling itu baru dari sini?"tanya Bahri.


"Iya benar mas,tadi bu Asih ingin men..-"perkataan Humairah terhenti karena Bahri langsung saja memotong nya.


"Menagih hutang kan..?"tanya Bahri, sambil menatap dingin istri nya, Humairah pun mengangguk kan kepalanya.


"Iya mas,kok mas tau..?tadi saya sempat bilang pada bu Asih,kalau D..-"perkataan Humairah pun lagi-lagi di potong oleh Bahri.


"Kalau duit nya tidak ada, karena suami mu lagi bekerja, itu kan yang kamu bilang"sahut Bahri mulai emosi, Humairah pun semakin bingung dengan arah bicara suaminya.


"Kenapa kamu melakukan itu dek...? kenapa kamu mempermalukan mas..! orang-orang di luar sana, sibuk menggunjing mu, karena kamu suka hutang sana sini"ucap Bahri marah dan kecewa pada istri nya, Humairah pun langsung melongo mendengar nya,ia terkejut dengan apa yang di tuduh kan suami nya pada nya.


"Mas,ini bukan yang seperti mas kira,mas sudah salah paham"ucap Humairah mencoba menjelaskan,mata nya pun sudah mulai berkaca-kaca hendak menangis.


"Salah paham bagai mana..?mas mendengar dengan kedua telinga mas sendiri,pas tadi di warung bu Asih dan yang lain sedang membicarakan mu"sahut Bahri marah-marah.


"Astaghfirullahal'azim mas, apa mas lebih percaya orang lain, dari pada istri mas sendiri?"tanya Humairah kecewa sambil meneteskan air mata nya.


"Tapi kalau kenyataan nya, apa yang mas dengar itu salah bagai mana?"tanya Humairah,ia berusaha membela diri nya sendiri, karena kenyataannya ia tidak pernah berhutang, namun justru malah di tuduh dan di salah kan oleh suaminya.


"Apa mas langsung bertanya pada bu Asih, kalau saya yang berhutang?"tanya Humairah lagi, Bahri pun terdiam mendengar nya, benar kata istri nya, setelah mendengar percakapan mereka, Bahri justru langsung pergi,dan tidak terpikirkan oleh nya untuk bertanya, siapa orang yang telah berhutang kepada bu Asih, Bahri pun menggeleng kan kepalanya.


"Mas,bu Asih datang ke sini,untuk menagih utang pada Diana, karena Diana lah yang membeli barang kreditan pada bu Asih"ucap Humairah memberi tahu, Bahri pun terkejut mendengar nya.


"Kalau Diana yang berhutang, kenapa bu Asih datang nya ke rumah ini,tidak langsung ke rumah Diana?"tanya Bahri,ia merasa tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Humairah.


"Itu karena Diana nya tidak ada di rumah mas,dan bu Asih ke sini.. ingin menanyakan keberadaan Diana"sahut Humairah jujur.


"Dek, kenapa kamu menutupi kesalahan mu dengan menuduh Diana..?mas tau betul sifat Diana,ia tidak pernah berhutang-hutang sejak dari kecil,asal kamu tau..!kami di didik oleh Ayah dan ibu sejak kecil untuk tidak berhutang-hutang,mas kecewa pada mu dek" bentak Bahri yang justru tambah marah pada Humairah, seketika itu juga Humairah memilih diam dan langsung pergi ke kamar sambil menangis,ia merasa sangat kecewa dan sakit hati atas apa yang di katakan oleh suaminya, menurut nya percuma saja menjelaskan panjang lebar, kalau akhirnya suami nya justru tidak percaya dan menuduh dirinya lah yang berhutang.


Di kamar Humairah menangis tersedu-sedu,ia pun langsung teringat dengan wajah Abah nya.


"Abah... Humairah rindu Abah, hanya Abah yang selalu percaya pada Humairah, hanya Abah yang tak pernah membentak Humairah hiks...hiks.."gumam Humairah sambil menangis.


Di saat Humairah sedang bersedih di kamar, Bahri justru pergi meninggalkan Humairah keluar rumah, pikiran nya saat ini sedang kalut,ia merasa kecewa pada istri nya, yang menurut nya sedang membohongi nya,di tambah lagi istri nya itu menuduh adik kesayangan nya yang melakukan itu,sambil berjalan tiba-tiba ada yang memanggil Bahri.


"Nak Bahri..!!!"teriak ibu Fatimah, Bahri pun langsung menoleh ke arah yang memanggil nya.


"Bu Fatimah?"ucap Bahri.


"Nak Bahri,bisa kah kamu menolong ibu? untuk membawakan barang belanjaan ibu,saking banyaknya... ibu sampai kewalahan membawakan nya"keluh ibu Fatimah yang habis dari pasar, sambil tersengal-sengal nafas nya, Bahri pun terkekeh melihat nya.


"Baik bu,sini biar saya yang angkat belanjaan ibu semua"sahut Bahri,ibu Fatimah pun merasa sangat senang.


"Terima kasih ya nak"ucap ibu Fatimah, sambil tersenyum, Bahri pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.


Sambil berjalan mereka pun mengobrol.

__ADS_1


"Tumben ibu ke pasar sendirian?"tanya Bahri sambil berjalan dan menenteng belanjaan bu Fatimah.


"Iya,suami ibu lagi kerja,tadi nya ibu ngajakin istri mu Humairah ke pasar,tapi ternyata dia udah belanja,jadi nya ibu belanja sendiri deh..! awal nya ibu mau belanja sedikit aja,tapi ibu malah hilaf belanja nya"sahut ibu Fatimah terkekeh sendiri, sedang kan Bahri hanya tersenyum mendengar nya.


"Oya... tadi pas ibu di rumah mu,ada bu Asih datang,dia marah-marah dengan istri mu" ucap bu Fatimah memberi tahu, wajah Bahri pun langsung berubah mendengar nya.


"Iya bu, saya sudah tau,bu Asih datang mau menagih hutang"sahut Bahri sedih.


"Jadi kamu sudah tau..?"tanya bu Fatimah, terkejut, Bahri pun mengangguk kan kepalanya.


"Syukur lah kalau kamu sudah tau,apa kamu langsung menegur D...-"ucap ibu Fatimah terhenti karena di potong langsung oleh Bahri.


"Sudah bu, bahkan saya sudah memarahinya"sahut Bahri.


"Syukur lah,ibu sudah lama ingin memberi tahu mu, namun Humairah selalu saja meminta untuk merahasiakan nya,kata nya kasihan nanti kamu sedih"ucap bu Fatimah.


"Kasihan...?bu,kalau dia kasihan pada saya, seharusnya dia jujur dan tidak berhutang-hutang"sahut Bahri protes,ibu Fatimah pun bingung mendengar nya.


"Berhutang-hutang..? siapa yang kamu maksud?"tanya bu Fatimah.


"Humairah.. istri saya,dia sudah berbohong dan berhutang-hutang ke sana kemari, saya malu bu... apa lagi ibu tau sendiri kerjaan saya hanya serabutan,tapi kenapa dia tidak peduli dengan perasaan saya"keluh Bahri,bu Fatimah pun langsung berhenti berjalan dan melongo mendengar nya.


"Jadi kamu pikir yang berhutang itu istri kamu?"tanya bu Fatimah sambil menatap Bahri, Bahri pun mengangguk kan kepalanya.


"Iya bu,memang istri saya kan yang berhutang itu"sahut Bahri.


"Astaghfirullah Bahri, jadi kamu juga sudah memarahi istri kami?"tanya bu Fatimah, Bahri pun mengangguk kan kepalanya,bu Fatimah pun langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Memang nya kenapa bu?"tanya Bahri bingung.


"Bahri, istri kamu itu tidak salah,ia orang baik dan tidak pernah berhutang-hutang, justru adik kamu lah si Diana yang suka hutang sana sini"ucap bu Fatimah memberi tahu.


"Bu... tidak mungkin Diana berbuat seperti itu" sahut Bahri tak percaya,bu Fatimah pun langsung ternganga mendengar nya.


"Astaghfirullahal'azim Bahri...!buka mata mu,apa kamu tidak pernah dengar, orang-orang sudah banyak yang tau dan membicarakan nya"sahut bu Fatimah,tak habis pikir dengan Bahri.


Dari kejauhan bu Fatimah melihat bu Asih sedang menuju ke arah mereka, dengan segera bu Fatimah langsung memanggil dan menarik tangan Bahri untuk menghampiri bu Asih.


"Sini ikut ibu,biar kamu tau kebenaran nya"ucap bu Fatimah merasa gemas dengan Bahri yang masih kekeh tidak percaya.


"Bu Asih, tunggu...!!!"panggil bu Fatimah.


"Ada apa ya bu Fatimah?"tanya bu Asih bingung, melihat bu Fatimah sedang menarik-narik Bahri.


"Bu Asih, sekarang saya mau tanya,tadi siang bu Asih datang ke rumah nenek Idah ngapain?"tanya bu Fatimah.


"Ya mau nagih hutang lah bu.."jawab bu Asih.


"Hutang siapa..?"tanya bu Fatimah lagi.


"Hutang nya Diana..!dia sudah 2 bulan gak bayar-bayar sama saya,tadi pas saya tanya Humairah,kata nya dia gak tau dimana Diana nya "sahut bu Asih memberi tahu,bu Fatimah pun langsung menatap tajam Bahri.


"Saya permisi dulu ya bu Fatimah, mau nagih hutang ke lain lagi"ucap bu Asih pamit.


"Oiya.. terima kasih bu Asih"sahut ibu Fatimah sambil tersenyum ramah, setelah itu iya pun langsung menatap Bahri lagi.


"Sudah jelas...? apa kamu sudah percaya?" tanya bu Fatimah marah, Bahri pun hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya,ia merasa bersalah pada istrinya.


"Aaww...bu ampun...!!!"jerit Bahri kesakitan, karena sebelah telinga nya di jewer oleh bu Fatimah.


"Tunggu apa lagi...?sekarang kamu pulang dan minta maaf pada istri mu, pasti saat ini dia sedang menangis dan bersedih"suruh ibu Fatimah kesal, Bahri pun hanya mengangguk kan kepalanya, sambil mengusap telinga nya yang terasa perih, dan segera pulang.


...****************...


Bersambung dulu ya...

__ADS_1


Tinggal kan jejak kalian dengan beri bintang dan tekan favorit nya🤗


__ADS_2